Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Ketika Nyawa Tidak Berharga


Topswara.com -- Nasib tragis menimpa seorang lansia di Pekanbaru. Nyawanya melayang, hartanya pun hilang. Usut punya usut, ternyata pelaku dan dalang di balik itu adalah orang terdekatnya.

Pelaku dan otak di balik aksi kekerasan dan perampokan berujung pembunuhan lansia berinisial D (60) di Kecamatan Rumbai, Pekanbaru, Riau tak lain adalah menantunya sendiri AFT (21) yang dibantu oleh SL (34), EW (39), dan L (22). Aksi kejahatan terjadi saat korban sendirian di rumah pada Rabu (24/4). 

Dari hasil penyelidikan polisi diketahui bahwa pelaku sudah mengincar harta korban sejak lama. Awalnya mereka berniat merampok, tetapi kemudian berubah ingin menghabisi nyawa korban demi memastikan seluruh hartanya dapat dikuasai. 

Usai menggasak barang berharga berupa perhiasan emas, uang tunai, dan dokumen penting, para pelaku kabur ke Medan dan menggunakan hasil kejahatannya untuk bersenang-senang di tempat hiburan malam. Mereka bahkan pesta narkoba di klub malam. Pada akhirnya, keempat pelaku berhasil diringkus setelah sempat bersembunyi di sebuah kos di Aceh Tengah. (medan.kompas.com, 4-5-2026)

Harta kerap membuat orang gelap mata. Demi harta, orang tega menghabisi nyawa manusia. Tak lagi memandang keluarga atau saudara. Siasat licik nan keji dibuat dalam rangka menguasai harta. Norma dan aturan pun diterabas seolah tanpa ragu. Nyawa seolah begitu tak berharga.

Tak ada rasa sedih atau sesal usai merenggut nyawa manusia. Bukannya takut, pelaku malah berpesta barang haram. 

Aksi kejahatan seperti perampokan dan pembunuhan tidak hanya dilatarbelakangi faktor ekonomi atau materi, tetapi juga adanya sakit hati dan dendam pribadi. Jelas ada masalah mental pada diri pelaku. Ingin punya harta, tetapi enggan berusaha dengan cara yang benar dan halal. Akhirnya mengambil jalan pintas dengan melanggar hak orang lain

Bila ditelisik, masalah ini berakar dari sistem kehidupan sekuler yang memberi kebebasan manusia untuk berbuat sesukanya. Sistem ini membuat manusia mengagungkan materi sekaligus mengabaikan agama. Agama hanya sebatas simbol atau seremonial. 

Akibatnya, akidah menjadi rapuh dan mental lemah tatkala menghadapi berbagai masalah kehidupan. Tak heran bila kekerasan kerap menjadi solusi dalam menyelesaikan permasalahan.

Sekularisme menjadikan materi sebagai standar kebahagiaan. Benar dan salah tidak disandarkan pada halal dan haram, melainkan menurut manfaat dan kepentingan pribadi. Akibatnya, segala cara akan dihalalkan untuk meraih materi tersebut. Tak peduli menyakiti keluarga sendiri atau melanggar norma agama sekalipun. 

Inilah buruknya sistem sekulerisme kapitalisme yang tidak mampu menjadikan manusia beradab. Sistem ini juga gagal menciptakan kesejahteraan dan keamanan hakiki bagi setiap jiwa. Sekularisme bertentangan dengan fitrah manusia dan menimbulkan kerusakan di mana-mana.

Berbeda halnya dalam Islam yang sesuai dengan fitrah manusia sehingga mampu memberikan ketenangan dan ketenteraman hakiki. Kebahagiaan tidak diukur dari materi, tetapi dari rida Ilahi yang diraih dengan jalan takwa. 

Dengan begitu, setiap diri akan menghindari tindakan menyalahi syariat seperti merampok dan membunuh tanpa hak.

Sikap semacam ini tumbuh dari penerapan sistem Islam di seluruh aspek kehidupan. Mulai dari pendidikan, sosial, budaya, ekonomi, politik, hingga hukum seluruhnya ditata dengan Islam. Sejak dini, manusia dibina dengan pendidikan Islam, baik di dalam keluarga maupun di luarnya. 

Sistem pendidikan Islam ini membina manusia agar memiliki kepribadian islami yang tercermin dari ketakwaan dalam menjalani setiap langkah kehidupan.

Masyarakat yang tertata dengan sistem Islam juga tersuasanakan dengan ketakwaan setiap hari. Kontrol sosial masyarakat berfungsi secara aktif. Aktivitas amar makruf nahi mungkar senantiasa berjalan. Deteksi dini terhadap bibit penyimpangan mampu meredupkan, bahkan mematikan kemaksiatan sebelum berkembang.

Sistem ekonomi Islam juga akan mewujudkan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat. Tidak ada ketimpangan karena setiap orang mampu mengakses layanan publik secara leluasa. Kekayaan alam juga menjadi milik bersama yang dikelola oleh negara untuk kepentingan rakyat. 

Dari pengelolaan SDA tersebut, lapangan kerja juga akan terbuka bagi siapa saja untuk mendapatkan penghasilan guna mencukupi kebutuhan diri dan keluarganya secara layak.

Tak kalah pentingnya adalah penegakan sistem hukum Islam akan memberikan efek jera. Setiap pelanggaran akan disanksi sesuai hukum syariat. Ketegasan sanksi Islam ini mampu mencegah terjadinya pelanggaran berulang sekaligus menghentikannya secara tuntas. Dengan begitu, keamanan pun terwujud secara nyata.

Kondisi ini dapat terwujud ketika negara menerapkan Islam secara menyeluruh. Hanya dengan jalan inilah, jaminan keamanan dapat dirasakan oleh setiap orang. Dalam naungan sistem Islam, bukan hanya darah atau jiwa, tetapi juga akal, agama, keturunan, dan harta akan terjaga secara sempurna.


Oleh: Nurcahyani 
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar