Topswara.com -- Perlakuan tidak manusiawi dan penganiayaan bayi yang dilakukan oleh para pengasuh daycare Little Aresha telah membuka mata publik bahwa saat ini ruang aman untuk kehidupan semakin sulit.
Betapa tega dan jahatnya nurani para pengasuh hingga bayi yang belum bisa berbicara dan belum mampu membela diri mendapatkan perlakuan biadab. Akhirnya, tempat yang seharusnya memberikan rasa aman justru menjadi tempat penyiksaan.
Bukan Hanya Legalitas dan Sertifikat
Kasus daycare Little Aresha di Yogyakarta mendapat sorotan dari Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga), Wihaji, yang menegaskan bahwa tempat penitipan anak tersebut ternyata tidak memiliki izin operasional.
Ia meminta jajarannya melakukan pengecekan langsung dan menekankan bahwa setiap daycare harus memenuhi syarat yang jelas, termasuk legalitas dan standar pengasuhan.
Kasus ini menjadi pelajaran serius. Mendukbangga menekankan pentingnya sertifikasi bagi pengasuh anak serta mengimbau orang tua agar lebih teliti sebelum menitipkan anak, dengan memastikan izin dan kualitas pengasuh. Pemerintah juga berkomitmen memperketat pengawasan agar kejadian serupa tidak terulang (liputan6, 28-04-2028).
Hanya saja, jika kita teliti, persoalannya tidaklah sesederhana itu. Ini bukan hanya soal izin dan sertifikat, akan tetapi hilangnya rasa takut kepada Allah menjadi salah satu akar masalahnya.
Para pengasuh dan pemilik yayasan menjadikan ini sebagai ladang usaha dan profesi, tetapi mengabaikan amanah. Sebab, anak yang mereka terima dari orang tua hakikatnya adalah amanah yang harus dijaga dan ditunaikan dengan baik. Dalam Islam, amanah itu akan dipertanggungjawabkan.
Rasulullah bersabda: “Tunaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu dan janganlah engkau berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Di zaman sekarang sangat sulit menemukan orang yang amanah. Bahkan, pada level pejabat dan penguasa sekalipun, banyak yang justru mengkhianati amanah jabatan dan kekuasaannya.
Mencari orang yang amanah bagaikan mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Sebab, sistem kehidupan yang ada justru menjauhkan manusia dari agama. Sistem sekuler ini melahirkan orang-orang yang mudah berkhianat.
Padahal, jika kita sadar, agama merupakan salah satu fondasi yang kokoh yang bisa mendorong individu secara internal untuk menjadi pribadi yang amanah. Menjauhkan agama dari kehidupan dan dari sistem pendidikan sama saja dengan melahirkan orang-orang yang mudah berkhianat.
Sistem kapitalisme yang telah mendarah daging di tengah umat menuhankan materi. Apa pun dilakukan selama bisa mendatangkan materi, walaupun pada akhirnya tidak sanggup menunaikan amanah.
Selain persoalan jauhnya agama dari kehidupan, problem lain yang menjadikan anak tersiksa di daycare tidak lain adalah sistem ekonomi yang telah mengikat para ibu. Anak diikat pengasuhnya, ibu diikat siapa? Siapa yang telah mengikat para ibu ini hingga mereka tidak bisa mengasuh anaknya yang masih bayi?
Jawabannya tidak lain adalah sistem ekonomi kapitalistik. Sistem ekonomi kapitalistik telah memaksa dan mengikat kaum ibu hingga mereka, baik secara sukarela maupun terpaksa, akhirnya meninggalkan anaknya yang bahkan masih berusia dua bulan. Ada yang alasannya demi karier, dan ada yang alasannya demi mencari sesuap nasi agar hidup bisa terus berlanjut.
Miris, para bapak sebagai tulang punggung nafkah keluarga sulit memenuhi kebutuhan dapur sehingga ibu pun turun tangan. Pergi pagi meninggalkan anak, tak tahunya justru anak disiksa oleh pengasuhnya sendiri.
Ibu merasa sudah bekerja keras demi keluarga, padahal kerja keras seorang ibu itu seharusnya adalah mengasuh anak, yaitu menjadi ummun wa rabbatul bait. Sebab, melalui pengasuhan yang benar akan terlahir anak-anak hebat dan kuat, baik secara mental, fisik, akal, maupun iman.
Kembalikan Ibu pada Peran Utamanya
Kasus penganiayaan daycare seharusnya menumbuhkan kesadaran bagi kita bahwa sistem hidup yang kita jalani hari ini tidak baik-baik saja. Sistem ini telah menumbalkan semua lapisan masyarakat, bahkan anak yang baru lahir pun ikut menjadi korban.
Saat ayah tidak mampu menafkahi secara layak karena minimnya lapangan pekerjaan dan rendahnya upah, saat ibu ikut terjun bekerja demi dapur tetap mengepul, dan saat anak dianiaya di tempat pengasuhan—kondisi ini merata di negeri ini. Pertanyaannya: apa yang membuat kita tetap bertahan dengan sistem hidup yang rusak ini?
Umat harus sadar bahwa mengembalikan peran ibu menjadi hal yang urgen. Ibu akan bisa kembali maksimal dalam perannya saat para bapak mudah menafkahi keluarganya. Negara harus mengelola kekayaan alam dengan benar.
Dengan itu, lapangan pekerjaan akan terbuka luas. Negara pun mampu memberikan pelayanan kesehatan, pendidikan, dan keamanan secara gratis. Sayangnya, ini hanya bisa terwujud jika kita mau meninggalkan sistem sekuler dan hijrah pada syariat Islam yang sempurna dalam bingkai khilafah. []
Oleh: Nurjannah S.
(Aktivis Muslimah)

0 Komentar