Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Dolar Menguat, Dompet Rakyat Sekarat


Topswara.com -- Presiden Prabowo Subianto buka suara mengenai pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat yang kini telah menyentuh level Rp 17.600/US$, terlemah sepanjang sejarah. Meski nilai tukar rupiah anjlok sangat dalam, Prabowo menepis anggapan negatif terkait perekonomian Indonesia yang diramal suram.

Dia yakin walau ada yang mengatakan sebentar-sebentar "Indonesia akan collapse, akan chaos" tetapi Indonesia akan tetap survive. Salah satu alasannya karena rakyat di desa enggak pake dolar.

Dia juga memastikan bahwa kondisi fundamental Indonesia masuk kuat, meskipun pelemahan mata uang rupiah jelas berdampak pada kalangan yang bertransaksi menggunakan dolar (cnbcindonesia.com, 16/5/2026).

Padahal kenyataannya, meski rakyat desa nggak pegang Dolar, hidup mereka tetap dikendalikan Dolar. 

Pupuk naik karena Dolar. BBM naik karena Dolar. Harga gandum buat mie instan naik karena Dolar. Bahkan tempe kesayangan rakyat pun sekarang makin tipis, seolah kedelainya ikut gym pilates.

Rupiah tembus Rp17.600 per USD bukan sekadar angka. Itu alarm keras kalau sistem ekonomi kapitalisme sedang memperlihatkan wajah aslinya, yaitu rapuh, ribawi, dan bikin rakyat jadi korban fluktuasi global.

Yang lucu, tiap Rupiah anjlok, rakyat selalu disuruh tenang. “Ekonomi kita kuat.” “Fundamental bagus.” “Jangan panik.” Sementara emak-emak di pasar sudah masuk mode survival, seperti nawar cabe sambil baca istighfar 33 kali. Besok-besok mungkin beli bawang merah harus pakai simulasi cicilan. 

Kelas menengah juga mulai megap-megap. Gaji masih nominal lama. Tetapi harga kebutuhan pokok sudah upgrade ke versi internasional.

Kapitalisme memang begitu. Mata uang kertas nilainya gampang dipermainkan. Hari ini terlihat kuat, besok ambruk cuma gara-gara sentimen pasar, utang negara, perang dagang, atau keputusan bank sentral Amerika yang bahkan rakyat kampung nggak pernah ikut rapatnya. Tetapi efeknya? Sampai ke warung Madura depan rumah.

Inilah bahayanya uang kertas fiat dalam sistem kapitalisme. Nilainya tidak punya sandaran hakiki. Bisa dicetak sesuka hati, dimainkan pasar global, bahkan hancur hanya karena spekulasi dan utang ribawi.

Syaikh Taqiyuddin. An-Nabhani dalam kitab An-Nizham Al-Iqtishadi fil Islam menjelaskan bahwa standar mata uang dalam Islam adalah emas dan perak, karena keduanya memiliki nilai intrinsik yang stabil dan tidak tunduk pada manipulasi politik maupun kepentingan kapitalis global.

Beliau menegaskan bahwa menjadikan emas dan perak sebagai mata uang akan menjaga kestabilan nilai tukar dan melindungi masyarakat dari kezaliman inflasi yang merampas daya beli rakyat secara perlahan dan ini bukan teori dongeng pengantar tidur.

Mari kita lihat bukti paling sederhana, harga seekor kambing berkualitas bagus di zaman Rasulullah adalah satu dinar emas. 1 dinar = sekitar 4,25 gram emas.

Sekarang harga emas per gram di Indonesia rata-rata sekitar Rp2 juta lebih. Artinya, 4,25 gram × Rp2.000.000 = sekitar Rp8,5 juta.

Coba lihat hari ini. Dengan uang Rp8–9 jutaan, orang masih bisa membeli seekor kambing bagus untuk aqiqah atau kurban.

Masya Allah. Dari zaman Rasulullah SAW melewati kerajaan Romawi, era kolonial, Perang Dunia, krisis moneter, Generasi m
Milenial, sampai Gen Alpha sibuk joget TikTok, nilai satu dinar tetap mampu membeli kambing. Stabil bukan?

Sementara uang kertas. Dulu Rp50 ribu bisa belanja satu kantong penuh. Sekarang masuk minimarket cuma dapat struk panjang dan trauma emosional. Itulah bedanya uang hakiki dengan uang ilusi.

Emas dan perak punya nilai nyata. Sedangkan fiat money hanya bergantung pada kepercayaan pasar dan utang negara. Maka jangan heran kalau kapitalisme selalu melahirkan inflasi. Karena sistem ini memang berdiri di atas riba, spekulasi, dan permainan finansial global yang menguntungkan elite, sementara rakyat jadi tumbal.

Hari ini rakyat dipaksa kerja lebih keras hanya untuk mempertahankan standar hidup yang terus turun. Harga rumah naik. Pendidikan naik. Kesehatan naik. Makan naik. Tetapi iman rakyat diuji tiap buka aplikasi mobile banking.

Islam tidak membiarkan ekonomi berjalan liar seperti ini. Dalam sistem Islam, negara wajib mengurus kebutuhan rakyat dengan pengelolaan SDA yang benar, bukan bergantung pada utang luar negeri dan pajak mencekik.

Mata uang berbasis emas dan perak membuat ekonomi lebih stabil, harga lebih adil, dan daya beli rakyat lebih terjaga. Karena Islam bukan cuma agama ibadah ritual. Islam juga punya solusi ekonomi yang realistis dan terbukti bertahan lintas zaman. Maka benar jika makin hari, makin terlihat bahwa yang utopis justru kapitalisme.

Sistem yang katanya modern ini malah membuat rakyat hidup dalam ketakutan, takut harga naik, takut di-PHK, takut tagihan datang, bahkan takut buka aplikasi belanja karena ongkir lebih mahal dari isi keranjang.

Jadi kalau hari ini Rupiah terus melemah, jangan cuma sibuk menyuruh rakyat “tenang.” Rakyat tidak butuh obat penenang. Rakyat butuh sistem yang benar. Karena masalah utamanya bukan sekadar kurs Dolar.

Masalah utamanya kita hidup di bawah sistem ekonomi yang menjadikan manusia budak pasar dan budak utang dan selama akar itu tidak dicabut, rakyat akan terus dipaksa bertahan hidup di negeri kaya dengan rasa miskin yang makin nyata. []


Oleh: Nabila Zidane 
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar