Topswara.com -- Ada jenis ujian yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Bukan tentang kehilangan harta. Bukan tentang lelah bekerja. Tetapi ketika anak sendiri terbaring lemah, lalu dokter mengatakan harus operasi.
Saat itu, dunia seorang ibu seperti berhenti sebentar. Saya pernah berpikir, mungkin inilah salah satu badai yang paling berat dalam hidup orang tua. Menunggu di depan ruang operasi sambil menahan pikiran ke mana-mana. Bibir berusaha tenang, tetapi hati penuh doa yang berjatuhan satu per satu.
Awalnya kami kira hanya masuk angin biasa. Anak muntah-muntah, perut sakit, lalu keluarlah seluruh jurus tradisional emak-emak. Minyak kayu putih keluar. Makanan hangat disiapkan. Dipijit pelan. Bahkan sempat berpikir, “Ah, paling besok juga sembuh.”
Ternyata Allah sedang memberi pelajaran lain. Vonis usus buntu datang seperti petir di siang hari. Mau tidak mau harus operasi. Dan di situlah saya sadar bahwa badai hidup itu nyata.
Berapa banyak dari kita yang pernah menatap hidup sambil bertanya dalam hati, “Kapan semua ini selesai?”
Ketika badai datang bertubi-tubi, kita merindukan masa tenang yang dulu bahkan tidak pernah kita syukuri dengan sungguh-sungguh. Namun hidup memang tidak pernah menjanjikan jalan tanpa ujian. Justru lewat badai itulah Allah memperlihatkan kekuatan yang selama ini tersembunyi dalam diri kita.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah: 155)
Ayat ini terasa berbeda ketika ujian itu benar-benar datang ke rumah sendiri. Ternyata sabar bukan sekadar teori kajian. Sabar itu ketika menunggu hasil pemeriksaan sambil pura-pura kuat di depan anak.
Sabar itu ketika mendengar suara alat medis lalu mencoba tetap tersenyum. Sabar itu ketika hati gemetar, tetapi mulut tetap berkata, “InsyaAllah, Allah jaga.”
Namun di tengah badai itu, saya belajar satu hal besar, yaitu ujian terasa jauh lebih ringan ketika dilewati bersama pasangan yang mau saling menguatkan.
Di ruang tunggu rumah sakit, saya bersandar di pundak suami. Bukan sekadar bersandar, tetapi sedang menitipkan separuh rasa takut kepada orang yang juga ikut menanggung beban yang sama.
Masya Allah, di balik diamnya seorang suami, ternyata ada banyak hal yang sedang ia tahan. Pikiran biaya rumah sakit. Kondisi anak. Kelelahan fisik. Belum lagi tetap harus terlihat tenang agar istri tidak ikut runtuh.
Kadang lelaki memang tidak banyak bicara. Tetapi diam mereka sering kali penuh perjuangan.
Imam Ibnul Qayyim pernah menjelaskan bahwa ujian adalah cara Allah membersihkan hati manusia dari ketergantungan kepada dunia, lalu mengembalikannya agar hanya bergantung kepada Allah semata.
Dan benar, di rumah sakit itu saya sadar, manusia ternyata lemah sekali. Jabatan tidak menolong. Follower tidak menolong.
Pujian manusia tidak menolong.
Yang benar-benar menenangkan hanya doa dan keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani juga menjelaskan bahwa seorang Muslim harus memahami kehidupan dengan sudut pandang akidah. Bahwa seluruh musibah dan kenikmatan berasal dari Allah, dan semuanya akan dimintai pertanggung jawaban sikap kita dalam menghadapinya.
Artinya, badai bukan sekadar penderitaan. Ia adalah cara Allah membentuk kepribadian seorang mukmin.
Dari ujian ini saya belajar bahwa ketenangan bukan berarti hidup tanpa masalah. Tetapi kemampuan tetap bertahan meski hati sedang diguncang.
Luka bukan tanda kelemahan. Kadang ia justru jalan menuju kedewasaan dan harapan adalah cahaya paling penting ketika hidup terasa gelap.
Hari itu saya melihat sendiri bagaimana seorang anak bisa begitu kuat menghadapi rasa sakit. Lalu saya malu, karena sering kali orang dewasa justru lebih mudah mengeluh dibanding anak-anak.
Badai memang tidak enak. Tetapi badai sering kali memperlihatkan siapa yang benar-benar ada untuk kita dan bagi saya, salah satu nikmat terbesar dalam ujian ini adalah Allah masih memberi pasangan yang mau bertahan, mendampingi, dan ikut berjuang bersama.
Karena ternyata benar, “apapun ujiannya, kalau dilewati bersamamu jadi ringan.”
Mungkin hari ini ada yang sedang diuji kesehatan, ekonomi, rumah tangga, atau kehilangan. Percayalah, badai tidak selamanya datang untuk menghancurkan. Kadang ia hadir untuk memperlihatkan bahwa kita ternyata jauh lebih kuat daripada yang kita kira.
Dan setelah semua air mata itu berlalu, kita akan sadar, Allah tidak sedang menjauhkan kita dari kasih sayang-Nya.
Allah hanya sedang mengajarkan cara menjadi hamba yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih dekat kepada-Nya. []
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar