Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pasca Ramadhan, Takwanya Tambah Mantab


Topswara.com -- Ramadhan telah meninggalkan kita. Di bulan penuh berkah ini kita umat Islam telah ditempa dan dilatih secara intensip untuk menjadi orang baik.

Berbagai amal ibadah dilaksanakan, baik ibadah ‘mahdhah’ seperti puasa,shalat, baca Al-Qur’an, zikir dan lainnya, maupun ‘ibadah sosial’ seperti sedekah, silaturahim, zakat, infaq, dan lainnya.

Untuk itu, pasca Ramadhan ini diharapkan kita bisa menjadi orang shalih, baik ‘shalih- individual’ maupun ‘shalih-sosial’, sehingga benar-benar berproses menjadi ‘insan muttaqiin’, manusia yang bertakwa kepada Allah swt. Yakni menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Dan takwa inilah misi puasa Ramadhan sebagaimana firman Allah SWT:

يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا كُتِبَ عَلَيۡکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَۙ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183)

Takwa Buah Ramadhan

Kata takwa atau taqwa berasal dari kata waqâ, yang berarti melindungi. Yaitu, untuk melindungi diri dari murka dan azab Allah subhanahu wa ta’ala. Caranya dengan menjalankan perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan menjauhi segala larangan-Nya. Itulah pengertian takwa.

Takwa adalah capaian tertinggi Ramadhan. Dan ketakwaan inilah yang menentukan derajat kita di sisi Allah.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” (QS al-Hujurat [49]: 13).

Sudahkah dengan upaya kita mendekatkan diri kepada Allah selama bulan Ramadhan, telah menjadikan kita muslim yang bertakwa pasca bulan Ramadan, di 11 bulan lainnya? Yang dahulu suka bermaksiat, kini sudah bertobat. Yang beriman, makin dekat lagi kepada Allah.

Tak Sombong Lagi

Yang dulu angkuh dan sombong, kini sudah menyadari bahwa angkuh dan sombong itu sikap tercela yang sangat dilarang dalam Islam bahkan ancamannyapun gak main-main ‘tak bakalan lansung masuk surga’ 

Simak dan renungkan hadis dibawah ini. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim no. 91).

Bukan main-main, orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan walau hanya seberat biji sawi sekalipun, tidak bakalan bisa masuk surga. Astaghfirullah.

Tak Pelit Lagi

Yang dulu pelit dan bakhil, kini sudah dermawan. Peduli dan hormat kepada orang tua dan kerabat. Peduli dengan anak yatim dan orang miskin dan dhu’afa yang hidupnya ‘senin-kamis’ yang sangat membutuhkan uluran tangan dari kita yang mampu untuk bersedekah kepada mereka yang miskin.

Orang yang berinfak di jalan Allah akan diganti didunia dan dapat pahala yang besar di akhirat sebagaimana firman Allah ta'ala :

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rizki yang terbaik” [Saba’/34 : 39]

Dalam menafsirkan ayat di atas, Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata : “Betapapun sedikit apa yang kamu infakkan dari apa yang diperintahkan Allah kepadamu dan apa yang diperbolehkanNya, niscaya Dia akan menggantinya untukmu di dunia, dan di akhirat engkau akan diberi pahala dan ganjaran, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits ..”( Tafsir Ibnu Katsir 3/595).

Pahala sedekah inilah yang Allah perlihatkan sejak di alam barzah. Tak heran, banyak mereka yang sudah di alam kubur itu menyesal dan ingin balik lagi kedunia walau sebentar untuk bersedekah dan menjadi orang salih. (Baca QS. Al-Munafiqun: 10 ).

Dan semoga pasca Ramadhan, kita umat Islam tambah semangat untuk beribadah. Shalat di awal waktu dan berjamaah. Rajin shalat sunnah, puasa sunnah, tekun baca shalawat nabi, tekun ngaji dan mengkaji kitab suci Al-Qur’an. Punya rasa ‘ghirah’ yang tinggi untuk berdakwah dan beramar makruf nahi munkar. Demi kemulian Islam dan umat Islam.

Takwa itu Bukan Musiman

Jadi agar kita benar-benar menjadi ‘insan muttaqiin’ tentu kita dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya bukan hanya di bulan Ramadhan, tetapi juga di luar Ramadhan. Takwa itu tidak musiman. Karena ibadah yang paling disukai Allah adalah amal ibadah yang istiqamah terus-menerus walau sedikit. (HR. Al-Bukhari).

Terkait itu, ada seorang ulama salaf, Bisyr Al-Hafi mengingatkan:

ﺑﺌﺲ ﺍﻟﻘﻮﻡ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻻ ﻳﻌﺮﻓﻮﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻻ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ. ان الصالح الذي يتعبد ويجتهد السنة كلها. (لطاءؤ المعارف )

“Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan saja. Sesungguhnya orang shalih itu beribadah dan bersungguh-sungguh ibadahnya dalam setahun, semua bulan”.

Di manapun kita berada, dan kapanpun kita hidup, Rasulullah Saw menyuruh kita untuk bertakwa kepada Allah SWT:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: “اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ”

“Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: ‘Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan yang baik maka itu akan menghapuskannya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.'” (HR. Tirmidzi)

Semoga pasca Ramadhan, takwa kita umat Islam tambah mantap, dalam arti benar-benar melaksanakan ajaran Islam dengan baik. Buah takwa inilah yang akan kita bawa mati di alam barzah hingga kita dibangkitkan di Yaumil Akhir. 

Wallahu a’lam.


Oleh: Abdul Mukti 
Pemerhati Kehidupan Beragama 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar