Topswara.com -- Ada momen dalam sejarah ketika kata-kata kehilangan tajinya, ketika "kecaman keras" dan "keprihatinan mendalam" dari komunitas internasional terasa seperti lelucon pahit di atas kuburan massal. Gaza hari ini adalah momen itu.
Bukan sekadar konflik. Ini adalah pembantaian yang disiarkan langsung, diverifikasi data, dan tetap dibiarkan berlanjut. Ironi yang menyayat hati setiap kali membuka deretan kisah Gaza.
Dunia baru saja menyaksikan babak terbaru dari kehinaan yang terstruktur. Pasukan angkatan laut Zionis mencegat armada kapal bantuan kemanusiaan (Global Sumud Flotilla) yang sedang menuju Gaza, di perairan internasional, dekat Pulau Kreta, Yunani. Bukan di wilayah mereka para Zionis.
Bukan di zona perangnya, namun di lautan bebas milik seluruh umat manusia. Sekitar 175 aktivis yang berada di atas kapal dilaporkan telah ditahan, sementara 31 lainnya mengalami luka-luka. Mereka bukan kombatan berbekal seni perang dan senjata. Mereka adalah relawan yang membawa tepung, obat-obatan, dan sisa-sisa harapan (cnnindonesia.com, 1/5/2026).
Justifikasi apa yang Zionis itu lontarkan? Tudingan bahwa pelayaran itu berada di bawah arahan Hamas. Sudah jelas alasan itu basi. Alasan yang dipakai berulang kali, tiap kali dunia hendak bergerak mendekati Gaza.
Seakan dunia tidak tahu bahwa label "teroris" adalah senjata diplomatik favorit yang dilontarkan untuk mengkriminalisasi setiap bentuk solidaritas, menghapus setiap tetes empati, dan memutus setiap rantai kemanusiaan yang hendak menjangkau rakyat yang terkepung.
Israel telah menerapkan blokade ketat terhadap Jalur Gaza sejak 2007, yang menempatkan sekitar 2,4 juta penduduk wilayah tersebut di ambang kelaparan. Krisis semakin memburuk setelah tentara Israel meluncurkan serangan brutal dua tahun terakhir sejak Oktober 2023 hingga kini menelan lebih dari 72.000 korban jiwa, melukai lebih dari 172.000 orang, dan menyebabkan kehancuran masif di seluruh wilayah Gaza.
Angka-angka itu bukan statistik. Itu adalah nama-nama yang telah hilang dari buku harian, dari meja makan, dari pelukan ibunya (cnnindonesia.com, 1/5/2026).
Dan siapa yang merekam semua ini? Jurnalis-jurnalis yang taruhannya adalah nyawa. OHCHR menyebutkan Jalur Gaza sebagai tempat paling mematikan di dunia bagi para jurnalis.
OHCHR telah memverifikasi kematian hampir 300 jurnalis sejak Oktober 2023, ketika agresi ke Gaza dimulai. Tiga ratus pena dimatikan. Tiga ratus saksi mata dibungkam. Ini bukan kolateral. Ini adalah kebijakan (antaranews.com, 4/5/2026).
Jerman dan Italia melayangkan teguran keras kepada Israel untuk menghormati hukum internasional dan menahan diri dari "tindakan tidak bertanggung jawab".
Italia dan Jerman geram. Spanyol mengecam. Dunia mengernyit. Lalu? Tidak ada kapal perang yang dikirim untuk mengawal flotilla. Tidak ada sanksi yang benar-benar menggigit. Tidak ada satu pun negeri Muslim yang mengirimkan armada lautnya untuk berdiri di antara kapal bantuan dan moncong senjata Zionis (cnnindonesia.com, 1/5/2026).
Di sinilah letak tragedi yang sesungguhnya. Bukan hanya di Gaza, tetapi di seluruh gedung-gedung parlemen dan istana-istana kepresidenan negeri Muslim yang memilih menjadi penonton dalam pertunjukan paling mengerikan abad ini.
Sistem negara-bangsa yang ada hari ini memang tidak dirancang untuk melindungi jiwa-jiwa yang tertindas. Ia dirancang untuk menjaga kepentingan, menjaga kursi, dan menjaga hubungan diplomatik dengan para penguasa dunia.
Kemarahan umat atas penyitaan kapal ini tidak boleh berhenti pada status media sosial dan tagar yang trending semalam. Kemarahan itu harus bertransformasi menjadi kesadaran yang dalam akan kebutuhan kekuatan dan perisai hakiki.
Kesadaran bahwa selama tidak ada kepemimpinan politik Islam yang berdiri di atas landasan akidah yang sahih, kepemimpinan yang memiliki kewenangan syar'i sekaligus kekuatan militer untuk menjadi perisai nyata bagi kaum Muslimin, maka Gaza akan terus menangis, kapal-kapal akan terus disita, dan dunia akan terus pura-pura terkejut.
Gaza bukan sekadar tanah sengketa geopolitik. Gaza adalah cermin. Cermin yang memantulkan wajah kita semua. Baik itu wajah kemanusiaan dan khususnya umat Muslim sebagai saudara seiman. Seberapa jauh kita telah membiarkan ketidakadilan ini menjadi hal yang biasa. Dan kebiasaan itu adalah kemungkaran paling sunyi yang pernah ada. []
Oleh: Kina Kirana
(Aktivis Muslimah)

0 Komentar