Topswara.com -- Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momentum evaluasi mendalam terhadap kondisi pendidikan di negeri ini. Namun, realitas yang tampak justru memunculkan keprihatinan serius.
Alih-alih melahirkan generasi berilmu dan berakhlak mulia, dunia pendidikan hari ini justru diwarnai berbagai problem antara lain kekerasan di kalangan pelajar, pelecehan seksual, kecurangan akademik, hingga penyalahgunaan narkoba.
Fenomena ini bukan sekadar kasus individu, melainkan gambaran sistemik. Ketika pelajar berani melawan guru, melakukan kecurangan dalam ujian, atau terlibat kriminalitas, ini menunjukkan adanya krisis kepribadian yang cukup dalam. Pendidikan seolah kehilangan ruhnya—tidak lagi menjadi sarana pembentukan manusia seutuhnya.
Dalam Islam, pendidikan bukan hanya transfer ilmu, tetapi juga pembentukan kepribadian (syakhsiyah). Rasulullah ï·º bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Hadis ini menegaskan bahwa misi utama pendidikan dalam Islam adalah pembentukan akhlak. Ilmu tanpa akhlak hanya akan melahirkan kerusakan, bukan kebaikan.
Salah satu akar masalah pendidikan hari ini adalah penerapan sistem sekuler. Sistem ini memisahkan agama dari kehidupan, termasuk dalam pendidikan. Akibatnya, nilai benar dan salah tidak lagi merujuk pada wahyu, melainkan pada standar manusia yang berubah-ubah.
Pendidikan hanya diarahkan pada pencapaian materi dan kesuksesan duniawi, tanpa mempertimbangkan aspek halal dan haram.
Tak heran jika muncul budaya instan yakni menyontek, menggunakan jasa joki, hingga plagiarisme dianggap hal biasa. Orientasi pendidikan bukan lagi pada proses, tetapi hasil. Selama nilai tinggi bisa diraih, cara apa pun dianggap sah.
Padahal, Islam sangat tegas dalam melarang kecurangan. Rasulullah ï·º bersabda “Barang siapa menipu, maka ia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Muslim)
Ini menunjukkan bahwa kecurangan bukan sekadar pelanggaran akademik, tetapi juga dosa yang mencerminkan rusaknya iman.
Selain itu, lemahnya penegakan hukum juga turut memperparah kondisi. Banyak pelaku kejahatan di kalangan pelajar tidak mendapatkan sanksi yang tegas dengan alasan masih di bawah umur. Akibatnya, muncul efek permisif—seolah-olah tindakan kriminal bisa ditoleransi.
Berbeda dengan Islam, yang menerapkan sistem sanksi (uqubat) secara tegas dan adil. Tujuannya bukan sekadar menghukum, tetapi juga memberikan efek jera dan menjaga masyarakat dari kerusakan. Allah SWT berfirman:
“Dan dalam qisas itu ada kehidupan bagimu…” (QS. Al-Baqarah: 179)
Ayat ini menunjukkan bahwa hukum yang tegas justru menjaga kehidupan dan ketertiban masyarakat.
Dalam sistem pendidikan Islam, negara memiliki tanggung jawab penuh dalam menyelenggarakan pendidikan. Pendidikan tidak diserahkan pada mekanisme pasar atau kepentingan kapital. Negara memastikan setiap individu mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan berlandaskan akidah Islam.
Kurikulum dalam Islam dibangun untuk membentuk pola pikir dan pola sikap yang selaras dengan syariat. Ilmu pengetahuan tetap dikembangkan, tetapi diarahkan untuk kemaslahatan umat dan mendekatkan diri kepada Allah.
Lingkungan juga memiliki peran penting. Islam menekankan sinergi antara keluarga, masyarakat, dan negara dalam membentuk generasi. Orang tua bertanggung jawab atas pendidikan anak, sebagaimana firman Allah:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya tugas sekolah, tetapi juga tanggung jawab keluarga.
Jika seluruh sistem ini berjalan—akidah sebagai dasar, kurikulum yang benar, lingkungan yang kondusif, serta penegakan hukum yang tegas—maka akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bertakwa.
Hardiknas seharusnya menjadi titik balik. Bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momentum untuk mengoreksi arah pendidikan. Jika akar masalahnya adalah sistem yang sekuler, maka solusi yang ditawarkan tidak cukup dengan tambal sulam kebijakan. Diperlukan perubahan mendasar menuju sistem yang berlandaskan wahyu.
Pendidikan yang benar akan melahirkan generasi yang jujur, amanah, dan bertanggung jawab. Generasi seperti inilah yang akan membawa peradaban menuju kemuliaan, bukan kehancuran.
Wallahu a'lam bishshawab.
Oleh: Ema Darmawaty
Praktisi Pendidikan

0 Komentar