Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Derita Sunyi Anak Gaza, Siapa yang Mampu Menghentikan?


Topswara.com -- Kondisi buruk yang mendera Gaza tiada henti tidak hanya menghancurkan fisik, tetapi juga mental penduduknya, termasuk anak-anak yang masih rentan. Mereka mengalami trauma parah hingga banyak yang ‘menarik diri’ dari dunia. Anak-anak malang ini berhenti berbicara. Namun, sikap diam itu bukan pilihan, melainkan terpaksa karena penderitaan luar biasa yang mereka rasakan.

Inilah yang dikonfirmasi oleh psikoterapis anak dari Norwegia, Katrin Glatz Brubakk ketika diwawancarai oleh BBC Mundo. Katrin sendiri telah melakukan dua misi kemanusiaan ke Gaza pada 2024 dan 2025 bersama Medecins Sans Frontieres (MSF), untuk melayani anak-anak yang kehilangan kemampuan berbicara akibat konflik. 

Ia menyebutkan bahwa tingkat trauma dan kehancuran yang terjadi di Gaza tidak sebanding dengan apa pun. Katrin juga mengatakan bahwa tidak ada anak di Gaza yang tidak mengalami trauma. Ada lebih dari satu juta anak yang menderita trauma parah di sana. Salah satunya adalah Adam, seorang bocah yang ketika menginjak usia lima tahun mendadak berhenti berinteraksi dengan dunia. (bbc.com, 29-5-2026) 

Ada banyak bocah seperti Adam di Gaza. Mereka kehilangan kemampuan berbicara akibat kekerasan, kehancuran, dan kematian yang terjadi di Gaza. Dahsyatnya kerusakan di Gaza telah memberikan luka yang seolah tak kelihatan, tetapi nyata. 

Luka mental ini sama parahnya dengan luka fisik. Luka fisik mungkin dapat segera pulih dalam beberapa waktu kemudian, tetapi luka mental dapat bertahan lebih lama dan lebih kompleks penyembuhannya. Bahkan, trauma yang dialami anak-anak Gaza ini akan terus membayangi hidup mereka.

Trauma berat yang menyebabkan anak-anak itu kehilangan kemampuan berbicara merupakan dampak dari kejahatan entitas Zionis Yahudi Israel. Tindakan tak beradab Israel selama bertahun-tahun tidak hanya menyebabkan hancurnya infrastruktur dan hilangnya nyawa jutaan nyawa penduduk, tetapi juga trauma mendalam. 

Israel tidak hanya melakukan genosida, tetapi juga berupaya menghancurkan psikologis mereka yang masih hidup. Tidak satu sisi pun di Gaza yang dibiarkan aman oleh Israel. Zionis Israel tidak hanya menduduki tanah rakyat Palestina, tetapi juga melenyapkan setiap denyut kehidupan di sana tak bersisa hingga Israel menjadi satu-satunya yang hidup dengan segala cara.

Kejahatan Israel ini begitu nyata. Kerusakan parah di Gaza bukan ilusi. Lenyapnya jutaan jiwa penduduk juga bukan angka rekayasa. Hancur leburnya Gaza disaksikan oleh mata dunia. Namun, sayangnya, dunia tak berdaya menghentikan kejahatan Israel. 

Dunia hanya sebatas mengecam, mengutuk, dan retorika. Bantuan materi diberikan, tetapi itu seperti memperpanjang kehidupan untuk kemudian dimangsa oleh Israel dengan lebih kejam. Israel sebagai sumber kerusakan tidak pernah sekali pun ditangkap atau dihukum. Penjajah Israel masih terus melenggang bebas dengan dukungan negara adidaya.

Sementara itu, para penguasa muslim juga tak dapat diharapkan karena mereka lebih tunduk pada titah tuannya, yakni Amerika. Mereka takut kehilangan kekuasaannya bila membela saudara-saudaranya. 

Mereka justru bergabung di barisan musuh yang telah menzalimi saudara mereka sendiri. Para penguasa muslim itu telah melakukan pengkhianatan tatkala mereka mengamini garis kebijakan yang ditetapkan oleh Amerika yang notabene pendukung utama Israel.

Derita sunyi anak Gaza harus segera diakhiri. Terapi memang bisa membantu untuk pulih meski butuh waktu dan proses. Namun, ada yang lebih darurat dari itu, yakni menyingkirkan si penyebab trauma yang tak lain adalah Zionis Yahudi Israel. 

Dengan lenyapnya sumber masalah ini, maka anak-anak Gaza dan seluruh penduduk lainnya akan terbebas dari rasa sakit, ketakutan, dan trauma yang selama ini mendera mereka.

Untuk itu, yang harus dilakukan adalah melaksanakan perang atau jihad fisabilillah mengusir Isarel dari tanah kaum muslimin. Hal ini hanya dapat dilakukan ketika ada institusi negara yang memerintahkan pasukan muslim untuk memerangi Israel. 

Keberadaan institusi ini adalah khilafah yang berdiri di atas manhaj kenabian yang menjalankan amanahnya sebagai pelindung dan perisai sekaligus pemersatu. Dengan tegaknya khilafah, jihad akan dilancarkan untuk menyingkirkan segala hal yang dapat membahayakan umat.

Karena itu, kesadaran akan pentingnya keberadaan Khilafah sebagai solusi masalah Palestina, Gaza, dan penderitaan yang menimpa seluruh umat Islam lainnya harus terus disuarakan dan dibangun. Inilah solusi syar’i yang harus kita ambil. 

Solusi ini tidak hanya membebaskan saudara-saudara kita yang teraniaya di berbagai belahan dunia saat ini, tetapi juga wujud ketaatan kita sebagai umat Rasulullah Muhammad saw. dan hamba Allah SWT.

Maka dari itu, persatuan umat Islam adalah keniscayaan agar solusi yang diamanahkan syariat dalam mengatasi berbagai problem dapat terealisasi. Dengan bersatu di bawah naungan Khilafah Islamiah, umat Islam akan kuat menghadapi apa pun hingga meraih kemuliaannya.


Oleh: Nurcahyani 
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar