Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Derita Sunyi Anak Gaza dan Hilangnya Perisai Umat


Topswara.com -- Laporan psikoterapis anak asal Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, mengungkap fakta yang sangat memilukan. Lebih dari satu juta anak Gaza mengalami trauma berat akibat agresi yang terus berlangsung. Bahkan sebagian anak kehilangan kemampuan berbicara karena tekanan psikologis yang luar biasa. 

Mereka hidup di tengah pengeboman, kehilangan keluarga, kelaparan, dan ketakutan yang tak berkesudahan. Katrin telah melakukan dua misi kemanusiaan ke Gaza pada 2024 dan 2025 bersama Medecins Sans Frontieres (MSF), untuk melayani anak-anak yang kehilangan kemampuan berbicara (kompas.com, 30/05/2026).

Derita sunyi anak-anak Gaza merupakan dampak langsung dari kejahatan entitas Zionis yang terus menyerang, membunuh, dan menghancurkan Gaza. Skenario genosida yang berlangsung tidak hanya menargetkan fisik rakyat Palestina, tetapi juga kondisi mental mereka. 

Anak-anak yang seharusnya tumbuh dengan harapan justru dibesarkan dalam trauma dan kehilangan. Dunia menyaksikan semuanya, tetapi penderitaan itu tetap berlanjut dari hari ke hari.

Padahal Islam sangat memuliakan nyawa manusia. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Maidah ayat 32 bahwa siapa yang membunuh satu jiwa tanpa alasan yang benar, seakan-akan ia telah membunuh seluruh manusia, dan siapa yang menjaga satu jiwa, seakan-akan ia telah menjaga seluruh manusia. 

Rasulullah SAW juga bersabda, “Hancurnya dunia dan seisinya lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang mukmin.” Jika satu nyawa begitu berharga di sisi Allah, bagaimana dengan ribuan nyawa yang direnggut dan jutaan manusia yang diteror setiap hari di Gaza?

Lebih menyakitkan lagi, dunia terbukti tidak mampu menghentikan kejahatan ini. Lembaga internasional hanya menghasilkan kecaman, resolusi, dan bantuan kemanusiaan yang terbatas. 

Harapan bahwa lembaga-lembaga tersebut akan membebaskan Palestina hanya ilusi. Sementara itu, banyak penguasa negeri muslim justru rela menjadi sekedar penonton.

Akar persoalan Palestina adalah umat Islam telah kehilangan perisai yang melindungi mereka, yaitu Khilafah Islam. Rasulullah SAW. bersabda, “Sesungguhnya imam adalah perisai. Umat berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” 

Hadis ini menunjukkan bahwa keberadaan kepemimpinan Islam berfungsi menjaga darah, kehormatan, dan keamanan kaum muslimin. Ketika perisai itu hilang, umat menjadi tercerai-berai dan mudah menjadi sasaran kezaliman.

Karena itu, derita anak-anak Palestina tidak cukup diakhiri dengan terapi dan bantuan kemanusiaan semata. Yang harus diakhiri adalah penjajahan atas negeri mereka. Palestina membutuhkan pembebasan yang nyata agar anak-anaknya dapat hidup aman dan merdeka. Selama penjajahan tetap berlangsung, trauma baru akan terus lahir dan penderitaan tidak akan pernah berakhir.

Dalam pandangan Islam, kejahatan terhadap Palestina harus dilawan dengan jihad fi sabilillah yang dipimpin oleh kepemimpinan Islam yang sah. Untuk itulah dibutuhkan institusi khilafah yang mampu menyatukan potensi kaum muslimin dan mengerahkan kekuatan untuk melindungi umat serta membebaskan wilayah yang terjajah. Hanya dengan perisai inilah darah kaum muslimin dapat dijaga dan kehormatan mereka dapat dibela.

Jihad dan khilafah adalah bagian dari syariat Islam. Keduanya adalah syariat yang agung dan telah dibahas dalam berbagai kitab fiqih. Sebab hanya dengan jihad musuh bisa dikalahkan dan hanya dengan khilafah syariat bisa diterapkan. Islam bukan hanya urusan ibadah dan akidah saja. Islam mengatur semua sebab Ia adalah sebuah ideologi.

Kesadaran untuk memperjuangkan tegaknya syariat Islam secara kaffah dan terwujudnya khilafah bukan sekadar wacana politik, melainkan kebutuhan mendesak bagi persatuan dan perlindungan umat. Gaza telah menunjukkan betapa mahal harga yang harus dibayar ketika umat kehilangan perisainya. 

Sudah saatnya kaum muslimin mengarahkan perhatian mereka kepada agenda besar mengembalikan kehidupan Islam agar penjajahan dapat diakhiri, Palestina dibebaskan, dan nyawa manusia benar-benar terlindungi sebagaimana yang Allah SWT perintahkan. []


Oleh: Nurjannah S.
(Aktivis Muslimah)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar