Topswara.com -- Keputusan Zeda Salim untuk melepas hijab menuai sorotan publik. Dalam sebuah tayangan di program Rumpi di Trans TV, Zeda membeberkan alasan di balik perubahan penampilannya tersebut.
Ia mengaku keputusan itu diambil karena tuntutan hidup sebagai seorang ibu. Zeda menyebut dirinya harus bekerja demi menafkahi anak, sehingga memilih tampil dengan gaya baru.
Lebih lanjut, ia mengaku telah melalui proses spiritual sebelum mengambil keputusan tersebut. Zeda mengatakan dirinya sempat berdoa dan melakukan salat istikharah untuk meminta petunjuk. Namun, pernyataan tersebut memicu pro dan kontra di kalangan warganet (serambinews.com, 22/4/2026).
Astaghfirullah, sekarang tuh unik, Sobat Nabila. Orang ngaku istikharah, tetapi hasilnya bikin kening berkerut.
Katanya, “Aku sudah istikharah…” Eh, keputusan akhirnya? Lepas hijab.
Saya langsung mikir, ini istikharah apa nego sama hawa nafsu sambil bawa nama Allah? Karena gini ya, kita lurusin pelan-pelan. Istikharah itu minta petunjuk Allah untuk memilih di antara dua atau lebih perkara yang hukumnya boleh. Bukan untuk hal yang sudah jelas salah satunya itu haram atau dilarang oleh Allah.
Menutup aurat itu bukan opini. Bukan juga tren. Itu perintah langsung dari Allah. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah An-Nur ayat 31 agar wanita beriman menutup auratnya. Jadi kalau sudah jelas perintahnya, lalu kita istikharah untuk meninggalkannya. Lah, kita lagi minta petunjuk, atau lagi cari alasan yang disahkan?
Biasanya alasan berikutnya, “Ini demi kerja… demi nafkah… demi keluarga…”
Nah ini yang sering bikin logika jadi jungkir balik. Seolah-olah rezeki itu cuma datang dari satu pintu, yaitu buka aurat. Padahal Allah sudah kasih jaminan yang sangat jelas, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan beri jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2-3)
Artinya apa, Sobat Nabila? Rezeki itu datang dari ketaatan, bukan dari pelanggaran yang dibungkus kebutuhan. Kalau kita yakin Allah Maha Pemberi Rezeki, kenapa malah takut miskin saat taat?
Sekarang kita pakai logika sederhana ala emak-emak ya, kalau semua yang haram bisa dibolehkan dengan alasan “demi nafkah”… maka nanti, bohong jadi boleh (demi makan). Riba jadi boleh (demi anak). Zina jadi boleh (demi karier).
Lho, kalau begitu, syariat tinggal hiasan dong? Padahal para ulama sudah sepakat bahwa tujuan baik tidak pernah menghalalkan cara yang haram.
Mau niatnya seribu kali baik, kalau jalannya melanggar tetap saja itu bukan kebaikan. “Aku mau taat sih… tetapi sambil nego sedikit sama aturan Allah, boleh ya?”
Lho, ini agama apa marketplace? Bisa ditawar-tawar? Yang lebih miris lagi, kalau keputusan itu dibungkus dengan kalimat, “Ini hasil istikharah…”
Padahal, seharusnya istikharah itu mendekatkan kita pada ketaatan, bukan menjauhkan. Kalau hasilnya malah bikin kita melanggar perintah Allah, mungkin yang perlu dicek bukan hasilnya, tetapi niat dan cara berpikirnya.
Jujur ya Sobat Nabila, ini bukan sekadar soal hijab. Ini soal cara pandang hidup. Apakah kita benar-benar yakin Allah yang ngatur rezeki? Atau diam-diam kita lebih percaya pada “pasar” daripada pada Allah?
Karena orang yang yakin, dia akan memilih taat, walaupun berat. Sedangkan yang ragu, akan mencari jalan yang mudah walaupun salah. “Kalau rezeki harus dicari dengan melanggar aturan Allah, itu bukan solusi, tapi ujian yang kita beri jawaban salah dan itu fatal." []
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar