Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Kepemimpinan Retoris, Akhlak Terkikis: Potret Buram Mahasiswa di Era Sekularisme


Topswara.com -- Gelombang protes ratusan mahasiswa di Banjarmasin menjadi penanda bahwa ada sesuatu yang tidak baik-baik saja di ruang yang seharusnya menjadi pusat intelektual dan keteladanan. 

Dugaan kekerasan verbal yang menyeret seorang Ketua BEM bukan sekadar persoalan personal, melainkan cermin retaknya fondasi adab dalam kepemimpinan mahasiswa.

Fakta di lapangan menunjukkan eskalasi yang cepat. Ratusan mahasiswa mendesak klarifikasi terbuka atas dugaan ucapan yang dinilai merendahkan dan tidak pantas dari seorang pemimpin organisasi mahasiswa. 

Kasus ini memicu diskusi luas tentang etika kepemimpinan, budaya komunikasi, serta relasi kuasa di lingkungan kampus. Tekanan publik juga menguat melalui media sosial, memunculkan polarisasi antara pihak pendukung dan penentang. (radarbanjarmasin, 14/05/2026).

Fenomena ini memperlihatkan tingginya sensitivitas mahasiswa terhadap isu kekerasan verbal, sekaligus menunjukkan betapa cepatnya opini publik terbentuk dan menghakimi di era digital.

Namun, jika ditarik lebih dalam, persoalan ini bukan sekadar soal individu atau kesalahan komunikasi. Ia berakar pada krisis sistemik: kegagalan sistem sekuler dalam membentuk kepribadian dan adab. 

Dalam sistem ini, pendidikan lebih menonjolkan kecerdasan akademik, kemampuan retorika, dan daya saing organisasi, sementara pembinaan akhlak sering dikesampingkan.

Akibatnya, lahir sosok cerdas secara intelektual, tetapi rapuh dalam pengendalian lisan. Kata-kata menjadi senjata, bukan pencerah akal dan jiwa.

Demokrasi kampus turut memperkeruh keadaan. Alih-alih menjadi ruang pembinaan kepemimpinan yang matang, organisasi mahasiswa kerap terjebak dalam budaya politik praktis: pencitraan, perebutan pengaruh, dan kubu-kubuan. 

Kritik yang seharusnya konstruktif berubah menjadi serangan personal. Komunikasi kehilangan adab, digantikan ambisi mempertahankan posisi dan legitimasi massa. Kampus pun berubah menjadi miniatur demokrasi sekuler yang sarat konflik.

Di sisi lain, sekularisme memisahkan kebebasan berbicara dari tanggung jawab. Media sosial menjadi panggung bebas tanpa batas, di mana ujaran kasar, penghinaan, dan pembongkaran aib dinormalisasi. 

Banyak individu merasa berhak berkata apa saja tanpa mempertimbangkan konsekuensi dosa dan pertanggung jawaban di hadapan Allah. Padahal, kerusakan lisan tidak hanya melukai individu, tetapi juga merusak persaudaraan dan kepercayaan sosial.

Lebih jauh, kampus dalam sistem sekuler gagal menjalankan fungsi pembinaan kepribadian secara utuh. Fokus pada akademik dan kebebasan berpikir tidak diimbangi pembinaan ruhiyah dan akhlak. 

Akibatnya muncul paradoks: mahasiswa aktif organisasi tetapi miskin adab, kritis tetapi kasar, vokal tetapi tidak bijak. Kasus di Banjarmasin hanyalah satu dari sekian banyak gejala yang mengindikasikan sakit yang sama. 

Dalam pandangan Islam, kepemimpinan bukan panggung popularitas, melainkan amanah yang berat. Rasulullah ï·º bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa kepemimpinan adalah amanah yang akan dihisab.

Allah ï·» juga berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik dari mereka...” (QS. Al-Hujurat: 11). Ayat ini menegaskan larangan merendahkan dan menghina sesama, serta menjadi fondasi etika komunikasi, terutama bagi pemimpin.

Sistem pendidikan Islam tidak memisahkan ilmu dari akhlak. Kampus bukan sekadar tempat transfer ilmu, tetapi pusat pembentukan kepribadian bertakwa. Mahasiswa dibina agar memiliki kontrol diri, menjaga lisan, bersikap santun, dan menyikapi perbedaan dengan hikmah. Dengan fondasi ini, potensi kekerasan verbal dapat dicegah sejak akarnya.

Islam melarang penghinaan dan perendahan terhadap sesama. Kehormatan manusia dijaga, komunikasi diatur dengan adab, dan perselisihan diselesaikan secara bermartabat. 

Negara pun berperan menjaga lingkungan sosial yang bersih dari budaya negatif, serta mendorong amar makruf nahi mungkar. Generasi muda dibina dengan tsaqafah Islam yang menanamkan iman dan tanggung jawab dalam setiap aspek kehidupan.

Saatnya kampus dikembalikan pada fungsi sejatinya: mencetak generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beradab. Karena peradaban tidak dibangun oleh kecerdasan semata, melainkan oleh kekuatan iman dan kemuliaan akhlak.

Wallahu’alam.


Zahida Ar-Rosyida 
(Aktivis Muslimah Banua)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar