Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Penyebab Siswa SMA Krisis Sopan Santun


Topswara.com -- Dulu kita takut dipanggil guru. Sekarang? Guru yang harus siap mental sebelum masuk kelas.

Kasus siswa mengacungkan jari tengah ke guru di SMAN 1 Purwakarta ini bukan sekadar berita lewat. Ini bukan cuma soal sembilan siswa yang “kebablasan”. Ini cermin. Cermin yang menunjukkan ada sesuatu yang sedang retak dalam dunia pendidikan kita.

Dan jujur saja, ini bukan kejadian tiba-tiba.
Kita sedang melihat hasil. Hasil dari proses panjang yang pelan-pelan menggeser cara pandang generasi. 

Dulu, dimarahi guru itu bikin kita introspeksi. Sekarang? Dimarahi guru bisa dibalas dengan gestur tidak sopan, bahkan direkam dan disebarkan.

Lucu? Tidak. Miris? Banget.

Masalahnya bukan cuma pada siswa. Masalahnya adalah lingkungan yang membentuk mereka. Hari ini, semua bisa jadi konten. Guru menegur, direkam. Guru marah, diviralkan. Guru salah sedikit, langsung dihakimi ramai-ramai. 

Pelan-pelan, posisi guru bukan lagi sebagai pendidik, tapi sebagai objek tontonan dan ketika sesuatu sudah jadi tontonan, rasa hormat pun ikut terkikis.

Di sisi lain, kita juga tidak bisa menutup mata dari peran keluarga. Anak tidak lahir tiba-tiba menjadi kasar. Ada proses. Ada kebiasaan. Kalau di rumah adab tidak ditanamkan, bahasa tidak dijaga, dan rasa hormat tidak dilatih, maka jangan heran kalau di sekolah mereka membawa pola yang sama.

Anak itu bukan hanya meniru. Mereka menyerap. Namun ada satu hal yang lebih dalam dari semua ini, yaitu arah pendidikan kita. Hari ini kita begitu bangga dengan angka, nilai tinggi, ranking, prestasi akademik. Tetapi kita sering lupa menanyakan satu hal sederhana, bagaimana adabnya?

Pendidikan kita sibuk menajamkan akal, tapi sering lupa melembutkan hati.
Akibatnya, lahirlah generasi yang cerdas secara intelektual, tapi rapuh secara moral. Mereka tahu mana yang benar, tetapi tidak merasa terikat untuk melakukannya. Mereka paham aturan, tetapi tidak merasa diawasi oleh nilai yang lebih tinggi.

Dan di sinilah bahaya mulai terlihat. Kenakalan yang dulu dianggap salah, hari ini bisa dianggap biasa. Bahkan dalam beberapa kasus, justru dianggap keren. Semakin berani melawan, makin mendapat perhatian. Semakin membuat sensasi, semakin dianggap eksis.

Padahal kita tahu, semua kerusakan besar selalu dimulai dari hal kecil yang dianggap remeh. Hari ini bercanda. Besok kebiasaan. Lusa jadi karakter.

Yang paling menyayat sebenarnya adalah posisi guru. Mereka datang ke kelas bukan untuk dilawan. Mereka datang untuk mendidik, membimbing, dan sering kali dengan kesabaran yang luar biasa. Tetapi yang mereka terima justru perlakuan yang tidak pantas.

Pertanyaannya, masihkah kita memuliakan guru? Kalau jawabannya mulai ragu, maka di situlah letak masalahnya.

Kita tidak sedang kekurangan anak pintar. Negeri ini penuh dengan generasi cerdas. Tapi kalau kecerdasan itu tidak dibarengi dengan adab, maka yang lahir bukan kemajuan, melainkan potensi kerusakan yang lebih besar.

Inilah dampak dari pendidikan sekuler yang memisahkan ilmu dari nilai. Yang menganggap cukup dengan pengetahuan, tapi mengabaikan pembentukan karakter dan keimanan. Yang fokus pada capaian akademik, tapi lupa menanamkan rasa hormat.

Maka solusi tidak cukup dengan menghukum siswa. Tidak cukup dengan memanggil orang tua. Tidak cukup dengan klarifikasi atau pembinaan sesaat. 

Yang dibutuhkan adalah perubahan arah. Mengembalikan pendidikan pada fungsinya yang sejati sesuai ajaran Islam, yaitu bukan sekadar mencetak orang pintar, tapi membentuk manusia bersyakhsiyah islamiah.

Manusia yang beriman dan beradab. Manusia yang tahu batas. Manusia yang menghormati, bukan karena takut dihukum, tapi karena sadar itu benar menurut Allah SWT.

Karena kalau guru saja tidak lagi dihormati, jangan heran kalau masa depan terasa makin sulit ditebak dan kalau di ruang kelas adab sudah hilang, maka kita tidak sedang membangun generasi. Kita sedang mempertaruhkan arah bangsa.

Jadi, ini bukan sekadar siswa nakal. Ini tanda kita sedang kehilangan sesuatu yang paling mendasar, yaitu adab.[]


Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar