Topswara.com -- Menyikapi banyak ibu-ibu yang merasa minder, rendah diri, dianggap tidak memiliki kontribusi ekonomi bagi keluarga dan merasa tidak mulia, tidak memiliki sesuatu yang dibanggakan, Mubalighah Kota Depok, Ustazah Lis Karim menyampaikan setidaknya ada tiga peran Ibu dalam Islam.
Hal tersebut diungkapnya dalam Forum Kajian Keluarga Sakinah, Ibu Tangguh Penyelamat Generasi, Ahad (17/05/2026) di Depok.
Berikut ketiga peran tersebut yakni: Pertama, sebagai hamba Allah. Imam Syafi'i mengatakan, lanjutnya, kewajiban pertama mukallaf adalah ma'rifatullah (mengenal Rabb-Nya).
“Seorang ibu harus memiliki keimanan yang kuat. Menjalani hidup ini untuk beribadah kepada Allah. Satu-satunya tujuan Allah menciptakan kita adalah untuk beribadah. Jadi kita itu bukan untuk mengumpulkan harta atau menjadi CEO perusahaan. Jadi hamba Allah, artinya menjalani hidup untuk ibadah kepada-Nya terikat kepada seluruh syari'at Allah. Allah perintahkan shalat, ibu shalat, Allah perintahkan puasa, ibu puasa,” bebernya di hadapan puluhan jemaah.
Semua yang dilakukan menurutnya, harus terikat dengan syari'at Allah. “Jadi mulianya kita bukan hanya perempuan, tetapi laki-laki, anak-anak, pemuda-pemudi. Mulianya kita artinya kedudukannya mulai di hadapan Allah itu karena ketakwaannya,” jelasnya.
Kedua, ibu sebagai istri adalah sebagai partner dan sahabat bagi suami. “Itu artinya suami dan istri itu bukanlah saingan bukan pula minta bisnis. Tetapi saling sharing, nasihat menasihati. Tugas istri menjaga kemuliaan suami dan keluarga. Penting bagi kita memahami ini, peran kira tadi jangan sampai kita menjadi aib bagi suami. Istri harus mampu menjaga kehormatan diri, harta, rumah dan keluarga. Istri menjadi manager atau pengelola rumah tangga,” ungkapnya.
Menurutnya, semuanya tertuang dalam hadis. Istri yang shalihah adalah perhiasan kehidupan terindah. “Dan ternyata Bu, ketenangan ibu itu mempengaruhi kondisi rumah, artinya tugas suami bagaimana membimbing dan mendidik istrinya supaya tenang,” jelasnya.
Ketiga, ibu sebagai ibu dan pendidik anak. “Ibu berperan dalam melahirkan generasi yang baru. Makanya Rasulullah membanggakan umatku yang banyak. Ibu dikatakan pula ummun, ummun itu terkait pendidikan dan pengasuhan anak,” sebutnya.
Fitrahnya ibu sebenarnya, terangnya, mengurus anak. “Urusan nafkah tenang saja kata Allah sudah ada yang jamin, yakni suami. Sebagaimana dikatakan sebelumnya, Allah mewajibkan para suami untuk mencari nafkah. Allah tidak membebankan ibu peran ganda, karena ibu tulang rusuk bukan tulang punggung,” lanjutnya.
Menurutnya, Al-Quran banyak berbicara tentang ibu, tentang istri, dan tentang perempuan. “Jadi kaum Muslimah itu tidak perlu memperjuangkan hak, karena hak dan kewajiban yang menetapkan Allah. Dalam Al-Qur'an ibu itu hamba Allah, sebagai anak, sebagai istri, juga sebagai anggota masyarakat,” ujarnya.
“Kita punya misi besar ke depan mendidik anak-anak kita itu adalah menjadi generasi yang cemerlang, membangun peradaban Islam. Kalau hari ini kita merasa tidak mampu, kalau kita ingin anak kita jadi pemimpin. Maka ibu harus mengubah pola pikir ibu dan suami, karena mendidik dibutuhkan dua orang,” ucapnya.
Ia pun mengibaratkan suami adalah kepala sekolah, maka ibu adalah ummun madrodatul' Ula, ibu adalah sekolah pertama anaknya. “Harusnya dari lisan kita inilah mereka hafal Al Fatihah, harusnya dari lisan ibu lah anak tau siapa Rabb- Nya, siapa yang menanamkan tauhid, Kita. Kita punya andil disitu sebab itu akan jadi pahala jariyah buat ibu,” jelasnya.
Maka, terangnya, di situlah mulianya seorang ibu karena ketakwaannya kepada Allah. Jadi mulia itu bukan berapa banyak duitnya, berapa mewah gamisnya, berapa harga tasnya, Bukan. Itu adalah pandangan sekuler kapitalistik, bulan punya kita. Itu pandangan hidup asing, pandangan hidup Barat.
“Inilah yang harus kita sadari bersama, semua ibu-ibu menyadari perannya, maka generasi ke depan yang lebih baik, yang shalih shalihah bukan lagi sekadar impian,” pungkasnya.[] Sari Liswantini

0 Komentar