Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Hati Tenang karena Allah Pegang Kendali


Topswara.com -- Sobat Nabila, kadang yang bikin manusia susah move on itu bukan kehilangan ataupun luka pengkhianatan. Tetapi karena merasa Allah harus selalu mengabulkan semua keinginannya.

Maunya A. Allah kasih B. Ngambek. Maunya dia. Takdirnya beda. Langsung merasa hidup paling tragis sedunia. Padahal belum tentu yang kita kejar itu baik buat hidup kita sendiri.

Manusia tuh lucu ya. Kalau doanya belum dikabulkan, merasa ditolak. Kalau keinginannya gagal, merasa hidupnya dirusak. Padahal bisa jadi Allah sedang berkata pelan, “Aku tahu kamu ingin itu, tapi Aku lebih tahu dampaknya.”

Masalahnya kita sering cuma lihat yang enak buat ego hari ini. Tidak lihat jebakan yang berdiri manis di balik hal yang sangat kita inginkan.

Ada yang nangis karena gagal menikah dengan seseorang. Padahal kalau jadi nikah mungkin tiap malam bukan baca surat Ar-Rahman, tetapi baca chat “Aku capek sama kamu.”

Ada yang sedih karena gagal dapat pekerjaan impian. Eh beberapa tahun kemudian baru sadar, “Alhamdulillah ya Allah, kalau dulu keterima mungkin aku sudah stres, asam lambung, plus jadi budak lembur.”

Ada juga yang patah hati karena hubungan kandas. Padahal Allah mungkin sedang menyelamatkan dia dari masa depan yang isinya air mata, manipulasi, dan password HP yang selalu diganti tiap tiga hari.

Tapi manusia memang sering begitu. Kalau kehilangan langsung teriak, “Ya Allah kenapa?” Jarang yang bertanya, “Ya Allah sebenarnya Engkau sedang menyelamatkanku dari apa?”

Padahal para ulama dan orang-orang salih sudah lama mengerti bahwa tidak semua yang gagal itu musibah. Kadang justru itu bentuk penjagaan Allah. Karena Allah melihat sesuatu yang tidak kita lihat. Kita cuma lihat, “Dia ganteng, gagah dan royal.” Allah lihat, “Imannya bikin migrain.”

Kita lihat, “Peluangnya besar.” Allah lihat, “Nanti bikin jauh dari-Ku.” Kita lihat, “Ini impian hidupku.” Allah lihat, “Kalau Aku kasih sekarang, kamu malah hancur.”

Makanya orang yang makin dewasa imannya biasanya makin tenang menghadapi takdir. Bukan karena hidupnya tanpa luka. Tetapi karena dia mulai paham bahwa tidak semua yang pergi harus dikejar mati-matian. Tidak semua yang gagal harus ditangisi seolah kiamat datang lebih cepat.

Para sufi memahami bahwa ketenangan lahir ketika manusia berhenti memaksa takdir tunduk kepada hawa nafsunya sendiri.

Dalam Al-Qur’an Allah sudah mengingatkan, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 216)

Nah lho. Kadang yang kita kejar habis-habisan itu ternyata paket premium menuju drama kehidupan dan lucunya manusia sering marah kepada takdir hanya karena Allah tidak mengikuti skenario yang sudah ia tulis sendiri di kepalanya.

Padahal siapa kita? Sutradara film dunia aja bukan. Maka belajarlah menerima dengan lebih tenang. Kalau ada pintu tertutup, jangan langsung merasa dibuang Allah. Bisa jadi justru sedang dijaga.

Kalau ada hubungan gagal, jangan buru-buru merasa paling tidak dicintai. Kadang Allah memisahkanmu dari manusia supaya hatimu tidak rusak lebih lama.

Kalau ada keinginan yang tidak tercapai, jangan langsung menyimpulkan hidupmu berakhir. Bisa jadi Allah sedang menyelamatkan masa depanmu dengan cara yang belum kamu pahami hari ini.

Karena tidak semua penolakan adalah kebencian. Kadang itu perlindungan dan mungkin alasan hatimu masih capek sampai hari ini bukan karena terlalu banyak kehilangan. Tapi karena kamu masih sibuk memaksa sesuatu yang sejak awal memang tidak Allah takdirkan untukmu.

Jadi tenang saja, Gaes. Kalau memang itu baik, Allah tidak akan menukarnya darimu. Dan kalau itu dijauhkan, mungkin Allah sedang berkata, “Aku tahu kamu ingin, tetapi Aku lebih sayang kepadamu daripada keinginanmu sendiri.” []


Oleh: Nabila Zidane 
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar