Topswara.com -- Peristiwa yang terjadi di dunia pendidikan kembali menyita perhatian publik. Dilansir dari Detik.com (18/04), sebuah video viral memperlihatkan sejumlah siswa di SMAN 1 Purwakarta mengejek dan mengacungkan jari tengah kepada guru mereka di dalam kelas.
Tindakan ini jelas melecehkan sosok yang seharusnya dihormati dan dimuliakan.
Pihak sekolah telah memberikan sanksi berupa skorsing selama 19 hari disertai pembinaan.
Namun, kebijakan ini dinilai belum tentu efektif dalam membentuk karakter siswa. Bahkan, muncul usulan agar hukuman lebih bersifat edukatif, seperti kerja sosial yang dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab dan hormat (detik.com, 18/04/026).
Krisis Moral dalam Sistem Sekuler
Kasus tersebut bukan sekadar kenakalan remaja biasa. Ini adalah cerminan krisis moral yang lebih dalam. Sistem pendidikan yang saat ini berjalan cenderung sekuler dan liberal sehingga aspek adab seringkali terpinggirkan.
Pendidikan lebih berfokus pada capaian akademik, sementara pembentukan akhlak tidak menjadi fondasi utama. Akibatnya, siswa tidak lagi melihat guru sebagai sosok yang harus dihormati, melainkan sekadar “fasilitator belajar”. Ketika rasa hormat ini hilang, batas antara benar dan salah pun menjadi kabur.
Di sisi lain, kasus seperti itu tidak lepas dari pengaruh media sosial juga tidak bisa diabaikan. Banyak siswa saat ini lebih mengejar pengakuan “viralitas” dan citra keren di mata teman sebaya. Konten yang sensasional sering dianggap lebih berharga daripada menjaga etika dan martabat guru.
Pada kasus tersebut, tindakan pelecehan bahkan direkam dan disebarkan sendiri oleh siswa. Ini menunjukkan adanya pergeseran nilai dari menjaga adab menjadi mengejar popularitas. Lingkungan digital yang tidak terfilter memperparah kondisi ini.
Kondisi ini juga menunjukkan melemahnya wibawa guru. Mengapa siswa merasa berani bertindak sejauh itu? Salah satu penyebabnya adalah posisi guru yang semakin lemah dalam sistem. Di satu sisi, guru dituntut mendidik dengan baik. Namun di sisi lain, mereka seringkali tidak memiliki kekuatan untuk menegakkan disiplin karena khawatir dilaporkan atau dipermasalahkan secara hukum.
Akibatnya, ketegasan menjadi tumpul, dan rasa hormat siswa pun ikut luntur.
Ironisnya, pemerintah terus menggaungkan program seperti “Profil Pelajar Pancasila”.
Namun, kasus seperti ini menjadi tamparan keras bahwa program tersebut belum menyentuh akar persoalan. Seringkali program hanya berhenti pada tataran konsep dan administrasi. Nilai-nilai yang diajarkan tidak benar-benar tertanam dalam kepribadian siswa.
Kembali Kepada Sistem Pendidikan yang Benar
Pertama, kurikulum pendidikan perlu dibangun di atas landasan akidah yang kokoh. Dalam Islam, pendidikan tidak hanya bertujuan mencetak individu yang cerdas, tetapi juga berkepribadian Islam (syakhshiyah Islamiah), yakni memiliki pola pikir dan pola sikap yang selaras dengan syariat.
Dengan fondasi ini, penghormatan kepada guru bukan sekadar aturan, tetapi menjadi bagian dari kesadaran iman dan bentuk ketaatan pada Allah.
Kedua, negara harus hadir dalam menyaring arus informasi khususnya konten digital. Tayangan yang mengandung pembangkangan, pelecehan, atau kekerasan tidak boleh dibiarkan bebas dikonsumsi oleh generasi muda. Lingkungan yang sehat secara moral sangat berpengaruh dalam membentuk perilaku.
Ketiga, sistem sanksi perlu ditata ulang agar benar-benar mendidik dan memberikan efek jera. Dalam Islam, sanksi berfungsi sebagai penebus dosa (jawabir) dan pencegah (zawajir), sehingga tidak hanya menghukum tetapi juga memperbaiki.
Keempat, guru harus dimuliakan secara nyata, bukan hanya dalam slogan. Dalam Islam, guru memiliki posisi tinggi dan dijamin kehidupannya oleh negara, sehingga wibawa mereka terjaga.
Kasus di Purwakarta adalah alarm keras bagi dunia pendidikan. Peristiwa ini seharusnya menjadi bahan refleksi bersama. Ini bukan sekadar masalah siswa nakal, tetapi tanda adanya kerusakan sistemik dalam pendidikan. Jika akar masalahnya tidak diselesaikan, maka kejadian serupa akan terus berulang.
Sudah saatnya pendidikan tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga membangun adab dan akhlak sebagai fondasi utama generasi. Karena tanpa adab, ilmu kehilangan makna, dan tanpa penghormatan kepada guru, pendidikan kehilangan ruhnya.[]
Oleh: Syahroma Eka Suryani
(Aktivis Muslimah)

0 Komentar