Topswara.com -- “Aku kuat kok…” Kalimat itu sering terdengar sederhana. Tetapi tidak semua orang tahu, kadang kalimat itu lahir dari hati yang sudah terlalu lelah untuk menjelaskan.
Di banyak rumah tangga, perempuan diajarkan satu hal sejak awal, yaitu sabar dan taat.
Sabar ketika lelah. Sabar ketika tidak dipahami. Sabar ketika kebutuhan tidak terpenuhi dan taat dalam kondisi apa pun. Namun jarang sekali ada yang bertanya dengan jujur, “Kalau dia terus diminta sabar… siapa yang menjaga hatinya?”
Aku ingin berkata pelan, tetapi tegas, “Sabar itu ibadah, tetapi jangan jadikan itu alasan untuk membiarkan seorang wanita menanggung luka sendirian.”
Karena dalam Islam, sabar bukanlah alat untuk menutup ketidakadilan.
Allah SWT berfirman,
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita karena mereka menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa: 34)
Ayat ini sering dikutip untuk menuntut ketaatan. Tapi sering lupa diingatkan, bahwa ayat ini dimulai dari tanggung jawab. Kepemimpinan dalam Islam bukan hak istimewa. Ia adalah amanah.
Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa kepemimpinan laki-laki mencakup kewajiban menjaga, melindungi, dan menafkahi. Artinya, seorang suami bukan hanya didengar, tetapi juga harus bertanggung jawab atas kesejahteraan istri, lahir dan batin.
Aku ingin kamu dengar kalimat ini baik-baik, “Wanita itu kuat, tetapi bukan berarti dia diciptakan untuk menanggung semuanya sendirian.”
Secara psikologis, tekanan untuk terus “sabar dan taat” tanpa ruang untuk didengar bisa berdampak besar. Perempuan yang terus menahan perasaan, memendam kecewa, dan memaksa dirinya untuk kuat, lama-kelamaan bisa mengalami kelelahan emosional.
Bukan hanya sedih. Tetapi juga cemas, kehilangan rasa aman, bahkan kehilangan dirinya sendiri.
Tubuhnya mungkin tetap berdiri. Tetapi jiwanya perlahan runtuh dan ini sering tidak terlihat. Karena dia tetap memasak. Tetap mengurus anak. Tetap tersenyum di depan orang lain.
Aku ingin berkata jujur, “Tidak semua wanita yang diam itu kuat kadang dia hanya tidak tahu harus bercerita ke siapa.”
Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Seorang suami akan ditanya, bukan hanya tentang nafkah, tetapi juga tentang bagaimana ia memperlakukan keluarganya.
Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani menjelaskan bahwa hubungan suami istri dalam Islam dibangun di atas tanggung jawab dan penjagaan, bukan penindasan atau pembiaran.
Artinya, menjaga mental istri bukan tambahan kebaikan. Itu bagian dari kewajiban. Menjaga kebutuhan fisiknya bukan sekadar memberi uang. Tapi memastikan ia tidak hidup dalam tekanan.
Aku ingin kamu ingat satu kalimat ini, “Perempuan yang terus dipaksa kuat, tanpa pernah dikuatkan perlahan akan kehilangan dirinya.”
Rumah tangga bukan tempat ujian sepihak. Bukan tempat satu pihak diminta bertahan, sementara yang lain bebas mengabaikan.
Jika seorang istri diminta taat, maka suami wajib bertanggung jawab. Jika seorang istri diminta sabar, maka suami wajib menjaga.
Karena dalam Islam, keadilan itu bukan tentang siapa yang paling kuat menahan luka. Tetapi tentang siapa yang paling jujur menunaikan amanahnya.
Sebelum meminta seorang wanita untuk terus sabar, coba tanyakan satu hal, “Sudahkah hatinya dijaga, atau hanya kesabarannya yang terus diuji?”
Karena wanita tidak butuh dituntut kuat setiap hari. Dia hanya butuh satu hal sederhana, dijaga bukan dibiarkan. []
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar