Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Project Freedom ala Trump, Kemanusiaan atau Kepentingan Semata?


Topswara.com -- Ketegangan di Selat Hormuz belum usai hingga kini. Penutupan Selat ini membuat terganggunya jalur perdagangan energi global yang diakibatkan banyaknya kapal-kapal minyak yang terimpit di Selat Hormuz. 

Pada Senin, 4 Mei 2026, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menggumumkan pihaknya akan membantu kapal-kapal yang terblokir di Selat Hormuz. Pembebasan ini dilakukan oleh AS atas dasar kemanusiaan. AS juga menyampaikan bahwa akan menjamin keamanan kapal-kapal tersebut selama melintasi Selat Hormuz. 

Operasi pembebasan ini dinamakan “Project Freedom”, merupakan upaya kemanusiaan atas nama Amerika untuk membebaskan kapal-kapal yang tidak terlibat konflik. (IDNPinancial.com, 4/5/26)

Kebijakan AS ini muncul di tengah negoisasi yang belum membuahkan hasil antara Washington dan Tehera untuk mengakhiri perang. Trump juga mengkalim bahwa banyak negara netral yang meminta bantuan AS dikarenkan kapal mereka yang terjepit di tengah zona perang tanpa kepastian. 

Kodisi awak kapal di lokasi dilaporkan mulai kritis akibat menipisnya stok makanan dan memburuknya fasilitas sanitasi di atas kapal. Ia menambahkan bahwa upaya ini tidak memiliki maksud mencampuri urusan negara-negara yang berkonfllik di wilayah tersebut. 

Upaya ini murni bersifat bantuan saja, bahkan dikutip dari Axios, Donald Trump menyampaikan bahwa militer AS tidak akan segan melepaskan tembajan jika Iran mencoba menghalangi pembebasan ini. (suara.com, 4/5/26)

Kemanusian Standar Ganda

Amerika Serikat (AS) merupakan negara adidaya yang saat ini menerapkan ideologi kpaitalisme-sekularisme. Ideologi yang secara fitrahnya merupakan ideologi menjajah. AS siap menjajah negara mana saja yang menghalangi kepentingannya. 

Salah satu cara yang digunakan AS untuk mempertahankan hegemoninya di dunia internasional dengan tampil sebagai polisi dunia. Hal ini terlihat jelas pada konflik AS/Israel dengan Iran yang melibatkan Selat Hormuz yang secara internasional diberikan wewenang kepada salah satunya Iran sebagai pengelolanya. AS tidak memiliki andil di Selat Hormuz ini. 

Namun, dengan lantangnya AS menyampaikan akan membebaskan kapal-kapal yang terjepit di Selat tersebut dengan dasar kemanusiaan. Dengan angkuh dan sombongnya AS ingin menunjukkan kepada dunia bahwa AS masih menjadi negara yang tidak akan terkalahkan. 

Ini menjadi perang opini yang dilancarkan oleh Washington untuk menghilangkan ‘rasa malu’ karena tidak bisa berkutik di hadapan Iran. Narasi yang disampaikan AS sungguh tidak dapat diterima oleh dunia internasional dikarenakan apa yang dilakukan oleh Israel dengan dukungan AS di Palestina menunjukkan bahwa AS telah meletakkan standar ganda pada kemanusiaan. 

Bagaimana kondisi warga Gaza di Palestina menunjukkan bagaimana AS demi kepentingannya akan melakukan apa saja termasuk menindas, menyebabkan kelaparan dan bahkan membunuh dengan sadis. 

Di sisi lain, kapal-kapal yang terjepit di Selat Hormuz dinyatakan AS sebagai bentuk kemanusiaan, demi kepentingannya. Ini lah wajah asli negara adidaya kapitalis-sekuler yang meletakkan kebijakannya di atas kepentingan. 

Jika kepentingan tersebut melanggar kemanusiaan, dipaksakan bahwa untuk perdamaian dunia. Sedangkan, jika kepentingan tersebut dengan menegakkan kemanusiaan juga dipaksakan semata-mata memang murni untuk bantuan kemanusiaan. Inilah standar ganda yang diterapkan oleh kapitalis. 

Dengan kejemawaan AS yang seolah-olah menjadi penyelamat di Selat Hormuz dengan memberikan ancaman kepada Iran dibalas dengan tindakan nyata dari Iran. Rudak balistik, rudal jelajah, dan dorne menjawab provokasi dari AS. Kapal-kapal AS terbakar dan berbalik arah dari Selat Hormuz. Operasi AS gagal total. 

Media Iran menulis dengan gagahnya ‘Trump Backs Down’. Hanya dalam satu hari AS akhirnya menghentikan sementara operasi ‘Project Freedom’ tersebut. 

Persatuan Politik Islam

Dari peristiwa perang AS-Israel dengan Iran menunjukkan bahwa peran geopolitik umat Islam sangat penting. Kekuatan geopolitik satu negara Islam saja sudah dapat melumpuhkan kekuatan negara adidaya yang dinarasikan bahwa umat Islam akan selalu di bawah tekanan AS. 

Tindakan satu negara ini telah mampu mengguncang stabilitas energi global, memicu terjadinya inflasi dunia, dan membuat AS harus berulang kali membuka negoisasi dengan Iran. Ditambah dengan gagal nya ‘Project Freedom’ AS hanya dalam satu hari. Hal ini betul-betul menonjok wajah AS. 

Namun, kekuatan umat Islam tidak hanya terletak pada jumlah, kekuatan militer dan kekayaan sumber daya alam yang dimilikinya saja. Seharusnya kekuatan geopolitik negeri-negeri muslim akan lebih besar lagi jika bersatu dalam visi dan kepentingan politik yang sama bukan dikarenkan sebatas mempertahankan diri dari serangan negara adidaya yang diupayakan oleh Iran saat ini sedangkan negeri-negeri muslim lainnya masih berpihak kepada AS. 

Jika kekuatan ini disatukan maka negeri-negeri muslim akan dapat menjadi peradaban yang besar dan memimpin dunia dengan menyebarkan rahmat Islam keseluruh dunia. Bukan hegemoni dan penjajahan seperti ideologi kapitalis. 

Persatuan umat Islam pada hakikatnya merupakan perintah Alla Swt. bukan sekedar adanya kepentingan ekonomi atau politik.

Sebagaimana firman Allah Swt: “Dan berpeang teguhlah kalian semuanya kepada tali (agama) Alla, dan janganlah bercerai-berai.” Ini merupakan bagian dari aqidah dan syariah. Islam bukan hanya agama ritual semata tetapi mabda (ideologi). 

Oleh karena itu, persatuan umat Islam tidak boleh dibangun berdasarkan rasa nasionalisme atau kepentingan sesaat, tetapi di atas ikatan iman dan penerapan syariat yang dipimpin oleh satu kepemimpinan (khilafah Islamiah).


Oleh: Ria Nurvika Ginting, S.H., M.H.
Dosen FH
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar