Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Kemampuan Menjaga Ketenangan Saat Diuji Itu Kekuatan


Topswara.com -- Ada orang yang kalau disindir sedikit langsung berubah jadi “speaker masjid mode full volume”. Baru disentil tipis, emosinya keluar semua seperti promo cuci gudang hingga nyepam wa sepanjang jarinya belum kapalan. Padahal hidup ini sudah cukup ribut tanpa harus ditambah drama manusia sumbu pendek yang hobinya meledak-ledak tiap lima menit.

Lucunya, banyak orang mengira marah besar itu tanda keberanian. Seolah kalau mukanya makin merah dan suaranya makin tinggi, derajatnya otomatis naik jadi pendekar kehidupan. Padahal sering kali itu bukan kekuatan, tapi bukti rem hati dan akalnya blong bersamaan.

Justru orang yang benar-benar kuat biasanya tidak sibuk membuktikan dirinya kuat. Ia tenang. Ia tidak mudah terpancing. Ia tidak menjadikan setiap sindiran sebagai panggilan jihad balas komentar. Sebab ia sadar, tidak semua hal pantas diberi panggung di dalam kepalanya.

Imam Syafi’i pernah berkata, "Orang berakal adalah orang yang mampu menahan dirinya dari hal yang tidak bermanfaat."

Nah, sebagian manusia hari ini justru kebalikannya. Yang tidak penting dipikirkan semalaman. Yang tidak jelas diurusi setengah mati. Status orang lain dipantau seperti intel negara. Begitu lihat sesuatu yang tidak disukai, emosinya langsung naik melebihi harga cabai.

Padahal ketenangan itu mahal dan yang mahal biasanya memang tidak dimiliki semua orang. Ada orang yang sengaja memancing emosi kita. Kenapa? Karena manusia penuh luka sering ingin melihat orang lain ikut kacau. 

Ada yang bahagia kalau melihat orang lain marah. Ada yang puas kalau berhasil membuat orang kehilangan kendali. Jadi kalau ada orang sengaja bikin panas lalu kita meledak, sebenarnya kita sedang masuk perangkap gratis.

Makanya diam kadang jauh lebih elegan daripada balasan panjang penuh emosi. Bukan karena kalah.Tapi karena malas turun kelas.

Syaikh Ibnu Athaillah berkata, "Jangan terlalu menjelaskan dirimu kepada siapa pun. Karena yang mencintaimu tidak butuh itu, sedangkan yang membencimu tidak akan percaya."

Nah loh. Kadang kita capek sendiri menjelaskan diri kepada manusia yang memang dari awal niatnya tidak mau paham. Sudah dijelaskan baik-baik tetap diplintir. Dijawab lembut tetap cari celah. Akhirnya kita sadar, ternyata tidak semua orang layak mendapat akses masuk ke kedamaian batin kita.

Ada juga tipe manusia yang kalau melihat orang tenang malah makin kesal. Karena mereka berharap kita hancur. Mereka ingin melihat kita marah, nangis, ngamuk, lalu kehilangan arah. Ketika ternyata kita tetap santai sambil makan bakso dan lanjut hidup seperti biasa, mereka bingung sendiri. Kok gagal bikin rusuh?

Di situlah ketenangan berubah jadi kemenangan paling elegan. Rasulullah SAW bersabda, "Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Lihat betapa Islam memuliakan kemampuan mengendalikan emosi. Sebab marah itu mudah. Yang susah adalah tetap waras ketika hati sedang dibakar keadaan.

Kadang hidup memang lucu. Yang tulus malah disakiti. Yang setia malah diuji. Yang sabar malah diremehkan. Tapi tidak semua luka harus diumumkan seperti breaking news. 

Ada rasa sakit yang cukup Allah saja yang tahu. Karena tidak semua yang bertanya itu peduli. Sebagian cuma ingin update gosip terbaru agar grup WhatsApp tetap hidup.
Makanya orang dewasa secara emosional biasanya lebih hemat reaksi.

Ia tahu kapan bicara.
Ia tahu kapan diam.
Ia tahu mana yang penting diselesaikan dan mana yang cukup ditertawakan sambil minum teh hangat.

Sebab makin matang seseorang, makin ia sadar bahwa ketenangan jiwa jauh lebih penting daripada memenangkan semua perdebatan.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa marah yang tidak terkendali dapat membutakan akal dan menyeret manusia kepada penyesalan. Karena itu hati harus dilatih dengan sabar dan pengendalian diri agar tidak menjadi budak emosi.

Dan benar saja kan Sobat Nabila. Berapa banyak hubungan hancur hanya karena satu emosi sesaat?
Berapa banyak keluarga retak karena gengsi ingin selalu menang?
Berapa banyak manusia kehilangan wibawa karena tidak mampu menjaga lisannya ketika marah?

Padahal kadang satu diam mampu menyelamatkan banyak hal. Satu senyum mampu meredakan pertengkaran panjang dan satu hati yang tenang mampu membuat badai kehilangan kekuatannya.

Maka kalau hari ini kamu masih bisa tersenyum di tengah ujian, itu bukan kelemahan. Itu tanda bahwa jiwamu sedang naik kelas. Karena dunia ini penuh manusia yang hebat melukai, tetapi sangat sedikit yang hebat mengendalikan diri.

Pada akhirnya hidup bukan tentang siapa paling keras suaranya, tetapi siapa yang paling mampu menjaga hatinya tetap hidup di tengah dunia yang semakin bising. Sebab ketenangan bukan berarti tidak punya masalah. 

Kadang justru orang yang paling tenang adalah orang yang sudah terlalu sering dihantam kehidupan sampai akhirnya mengerti bahwa tidak semua hal pantas menguasai pikirannya dan tidak semua perang harus dimenangkan dengan balasan.

Kadang kemenangan paling tinggi adalah ketika kita tetap tenang saat orang lain berharap kita hancur. []


Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar