Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Menagih Janji Pendidikan, Mencari Ruh yang Hilang di Balik Gemerlap Hardiknas


Topswara.com -- Peringatan Hari Pendidikan Nasional setiap tanggal 2 Mei merupakan momentum sakral bagi bangsa Indonesia untuk menengok kembali arah peradaban sekaligus menghormati hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara. 

Ditetapkan sejak tahun 1959 melalui Keppres Nomor 316, peringatan ini menjadi simbol perlawanan terhadap kegelapan intelektual yang dipelopori oleh sang Bapak Pendidikan Nasional sekaligus Menteri Pendidikan pertama Indonesia. 

Melalui rekam jejak perjuangan beliau, 2 Mei diharap hadir sebagai pengingat bahwa pendidikan adalah nyala api pembebasan yang harus terus dijaga demi menjunjung martabat dan kemerdekaan seluruh rakyat.

Namun, setelah 67 tahun berlalu, peringatan Hari Pendidikan Nasional kini tampak hanya menjadi tanggal merah di kalender. Api perjuangan yang seharusnya berkobar hebat kini meredup bak api kecil yang mulai lelah untuk dijaga, sebab setelah puluhan tahun merdeka, pendidikan bermutu belum sepenuhnya terdistribusi secara merata. 

Ironisnya, bagi mereka yang telah mengenyam pendidikan pun, kualitas yang ada belum mampu membentuk sosok intelektual yang benar-benar beradab.

Berbagai anomali moral akhir-akhir ini menjadi bukti nyata bahwa ada jurang yang dalam antara gemerlap capaian statistik pendidikan dengan realitas di lapangan. Di balik angka-angka partisipasi sekolah yang meningkat, justru tecermin potret kelam maraknya kasus kekerasan, pelecehan seksual, hingga hilangnya ruang aman di lingkungan sekolah maupun kampus. 

Integritas akademik pun kian luntur dengan maraknya kecurangan ujian, praktik joki, hingga budaya plagiarisme yang merata di berbagai lembaga. Kondisi ini diperparah dengan meningkatnya keterlibatan pelajar dalam jaringan narkoba, serta fenomena miris di mana siswa kian berani menghina hingga memenjarakan guru hanya karena ditegur atau didisiplinkan. 

Potret dunia pendidikan yang semakin buram dan memprihatinkan ini memaksa kita untuk menelaah kembali, ke mana sebenarnya arah pendidikan bangsa ini akan bermuara.

Dalam pidato Hardiknas pada 2 Mei 2026, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti mengakui bahwa pendidikan perlu dikembalikan pada fungsinya untuk memuliakan manusia, beliau sampaikan bahwa "Peningkatan mutu pendidikan memerlukan mindset yang maju, mental yang kuat, dan misi yang lurus. Jika hendak memajukan bangsa, perbaiki pendidikan mulai dari dalam kelas.". 

Sejalan dengan visi menteri untuk memuliakan manusia, pendidikan sejatinya tidak boleh memenggal aspek nurani dan akal budi yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. 

Namun, realitas saat ini justru sering kali hanya mengasah kecerdasan intelektual tanpa memberikan nutrisi spiritual, sehingga melahirkan individu yang cerdas secara teknis namun dingin secara sosial dan kering secara moral. 

Memanusiakan manusia berarti mengembalikan agama serta etika sebagai ruh utama agar ilmu digunakan demi kemaslahatan, bukan penindasan. Dan ini adalah sebuah misi lurus yang kini terhambat oleh beban birokrasi guru dan pengaruh gaya hidup serba instan di lingkungan luar sekolah. 

Oleh karena itu, perbaikan di dalam kelas melalui landasan agama dan moral menjadi upaya terakhir yang krusial untuk menyelamatkan generasi dari krisis kepribadian sebelum mereka terjun ke tengah masyarakat yang kian egois dan kapitalis.

Dalam pandangan Islam, pendidikan menempati posisi yang sangat mulia sebagai sarana utama untuk mengenal Allah dan menjalankan perintah-Nya dengan benar. Islam memposisikan menuntut ilmu sebagai kewajiban setiap muslim, karena ilmu merupakan imam bagi amal yang memastikan setiap ibadah dilakukan sesuai syariat. 

Pendidikan Islam tidak memisahkan antara kecerdasan intelektual dan karakter mulia, melainkan menyatukannya untuk membentuk pribadi yang beradab. Dengan menjadikan nilai-nilai agama sebagai fondasi, ilmu yang diperoleh tidak hanya digunakan untuk meraih keridaan Sang Pencipta, tetapi juga menjadi bekal utama bagi manusia dalam menjalankan amanah sebagai khalifah fil ’ardl, yaitu untuk mengelola dan memakmurkan bumi demi kemaslahatan seluruh alam.

Dalam upaya menagih janji pendidikan yang sebenarnya, fokus utama harus dikembalikan pada pembentukan karakter Islam (syakhsiyah islamiah) di mana keselarasan antara pola pikir dan pola sikap setiap pelajar akan dikokohkan sehingga mampu meraih kesuksesan tanpa terjebak praktik kecurangan. 

Untuk menjaga tatanan tersebut, negara harus membangun suasana hidup yang penuh ketakwaan sembari menerapkan sistem sanksi yang tegas bagi para pelaku kejahatan. Melalui integrasi antara kecerdasan intelektual, karakter mulia, dan ketegasan hukum, pendidikan yang dikembalikan pada fitrahnya ini akan melahirkan generasi tangguh yang beradab. 

Pada akhirnya, dari kualitas manusia yang memiliki ruh dan integritas unggul tersebut, akan tercipta pondasi negara yang kokoh dan berdaulat dalam menghadapi berbagai tantangan zaman, membuktikan bahwa janji pendidikan benar-benar ditunaikan.


Oleh: Maslikha Diah 
Aktivis Pendidikan 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar