Topswara.com -- Konflik di Palestina, khususnya Gaza, telah menghadirkan luka kemanusiaan yang sangat dalam. Ribuan warga sipil menjadi korban, tak terkecuali perempuan dan anak-anak. Pemukiman hancur, fasilitas kesehatan dan publik rusak parah bahkan lumpuh.
Warga Gaza bertahan hidup di tenda-tenda pengungsian dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Di balik situasi ini ada sesuatu yang juga mengerikan selain genosida yaitu dehumanisasi terhadap rakyat Palestina.
Gaza dan Dehumanisasi
Dehumanisasi adalah proses penghilangan harkat manusia kbbi.web.id/dehumanisasi). Tindakan ini terjadi ketika seseorang atau sekelompok orang tidak lagi memanusiakan manusia lainnya.
Manusia tidak lagi dipandang sebagai manusia yang memiliki hak hidup, rasa aman, dan martabat namun sebaliknya diperlakukan sebagai benda, mesin bahkan hewan. Dehumanisasi kerap terjadi misalnya dalam kasus human trafficking, di dunia kerja atau pendidikan.
Saat ini dehumanisasi juga terjadi di Palestina. Dalam konflik Palestina, kondisi ini tampak dari terus bertambahnya korban sipil, penyerangan terhadap wilayah pemukiman, fasilitas kesehatan, hingga sulitnya akses bantuan kemanusiaan.
Warga Gaza misalnya makin dibuat terdesak dengan serangan bertubi-tubi yang dilakukan militer Israel. Bahkan dalam masa gencatan senjata pun pasukan Israel terus melakukan penyerangan.
Anak-anak pun menjadi kelompok yang paling merasakan dampak tragedi ini. Banyak dari mereka harus kehilangan keluarga, rumah, bahkan anggota tubuh akibat perang. Bahkan Gaza miliki jumlah anak amputee (anak yang bagian tubuhnya diamputasi) tertinggi di dunia dan mereka menjalani operasi tanpa anestesi.
Cedera ini mengubah hidup mereka dan akan membutuhkan layanan rehabilitasi jangka panjang. Anak-anak Gaza kehilangan masa kecil yang seharusnya dipenuhi rasa aman. Penjajahan telah merubah situasi menjadi ketakutan, trauma berkepanjangan dan telah menghancurkan masa depan.
Tak hanya itu, hal yang lebih mengiris hati adalah saat warga Israel mendesak salah satu keluarga Palestina membongkar makam ayahanda mereka beberapa saat setelah jenazah dikuburkan. Alasannya karena letak makam berdekatan dengan pemukiman warga Israel.
Sempat terjadi konfrontasi namun akhirnya makam tetap dibongkar dan jenazah dipindahkan karena IDF ikut mengintimidasi dan mengancam mereka.
Para pemukim Israel di Tepi Barat pun nyaris setiap hari melakukan kekerasan seperti vandalisme, pembakaran, pengusiran paksa, penyerangan fisik, hingga menggunakan senjata api terhadap warga Palestina. Semua ini menunjukkan betapa penderitaan tidak berhenti meskipun seseorang telah meninggal dunia.
Di sisi lain, para jurnalis yang berusaha menyampaikan kondisi Gaza kepada dunia tak luput dari ancaman besar. Banyak jurnalis dilaporkan tewas saat bertugas meliput berita. Bahkan mereka menjadi target serangan udara militer Israel atas tuduhan menjadi bagian dari sel militan Hamas. Tuduhan tersebut dibantah oleh kantor berita tempat para jurnalis ini bekerja.
Padahal, keberadaan pers sangat penting agar dunia mengetahui realitas yang terjadi di Palestina. Ketika suara para jurnalis dibungkam, maka masyarakat internasional semakin sulit mendapatkan informasi tentang penderitaan warga sipil secara utuh.
Ukhuwah Islamiyah: Jalan Pembebasan
Situasi ini memunculkan pertanyaan besar tentang peran dunia internasional dari negara-negara muslim. Banyak masyarakat merasa bahwa respons global ternyata sampai saat ini belum cukup kuat untuk menghentikan penderitaan rakyat Palestina.
Solidaritas kemanusiaan seharusnya tidak berhenti pada pernyataan belasungkawa, kecaman, aksi boikot, donasi, bantuan kemanusiaan, tekanan diplomatik dan perlindungan warga sipil.
Apalagi menggantungkan dukungan terhadap penyelesaian yang adil melalui Board of Peace (BoP) yang diinisiasi Barat. Dehumanisasi yang terus menerus terjadi, genosida yang telah terang benderang tampak di depan mata dunia ini menuntut untuk solusi yang lebih tajam dan komprehensif.
Tragedi Gaza adalah ujian bagi nurani dunia. Ketika manusia mulai kehilangan rasa empati terhadap penderitaan orang lain, maka kemanusiaan sedang berada dalam bahaya. Palestina mengingatkan dunia bahwa setiap manusia, tanpa memandang bangsa dan agama, memiliki hak untuk hidup dengan aman, bermartabat, dan bebas dari ketakutan.
Khususnya bagi umat Islam, Palestina memiliki makna historis dan spiritual yang mendalam. Rasa peduli terhadap Palestina adalah bagian dari ukhuwah karena umat Islam ibarat satu tubuh. Pembebasan Palestina membutuhkan ukhuwah islamiyah yang kuat berlandaskan akidah Islam yang terwujud dalam persatuan umat Islam sedunia.
Persatuan tersebut dapat diwujudkan di bawah kepemimpinan Islam. Umat Islam perlu meyakini bahwa persatuan politik umat melalui kepemimpinan Islam global dapat menjadi salah satu jalan untuk memperkuat solidaritas dan perlindungan terhadap Palestina.
Kepemimpinan Islam diyakini dapat menjadi salah satu kekuatan untuk menghentikan pendudukan, dehumanisasi, dan berbagai bentuk kekerasan terhadap rakyat Palestina. Kepemimpinan Islam akan mengembalikan hak rakyat Palestina untuk hidup merdeka, aman, dan bermartabat di tanah mereka sendiri. []
Oleh: Amalia Roza Brillianty, S.Psi., M.Si.,Psi
(Psikolog)

0 Komentar