Topswara.com -- Dengan cara apalagi rakyat harus berhemat, jika sebelumnya belanja dengan nominal lima puluh ribu mendapatkan beberapa kebutuhan lauk untuk dimasak, namun sejak US dolar naik dan rupiah kian melemah nilai mata uang seakan tidak berarti apa-apa.
Kebutuhan pokok kian meningkat, sementara pendapatan tidak bertambah, dan ini membuat masyarakat menengah bawah menjerit.
Saat ini nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencetak rekor paling lemah terbaru. Per Jumat (15/05) kurs dolar menyentuh angka Rp 17.600. Masyarakat makin bersiap mengencangkan ikat pinggang karena sejumlah pakar meneropong harga kebutuhan sehari-hari ikut terdampak.
Karena ekonomi Indonesia sangat bergantung pada bahan baku impor nilainya mencapai 70 persen. Mencakup industri kimia, tekstil, elektronik, minyak dan gas, obat-obatan hingga kendaraan. (16/05/2026 bbc.com).
Ditengah kondisi ini ada dua kemungkinan yang dilakukan produsen, menaikan harga barang, atau terpaksa memangkas keuntungan meskipun dilapangan sangatlah sulit, dan daya beli masyarakat menurun karena biaya hidup makin mahal, dan kondisi ini sangatlah mengkhawatirkan.
Rakyat makin terhimpit kesulitan memenuhi kebutuhan hidup hingga berujung pada jeratan pinjol dan lain-lain. Sedangkan pemerintah sendiri memandang apa yang dialami masyarakat masih dalam kondisi aman.
Situasi sulit saat ini tidak lepas dari dunia politik internasional, perang AS versus Iran mempengaruhi pasar global, sehingga memicu melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.
Sementara pemerintah sendiri tidak peka terhadap realitas kondisi masyarakat, bahkan ada pernyataan kepala negara yang membuat geleng-geleng kepala, "rakyat di desa tidak pakai dolar" Begitu pernyataannya. Mungkin sekilas seperti candaan namun ini pernyataan yang menyakitkan.
Rakyat di desa tidak menggunakan dolar, namun negara impor kebutuhan pangan dan industri lainnya, itu semua berimbas pada naiknya harga kebutuhan. Dari ketidakpekaan negara berujung pada kekeliruan penyelesaian masalah ekonomi ini, rakyat butuh pemimpin yang peduli bukan janji apalagi hanya ilusi.
Kebijakan yang dibuat makin memperburuk keadaan, jumlah utang negara makin melambung. Dan pada akhirnya masyarakat harus menanggung sendiri beban hidup. Inilah wajah asli kapitalisme sekularisme dimana rakyat hanya dijadikan komoditi ekonomi, yang kaya makin kaya dan miskin makin terjepit, dan rakyatlah menjadi lahan bisnis.
Lain halnya dengan Islam, Islam mempunyai solusi tuntas atas permasalahan ekonomi, sistem ekonomi Islam akan menerapkan sistem uang yang lebih stabil yakni dengan emas dan perak. Nilainya stabil dan tidak akan inflasi.
Selain itu negara akan menjaga stabilitas harga-harga dengan mekanisme tertentu yang di tetapkan syariat. Mekanisme
dalam sistem ekonomi Islam, harga terbentuk melalui keseimbangan antara permintaan dan penawaran. Keseimbangan ini terjadi ketika penjual dan pembeli saling merelakan transaksi yang terjadi di antara mereka.
Selain itu Islam juga mengharamkan riba, seperti dalam Al quran QS Al Baqarah ayat 275 Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal, Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Barang siapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barang siapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya."
Islam juga menetapkan jaminan distribusi, distribusi pangan dan kebutuhan lainnya di suplay sesuai kebutuhan rakyat, pengaturan kepemilikan dalam Islami ada tiga yaitu : kepemilikan Individu, kepemilikan umum dan kepemilikan negara.
Kesejahteraan masyarakat menjadi tanggungjawab pemimpin, karena ia adalah raa'in sekaligus junnah yang yang wajib melindungi masyarakat dari kesengsaraan hidup. Semua bisa terwujud ketika syariat di terapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Dan di terapkan dalam bingkai khilafah.
Wallahualam bishawab.
Oleh: Ade Siti Rohmah
Aktivis Muslimah

0 Komentar