Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Bahaya Tren Freestyle Tak Layak Ditiru


Topswara.com -- Fenomena tren freestyle viral kini digandrungi anak - anak. Mereka meniru gerakan freestyle ekstrem. Dalam video yang beredar, terdapat siswa Sekolah Dasar usia 8 tahun dari desa Lenek Baru, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), meninggal dunia karena mengalami cedera parah di bagian leher, diduga tulang lehernya patah. Ia cedera akibat meniru gerakan freestyle yang terdapat dalam game populer Free Fire (kumparan.com, 7/5/2026). 

Psikolog anak dari Kancil, Evryanti putri mengatakan, otak anak-anak belum mengalami perkembangan yang cukup matang sehingga belum mampu berpikir panjang cenderung ikut-ikutan, walaupun di hadapan teman-teman dianggap sesuatu yang dibanggakan. 

Ia mengimbau agar para orang tua memberi pendampingan kepada anak tentang risiko dan bahayanya serta melarang agar tidak melakukannya (metrotvnews.com, 7/5/2026).

Potensi Bahaya, Minim Pengawasan

Paparan game ekstrem yang sedang viral telah memakan korban. Tren dianggap sebagai bagian dari percobaan. Mereka melakukan tanpa pikir dampaknya. 

Tanpa disadari, tren atau tidak, pengaruh game lebih banyak mengubah perilaku dan emosional anak. Anak lebih memilih apa yang disukainya apalagi yang sedang tren. 

Faktanya, nalar anak usia dini yang belum sempurna otaknya lebih mudah meniru sesuatu yang dianggap menarik. Padahal game lebih banyak efek negatif ketimbang positifnya. 

Kasus tulang leher patah yang dialami anak usia dini akibat freestyle merupakan dampak dari kurangnya pendampingan dan edukasi orang tua. Alhasil anak lebih mudah mengakses informasi sementara belum mengerti bahayanya. 

Pun lemahnya kontrol lingkungan masyarakat sekitar menyebabkan anak menormalisasi bermain game tanpa pengawasan. Apalagi kondisi orang tua yang minim pengetahuan dan tak peduli tentang bahaya game menyebabkan tak mampu lakukan edukasi dini.

Negara pun masih belum mampu meretas game pemicu bahaya bagi kesehatan otak dan perilaku. Di Indonesia, game Roblox yang memuat konten porno pun tak mampu melarang justru efeknya memicu kekhawatiran publik. 

Hal ini disebabkan oleh penerapan sistem kapitalisme sekuler yang lebih mengutamakan keuntungan bisnis ketimbang keselamatan, game Roblox, Free Fire, dan lain-lain tak mampu dibendung. 

Kapitalisme yang jauh dari nilai agama akibatnya anak-anak terpapar konten berbahaya. Negara abai mengawasi dunia digital sebaliknya lebih mengutamakan keuntungan sepihak. 

Alhasil, ketika terjadi kasus, solusinya hanya sebatas himbauan atau peringatan bukan untuk memblokir situs game dan tak ada perlindungan serta pelarangan melalui undang-undang dan hukum sanksi oleh negara.

Sikap Bijak Islam

Islam memiliki seperangkat aturan yang mampu mengatur aktivitas manusia terjaga dari hal yang sia-sia. Islam menuntun dan tidak melarang melakukan aktivitas apapun selama perbuatan itu tidak menyimpang dari agama. Bebas beraktivitas namun bukan mutlak dimiliki manusia sebab ada kalanya terikat dengan hukum Allah SWT. 
 
Game merupakan sebuah hiburan digital yang memiliki dampak positif dan negatif. Namun lebih banyak subhatnya dan dhararnya sebab permainan tidak dibatasi waktu. Bahkan Game menjadi haram jika memuat konten kekerasan, porno, atau pelakunya ketagihan bermain sehingga lalai yang menyebabkan dosa. 

Bagi anak usia dini dilarang melihat konten kekerasan dan bahaya. Sebab otaknya belum mampu mencerna baik/buruk. Dalam Islam, anak yang belum baligh memang tidak dikenai taklif hukum karena akalnya belum sempurna. 

Namun demikian tetap perlu pendampingan orang tua untuk mengarahkan pada kebaikan agar melindunginya dari segala bentuk bahaya.

Lain halnya dalam sistem kapitalisme sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) tak memandang baik / buruk yang penting tak mengganggu kebebasan bahkan agama tak boleh mengganggu kebebasan seseorang. 

Wajar, ketika tatanan masyarakat telah rusak, pendidikan kapitalis tak mampu mengubahnya sebaliknya membiarkannya hingga makin parah. 

Tatanan kehidupan kapitalis bersifat individualis serba materialis dan apatis sehingga mustahil membangun masyarakat yang beradab. Nyawa pun tak diperhitungkan.

Sedangkan sistem Islam membentuk tatanan kehidupan Islami melalui bidang pendidikan yang bertumpu pada tiga pilar utama yang mana semuanya berperan aktif dalam membangun masyarakat yang bertakwa, yakni peran orang tua, lingkungan, serta negara. Pilar tersebut akan terwujud ekosistem yang kondusif untuk tumbuh kembang anak secara optimal. 

Islam berperan melindungi generasi dari hal yang sia-sia. Islam mampu membentuk generasi yang bersyakhsiyah Islam. Melalui sistem pertahanan, negara akan membatasi secara ketat hiburan digital yang tak bermanfaat dan berpotensi membahayakan. 

Negara akan memperbanyak konten edukasi yang dapat mendekatkan diri pada Allah. Dengan begitu akan terwujud peradaban Islam yang generasinya mampu menaklukkan zaman, bukan sebagai peniru peradaban kapitalis yang rusak. []


Oleh: Punky Purboyowati, S.S.
(Pegiat Literasi)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar