Topswara.com -- Kadang yang bikin capek dalam dakwah itu bukan karena ngomongnya. Tetapi karena berharap semua orang langsung berubah setelah kita ngomong.

Baru ngingetin sekali, maunya besok langsung hijrah total. Baru kirim kajian dua kali, berharap keluarganya langsung jadi tim tahajud semua.

Baru upload satu tulisan dakwah, maunya netizen langsung sadar sistem hari ini rusak dan besok pagi pengen tegakkan Islam kaffah.

Padahal kenyataannya? Yang kita dapat kadang malah, “Duh mulai ceramah lagi…” “Ngurus hidup sendiri aja dulu…” “Islam biasa aja, jangan keras banget…”

Atau yang paling menyayat hati, di luar dihormati, di rumah dianggap angin lewat.
Akhirnya sebagian orang diam. Minder. Merasa gagal berdakwah hanya karena manusia belum berubah.

Padahal sejak kapan tugas seorang Muslim adalah mengubah hati manusia? Itu bukan jobdesk kita, bestie. Karena hidayah itu hak prerogatif Allah SWT.

Allah berfirman, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56).

Ayat ini turun bahkan berkaitan dengan paman Rasulullah SAW sendiri, Abu Thalib.
Orang yang paling melindungi Nabi. Yang pasang badan ketika Quraisy menyerang. Yang bela Rasulullah mati-matian.Tetapi tetap Nabi Muhammad Saw tidak mampu mengubah pamannya menjadi Muslim.

Bayangkan. Kalau manusia terbaik di muka bumi saja tidak bisa memberi hidayah kepada orang yang paling beliau cintai, lalu kenapa kita merasa gagal hanya karena status WhatsApp dakwah kita cuma di-read tanpa dibalas?

Kadang kita terlalu fokus pada hasil sampai lupa hakikat dakwah itu sendiri.
Dakwah bukan tentang menjadi penyelamat manusia. 

Dakwah adalah bentuk ketaatan kepada Allah. Nabi Nuh AS berdakwah ratusan tahun. Bukan sehari dua hari. Bukan seminggu dua minggu. Tetapi berabad-abad. Hasilnya? Anaknya sendiri tidak beriman.

Nabi Ibrahim AS, bapak para nabi, juga tidak mampu mengubah ayahnya yang pembuat berhala. Nabi Luth AS tidak mampu membuat istrinya taat kepada Allah. Bahkan Asiyah, wanita mulia penghuni surga, hidup serumah dengan manusia paling sombong di bumi, yaitu Fir’aun.

Artinya apa? Hidayah tidak diwariskan karena hubungan darah. Tidak otomatis datang karena tinggal serumah. Tidak muncul hanya karena kita sudah jungkir balik menasihati. Karena sekali lagi, yang mengubah hati manusia hanyalah Allah SWT.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa dakwah adalah kewajiban setiap Muslim sebagai bentuk Allah, bukan sekadar aktivitas untuk mencari pengakuan atau hasil instan.

Beliau menegaskan bahwa seorang Muslim wajib tetap terikat dengan hukum syarak, baik manusia menerima ataupun menolak. Karena ukuran keberhasilan seorang Muslim bukan banyaknya followers, tepuk tangan, atau pujian manusia, tetapi sejauh mana ia taat kepada Allah.

Nah ini yang kadang lupa. Kita hidup di zaman serba instan. Mie instan. Belanja instan. Viral instan. Bahkan maunya hidayah juga instan. Padahal hati manusia bukan tombol lampu yang dipencet langsung nyala.

Ada orang yang bertahun-tahun dinasihati baru sadar. Ada yang setelah dihantam ujian hidup baru kembali kepada Allah.
Ada juga yang dulu paling keras menolak dakwah, eh sekarang malah jadi paling semangat ngaji.

Makanya jangan sombong kalau merasa sudah baik. Dan jangan putus asa kalau orang lain belum berubah.

Imam Asy-Syafi’i pernah berkata, “Kewajibanku adalah menyampaikan kebenaran, bukan memastikan manusia menerimanya.”

Kalimat ini dalam banget. Karena kalau semua hasil harus sesuai keinginan kita, lama-lama dakwah berubah jadi ajang mencari validasi.

Kalau dipuji semangat. Kalau dicibir langsung tumbang. Padahal para nabi dihina lebih parah daripada kita.

Nabi Nuh diejek.
Nabi Ibrahim dibakar.
Nabi Musa dikejar Fir’aun. Nabi Muhammad SAW dilempari batu sampai berdarah.

Tetapi mereka tidak berhenti. Kenapa? Karena mereka sadar bahwa tugas mereka hanya menyampaikan.

Hari ini mungkin tulisan kita dianggap angin lalu. Besok belum tentu. Hari ini keluarga menolak nasihat kita. Besok bisa jadi merekalah yang paling menangis saat mengingat kata-kata kita. Tidak ada satu pun kebaikan yang sia-sia di hadapan Allah.

Maka teruslah berdakwah. Teruslah menulis. Teruslah mengingatkan dengan cinta. Walau pelan. Walau sering sendirian. Walau kadang capek menghadapi manusia yang lebih keras dari tembok ratapan Solo.

Karena bisa jadi satu kalimat sederhana yang kita tulis hari ini menjadi sebab seseorang kembali kepada Allah bertahun-tahun kemudian. Dan saat itu terjadi, kita mungkin bahkan sudah lupa pernah mengucapkannya.

Jadi tenang saja. Semangat terus ya gaes, no baper baper. Dakwah adalah kewajiban Muslim. Sedangkan hasil biarkan menjadi hak Allah SWT.


Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis) 
Baca Juga