Topswara.com -- Setiap 2 Mei, bangsa ini mengenakan pakaian terbaiknya, menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, dan berpidato tentang cita-cita luhur pendidikan. Namun di balik kemeriahan seremonial itu, ada kenyataan pahit yang menyayat hati.
Dunia pendidikan Indonesia sedang sekarat. Hari Pendidikan Nasional bukan lagi perayaan. Ia telah menjelma menjadi alarm keras, bahkan tangisan yang setiap tahun berbunyi, namun tak kunjung didengar.
Wajah Pendidikan yang Buram
Lihatlah fakta-fakta yang muncul ke permukaan. Seorang pelajar di Bantul tewas dikeroyok lalu dilindas, dengan dua pelaku ditangkap sementara lima lainnya masih buron (kumparannews, 21/4/2026).
Di Bandung, pelajar SMA membunuh sesamanya. Di Bogor, dua pelajar SMA disiram air keras hingga mengalami luka serius di wajah (detik.com, 22/4/2026). Kekerasan ini bukan lagi anomaly, ia adalah wabah yang menggerogoti sendi-sendi sekolah dan kampus kita.
Seakan belum cukup ngeri, di meja ujian, kejujuran telah lama dikuburkan. Praktik joki UTBK bukan sekadar kecurangan biasa. Ia adalah bisnis terorganisir. Di dua kampus Surabaya, praktik joki UTBK terungkap dengan modus pemalsuan dokumen (detiknews, 22/4/2026).
Para joki dibayar ratusan juta rupiah untuk meraih kursi yang bukan hak mereka (kompas, 22/4/2026). Plagiarisme merajalela, budaya belajar sungguh-sungguh dianggap kuno, sementara cara pintas diagungkan sebagai kecerdasan.
Narkoba pun telah merangsek masuk ke dalam tas sekolah dan kamar kos mahasiswa. Pelaku dan pengedar bukan lagi orang luar, mereka adalah siswa dan mahasiswa itu sendiri. Seperti seorang mahasiswa semester akhir di Sumedang yang ditangkap karena berperan sebagai kurir sabu di wilayah Jatinangor pada Januari 2026 (tahuekspres, 9/2/2026).
Ini bukan kasus tunggal melainkan cerminan dari wabah yang jauh lebih luas dan lebih dalam dari yang terlihat. Ruang yang seharusnya menjadi tempat tumbuhnya ilmu dan akhlak, telah berubah menjadi lahan subur kemaksiatan.
Yang lebih menyesakkan, kini siswa berani menghina guru, bahkan memenjarakan pendidik yang sekadar menegur dan mendisiplinkan mereka. Wibawa guru telah runtuh. Ruang aman di sekolah dan kampus tak lagi terjamin.
Akar yang Telah Membusuk
Ini bukan sekadar krisis perilaku. Ini adalah krisis peradaban yang lahir dari sistem pendidikan yang salah arah. Sistem pendidikan sekuler-kapitalistik yang kita anut telah mencetak generasi yang mengagungkan kesuksesan instan, menghalalkan segala cara demi uang dan jabatan, serta kehilangan kompas moral yang sejati.
Peta jalan pendidikan kita gagal melahirkan intelektual yang beradab. Yang lahir justru individu-individu yang cerdas secara kognitif namun kering secara spiritual, pragmatis, liberal, dan jauh dari nilai-nilai luhur.
Sanksi hukum yang longgar bagi pelaku di bawah umur semakin memperparah keadaan, karena kejahatan dianggap sekadar "kenakalan remaja" yang tak perlu dihukum setimpal. Minimnya pendidikan agama yang benar memperlebar ruang kebebasan tanpa batas, hingga moral terkikis habis.
Jalan Keluar yang Sesungguhnya
Islam sejak awal telah menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan pembentukan kepribadian yang utuh yakni syakhsiah islamiah yang menyelaraskan pola pikir dan pola sikap berdasarkan akidah yang kokoh.
Negara dalam pandangan Islam wajib menjamin pendidikan yang berlandaskan wahyu, bukan pasar. Sistem sanksi yang tegas diterapkan tanpa pandang bulu, termasuk kepada para pelajar yang melanggar.
Islam tidak memisahkan antara kecerdasan dan ketakwaan. Insan kamil yang dilahirkan dari sistem pendidikan Islam adalah mereka yang tak akan menjoki ujian orang lain karena sadar Allah Maha Melihat, yang tak akan menyakiti sesama karena memahami betapa agungnya jiwa seorang manusia.
Sinergi antara keluarga, lingkungan, dan negara dalam bingkai syariat Islam adalah satu-satunya pondasi yang mampu menopang peradaban yang sesungguhnya.
Hardiknas hari ini seharusnya bukan perayaan. Ia harus menjadi momentum pertobatan kolektif. Selama sistem pendidikan kita masih berpijak pada sekularisme yang menjauhkan generasi dari Tuhannya, jangan harap lahir generasi emas. Yang lahir hanyalah generasi yang tersesat, pintar namun tak bermoral, berijazah namun tak beradab.
Sudah saatnya kita jujur bahwa pendidikan Indonesia membutuhkan bukan sekadar reformasi, melainkan revolusi paradigma yang mengembalikan ruh ilmu kepada pemiliknya yakni Allah Sang Maha Berilmu. []
Oleh: Kina Kirana
(Aktivis Muslimah)

0 Komentar