Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Daycare, Antara Solusi dan Problematik


Topswara.com -- Mencuatnya kasus di tempat penitipan anak di Yogyakarta menjadi pembicaraan di kalangan masyarakat. Banyak pihak yang meminta kepada masyarakat untuk terus mengawal kasus ini. 

Dikutip dari kompas.com (29/04/26)_ Daycare Little Aresha di Yogyakarta diduga melakukan kekerasan dan diskriminasi terhadap anak-anak yang dititipkan di tempat mereka membuat geger publik. Sekitar 53 anak dari 103 anak yang dititipkan terindikasi mengalami tindakan kekerasan. 

Sedihnya tidak bisa terkatakan melihat anak yang dititipkan berharap mendapat perlakuan yang baik, ternyata hanya tipuan dengan manisnya ucapan pengasuhnya. Anak yang dititipkan rata-rata masih usia balita dan mereka tidak ada yang mengadu bahkan untuk berbicara pun tidak mampu. 

Dimana hati nurani para pengasuh tersebut hingga tega melakukan hal diluar fitrah manusia? Ketakutan bukan sampai pada daycare di Jogja ini saja, tetapi membayangkan masih banyak daycare yang bertebaran di luar sana yang masih belum tersentuh hukum. 

Kasus daycare Little Aresha ini, melakukan tindakan yang tidak manusiawi dengan mengikat kaki tangan balita, dan hanya memakai pempers saja kemudian ditidurkan di atas lantai yang beralaskan tikar seadanya dan ada yang di lantai yang dingin. Sungguh geram publik dibuat mereka. Belum lama kasus ini keluar, beredar kembali CCTV terhadap daycare di wilayah Aceh. 

Dikutip dari metrotvnews.com (29/04/26) Polresta Banda Aceh telah menetapkan seorang pengasuh berinisial DS, 24, dan kini menambah dua tersangka baru, yakni RY, 25, dan NS, 24, yang juga berprofesi sebagai pengasuh di tempat penitipan anak tersebut. 

Berdasarkan alat bukti terbaru yang ditemukan, mereka melakukan tindakan kekerasan seperti menjewer, mencubit, memukul bahkan ada yang melemparkan anak tersebut sampai terjatuh. 

Daycare hadir karena besarnya peminat untuk membantu para ibu dalam mengurusi anak nya karena harus ikut turun bekerja membantu ekonomi keluarga. Begitu pula para wanita harus bekerja karena kekhawatiran yang besar terhadap masa depan keluarga dan anak mereka. Inilah akar permasalahan dari adanya daycare hari ini. 

Berarti jika kita ingin menyelesaikan permasalahan ini, harusnya para suami mendapatkan pekerjaan yang layak. Diberi kemampuan untuk bisa memenuhi nafkah keluarga. Jika tidak ada lapangan pekerjaan dibuat lapangan pekerjaan. 

Jika gaji kecil, harusnya negara berpikir bagaimana harga pemenuhan barang sembako bisa terjangkau. Fasilitas umum harusnya diberikan gratis atau berbiaya murah sehingga tidak memberatkan kepala keluarga. 

Sehingga anak sebagai amanah bagi orang tua, menjadi fokus utama orangtua dalam melakukan penjagaan dari sisi tumbuh kembangnya. Orangtua tidak memberikan kepada pihak lain untuk menggantikannya karena sibuk mencari kebutuhan hidup yang seharusnya dipenuhi oleh negara.

Adapun daycare hari ini hadir selain alasan membantu para ibu, juga menjadi ladang bisnis bagi sebagian orang untuk mendapatkan pemasukan. Kebanyakan pengelola dan penjaga anak adalah kaum wanita. Dimana mereka juga menanggung beban ekonomi keluarga dan mungkin juga harus meninggalkan anak-anak mereka. 

Sehingga secara psikologis ada tekanan yang bisa memicu tingkat stress bagi para penjaga. Apalagi ketika anak yang dijaga rewel, sakit atau bahkan sedang tantrum. 

Inilah butuhnya melihat akar permasalahan, sehingga dapat memutus mata rantai tindakan kasus kekerasan yang mungkin bisa saja terjadi di waktu yang sama dan tempat yang berbeda. 

Negara juga tidak boleh lalai dalam menjaga mental dan fisik para ibu. Karena ibu adalah benteng pertahanan di dalam keluarga. Jika ibu kuat dan sehat fisiknya, mentalnya terjaga, adanya kemudahan-kemudahan untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan, dan memiliki suami yang bertanggung jawab. 

Tentu secara fitrah seorang ibu pasti lebih memilih menjaga dan membesarkan serta mendidik buah hatinya dibandingkan harus bekerja. 

Islam mengatur hak dan kewajiban suami istri. Islam juga mewajibkan negara memberikan perlindungan dan jaminan pemenuhan hidup bagi setiap warga negaranya. Bukan hanya membuat aturan tetapi tidak diawasi dengan ketat dan evalusi yang berkelanjutan. 

Sungguh sistem islam telah membuktikannya, ketika ibu di dalam peradaban Islam hidup dengan penuh tanggung jawab. 

Ibu adalah orang yang dimuliakan di dalam Islam, karena itu mestilah keberadaannya harus dilindungi dan kalau pun harus bekerja, maka negara akan memberikan fasilitas yang layak dan perlindungan agar tetap bisa menjalankan kewajibannya sebagai ummun warobbarul bait (ibu dan pengurus rumah tangga) dan madrasatul ula (pendidikan awal) bagi anak-anaknya. 

Wallahu a'lam bishshawwab.


Oleh: Eni Yulika, S.Pd.
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar