Topswara.com -- Pernyataan Presiden saat menanggapi nilai rupiah melemah terhadap dolar, bukan menjadi masalah karena menurut beliau warga desa tidak menggunakan mata uang asing untuk bertransaksi, ungkapannya sontak menuai polemik.
Pengamat ekonomi menilai pernyataan yang dikeluarkan oleh seorang presiden seolah-olah meremehkan masalah dan menjadi boomerang untuk kelanjutan anjloknya nilai rupiah.
Padahal depresiasi rupiah terhadap dolar membuat kondisi perekonomian di Indonesia makin mengkhawatirkan, akan berdampak signifikan terhadap kenaikan harga-harga bahan baku dan juga energi.
Rakyat makin terhimpit kesulitan memenuhi kebutuhan hidup hingga berujung pada jeratan pinjaman online. OJK mencatat outstanding pembiayaan oleh industri pinjaman online mencapai 98,54 triliun per Januari 2026 (bisnis.com.03/03/2026)
Kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar, disebabkan adanya konstelasi politik internasional adanya perang antara AS - Iran, perang tersebut membuat distribusi minyak dan gas terhambat, harganya pun jadi melambung tinggi, akibatnya para pemodal menarik investasinya hal ini mempengaruhi aktivitas pasar global sehingga memicu pelemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.
Selain perang, ternyata faktor dalam negeri mengenai pemasukan dan pengeluaran uang negara, cicilan utang dan uang cadangan ikut mempengaruhi kenaikan dolar ini. (bbc.com.16/05/2025).
Pemerintah memandang apa yang dialami masyarakat masih dalam kondisi aman. Karena tidak berhadapan langsung dengan dolar, padahal banyak kebutuhan masyarakat memiliki hubungan erat dengan produk impor, contohnya kedelai, pupuk, bahan bakar, LPG, pakan ternak, suku cadang kendaraan hingga alat elektronik.
Ketika dolar naik maka biaya distribusi dan produksi dipastikan akan mengalami kenaikan pula. Akibatnya secara tidak langsung harga kebutuhan sehari-hari akan mengalami kenaikan meskipun masyarakat dalam transaksinya tetap menggunakan rupiah bukan dolar.
Fenomena ini menjadi pemandangan yang wajar dalam sistem saat ini. Sistem kapitalisme menggunakan mata uang kertas, yang berakibat daya beli akan mudah tergerus karena inflasi yang terus terjadi.
Selain mata uang kertas, adanya sektor non riil yang dapat memainkan harga pasar. Begitu pula pengaturan kepemilikan, dalam kapitalisme orang yang mempunyai modal besar dapat memiliki apapun tanpa ada batasannya.
Pemerintah dalam sistem kapitalisme hanya bersifat sebagai regulator, tidak akan pernah berpihak kepada rakyat bahkan semakin membebaninya. Pemerintah justru lebih berpihak kepada pemilik modal, mereka menyerahkan urusan rakyat kepada pihak swasta atau asing.
Secara otomatis masyarakat pada akhirnya menanggung sendiri beban hidup karena ketiadaan peran pemerintah untuk menyelesaikan masalah tersebut, justru kebijakan yang dibuat makin memperburuk keadaan dengan jumlah utang yang makin melambung. Utang merupakan solusi yang ditawarkan oleh sistem kapitalisme.
Berbeda dalam Islam, Sistem ekonomi dalam Islam akan menerapkan sistem uang yang lebih stabil, yakni dengan emas dan perak. Sesuai dengan hadist Rasulullah SAW, "jual belilah kalian emas dengan perak, perak dengan emas sesuka kalian" (HR. Al-Bukhari).
Menggunakan sistem mata uang emas perak memiliki keunggulan dikarenakan emas memiliki nilai fisik yang tinggi dan daya tahan yang luar biasa.
Islam mewajibkan peran negara hadir untuk memastikan seluruh kebutuhan pokok masyarakat apakah sudah tercukupi baik kebutuhan pangan, sandang dan papan. Selagi kebutuhan masyarakat belum tercukupi, tidak diperbolehkan mengeksport ke luar.
Negera juga bertugas untuk mengembangkan SDM ahli yang mendukung kemajuan teknologi sehingga tidak bergantung pada import. Negara menjadi mandiri tanpa tergantung kepada negara lain.
Negara akan menjaga stabilitas harga-harga dengan mekanisme tertentu yang ditetapkan syariat, seperti larangan riba, jaminan distribusi atau pengaturan kepemilikan. Sehingga potensi kezaliman tidak akan terjadi. Negara hadir untuk menciptakan keadilan.
Kesejahteraan masyarakat menjadi tanggung jawab pemimpin karena ia adalah ra'in sekaligus junnah yang wajib melindungi masyarakat dari kesengsaraan hidup.
Maka penerapan sistem Islam diberbagai aspek termasuk dalam aspek perekonomian, maka akan melahirkan keadilan bagi semua pihak dan menciptakan ekonomi yang berkah, berkembang dan berkelanjutan.
Wallahu a'lam bishawwab.
Oleh: Irma Legendasari
Aktivis Muslimah

0 Komentar