Topswara.com -- Pikiran negatif itu mirip teman toxic, kelihatannya cuma numpang lewat di kepala, tapi efeknya bisa bikin hidup berantakan.
Baru bangun tidur, belum juga mandi, eh pikiran sudah lari ke mana-mana, “Jangan-jangan aku gagal…” “Jangan-jangan hidupku hancur…” “Jangan-jangan orang lain lebih bahagia…”
Padahal yang nyata di depan mata cuma cucian numpuk, tagihan bulanan, dan sinyal WiFi yang kadang lebih labil daripada hubungan tanpa kepastian.
Lucunya, banyak orang lebih takut sama santet daripada isi pikirannya sendiri. Padahal pikiran negatif yang dipelihara terus-menerus bisa jadi “dukun internal” yang pelan-pelan merusak badan dan jiwa.
Pikiran Kusut, Badan Ikut Semrawut
Secara kesehatan, stres berlebihan akibat overthinking dapat memicu sulit tidur, tekanan darah naik, lambung bermasalah, imun menurun, tubuh gampang lelah, sakit kepala dan lain-lain
Jadi kalau akhir-akhir ini badan terasa remuk padahal tidak habis maraton, bisa jadi penyebabnya bukan kerja keras, tapi isi kepala yang kebanyakan drama.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pernah menjelaskan bahwa jiwa dan tubuh saling memengaruhi. Hati yang gelisah bisa menyeret fisik pada kelemahan, dan hati yang tenang bisa menjadi sebab kekuatan.
Artinya, pikiran yang terus dijejali buruk sangka, cemas berlebihan, dan ketakutan tanpa kendali bukan cuma merusak suasana hati, tapi juga bisa bikin tubuh perlahan menyerah.
Syaikh Ibnu Atha’illah As-Sakandari dalam Al-Hikam memberi nasihat tajam, “Istirahatkan dirimu dari sibuk mengatur urusanmu, karena apa yang telah diurus Allah untukmu, tak perlu kau sibuk mengaturnya sendiri.”
Nah loh. Kadang kita ini kelelahan bukan karena hidup terlalu berat, tetapi karena terlalu sok jadi sutradara takdir.
Semua mau dikendalikan. Semua mau sesuai skenario pribadi. Begitu realita melenceng sedikit, langsung panik seperti kuota sekarat di tanggal tua.
Padahal tidak semua hal harus kita genggam. Ada titik di mana ikhtiar wajib maksimal, tapi hati tetap harus bersandar kepada Allah. Overthinking sering lahir karena hati lupa siapa yang paling berkuasa.
Suuzan: Racun Jiwa Gratisan
Negatif thinking juga sering berubah menjadi suuzan. Suuzan pada masa depan. Suuzan pada orang lain. Bahkan suuzan pada Allah. Ini yang bahaya.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis qudsi, “Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kalau isi kepala penuh ketakutan seolah Allah tak akan menolong, seakan semua pintu tertutup, maka hidup terasa makin sempit. Bukan karena rahmat Allah kecil, tapi karena cara pandang kita yang keburu gelap.
Berpikir Positif Bukan Berarti Halu
Tenang, berpikir positif bukan berarti pura-pura bahagia sambil menolak kenyataan. Ini bukan konsep “senyum terus walau dompet menipis.” Berpikir positif dalam Islam adalah husnuzan kepada Allah, yakin ujian ada hikmahnya. Fokus pada solusi, tidak tenggelam dalam ketakutan berlebihan.
Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah mengingatkan bahwa seorang mukmin itu berbaik sangka kepada Rabb-nya lalu memperbaiki amalnya. Jadi optimis itu bukan rebahan tanpa usaha. Tetapi yakin sambil bergerak.
Jangan Jadikan Kepala Tempat Sampah
Kalau rumah saja tidak mau diisi sampah sembarangan, kenapa kepala tiap hari dijejali dengan insecurity, iri hati, ketakutan berlebihan, overthinking dan drama asumsi liar. Kepala itu pusat kendali, bukan tong sampah digital. Maka Isi dengan zikir, ilmu, doa, pikiran sehat dan lingkungan baik. Karena jiwa yang bersih lebih sulit dihancurkan oleh racun negatif.
Jadi Sobat Nabila, hidup sudah berat, jangan ditambah dengan pikiran jahat buatan sendiri. Kadang musuh terbesar bukan orang lain, tetapi pola pikir kita sendiri. Pikiran negatif berlebihan hanya akan menggerogoti kesehatan, merusak jiwa, dan mencuri bahagia sebelum waktunya.
Maka, sebelum sibuk menyalahkan dunia, cek dulu isi kepala. Jangan-jangan yang membuat hidup terasa sesak bukan takdir, tapi pikiran liar yang tidak diajak tunduk kepada Allah SWT. Karena orang yang dekat dengan Allah biasanya lebih tenang, bukan karena hidupnya tanpa masalah, tapi karena ia tahu siapa tempat bersandar.
Jadi mari waras berjamaah. Kurangi overthinking, perbanyak tawakal. Kurangi suuzan, perbanyak husnuzan. Kurangi drama dan perbanyak doa. Sebab hidup ini sudah cukup menantang, jangan diperparah oleh isi kepala yang kebanyakan episode. []
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar