Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Tata Kelola BBM Kapitalistik Rakyat Makin Tercekik


Topswara.com -- Kenaikan harga BBM kembali menjadi kabar yang menyesakkan bagi masyarakat. Harga Pertamax yang naik menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green menjadi Rp17.000 per liter menambah beban ekonomi yang harus ditanggung rakyat. 

Alasan Klasik 

Pemerintah beralasan bahwa kenaikan tersebut tidak dapat dihindari karena mengikuti perkembangan harga minyak dunia yang terus menguat akibat konflik yang terjadi di Timur Tengah.

Namun, di balik alasan tersebut, terdapat persoalan mendasar yang patut dipertanyakan. Mengapa rakyat Indonesia yang hidup di negeri kaya sumber daya energi harus terus menjadi pihak yang menanggung dampak fluktuasi pasar global?

Menurunnya Daya Beli

Kenaikan harga Pertamax hampir pasti berimbas pada menurunnya daya beli masyarakat. Di tengah tekanan ekonomi yang berat, masyarakat dipaksa mengalokasikan pengeluaran lebih besar untuk kebutuhan transportasi. 

Efek berantainya pun tidak dapat dihindari. Biaya distribusi barang berpotensi meningkat, harga kebutuhan pokok terdorong naik, dan tekanan terhadap ekonomi rumah tangga semakin berat.

Di sisi lain, lonjakan harga Pertamax mendorong banyak kalangan menengah untuk beralih ke Pertalite. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat makin sulit mempertahankan pola konsumsi yang sebelumnya dianggap wajar. Kelas menengah yang selama ini menjadi penopang ekonomi nasional justru semakin terhimpit oleh kebijakan yang membuat biaya hidup terus meningkat.

Paradigma Kapitalistik

Persoalan ini bukan sekadar masalah teknis. Penetapan harga BBM ini, buah dari paradigma kapitalistik dalam pengelolaan energi. Dalam sistem kapitalisme, BBM dipandang sebagai komoditas ekonomi yang harganya mengikuti mekanisme pasar dan pertimbangan keuntungan. 

Akibatnya, rakyat selalu berada pada posisi yang rentan ketika terjadi gejolak harga minyak dunia. Paradigma seperti ini menjadikan negara hanya sebagai regulator dibanding pengurus rakyat. Ketika harga minyak dunia naik, rakyat diminta memahami kondisi pasar. 

Namun ketika sumber daya energi menghasilkan keuntungan besar, manfaatnya tidak sepenuhnya kembali kepada rakyat dalam bentuk kemudahan akses energi yang murah.

Kondisi tersebut juga memperlihatkan lemahnya kedaulatan energi Indonesia. Negeri yang memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah justru masih sangat bergantung pada dinamika pasar global. Akibatnya, stabilitas harga energi dalam negeri mudah terguncang oleh konflik dan kepentingan negara lain.

Meluruskan Paradigma
 
Biang persoalan ini terletak pada kesalahan paradigma pengelolaan sumber daya energi. Islam memandang bahwa sumber daya energi seperti minyak dan gas merupakan harta milik umum yang menjadi hak seluruh rakyat. Karena itu, negara tidak boleh menyerahkan pengelolaannya kepada para pemilik kapital yang berorientasi hanya pada keuntungan.

Negara wajib mengelola sumber daya energi secara langsung untuk sebesar-besarnya kemaslahatan masyarakat. Hasil pengelolaan tersebut harus dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk pelayanan dan kemudahan akses, termasuk penyediaan BBM dengan harga yang sangat murah, bahkan memungkinkan tanpa orientasi keuntungan komersial.

Sumber energi merupakan harta milik umum. Negara hanya diberikan kewenangan untuk mengelola dan hasilnya masuk ke dalam pengelolaan baitulmal. Dengan mekanisme ini, sumber daya energi tidak menjadi alat bisnis yang membebani rakyat, tetapi menjadi instrumen untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan masyarakat.

Solusi Hakiki

Karena itu, solusi mendasar atas persoalan BBM bukan sekadar menunda kenaikan harga atau memberikan subsidi sementara. Solusi hakiki adalah mengubah paradigma pengelolaan energi dari paradigma kapitalistik menuju paradigma Islam yang menempatkan sumber daya energi sebagai hak rakyat. 

Dengan kedaulatan energi yang kuat dan pengelolaan berbasis syariah, kebutuhan BBM masyarakat dapat terpenuhi tanpa harus terus-menerus dibayangi kenaikan harga yang mencekik kehidupan mereka.

Pada akhirnya, kenaikan harga Pertamax kembali menunjukkan bahwa selama energi diperlakukan sebagai komoditas ekonomi dalam sistem kapitalisme, rakyat akan terus menjadi pihak yang menanggung beban. 

Penerapan Islam kaffah akan mampu menghadirkan pengelolaan energi yang akan berpengaruh pada ketersediaan energi murah bagi rakyat.

Waallahu A'lam bishawwab.


Oleh: Siti Sulistiyani 
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar