Topswara.com -- Ada hal-hal yang sebenarnya menyakitkan, tapi tidak semua harus kita tanggapi. Tidak semua ucapan perlu dijawab. Tidak semua sikap perlu dilawan. Dan tidak semua luka harus dibalas.
Aku pernah sampai di titik lelah, bukan karena masalahnya terlalu besar, tapi karena terlalu banyak hal kecil yang aku masukkan ke hati.
Orang bicara sedikit… dipikirkan. Orang bertanya… dipendam.
Orang menyinggung…dibawa pulang.
Sampai akhirnya aku sadar satu hal, “Bukan dunia yang terlalu keras, tapi hatiku yang terlalu mudah menerima semuanya.”
Dan sejak saat itu, aku mulai belajar satu akhlak yang jarang dibahas, tapi sangat mahal dalam Islam, yaitu taghaful.
Apa itu taghaful?Taghaful adalah sikap sengaja mengabaikan hal yang tidak perlu,
seolah-olah tidak tahu, tidak dengar, atau tidak melihat demi menjaga hati dan hubungan.
Bukan karena tidak peka. Bukan karena bodoh. Tetapi karena memilih untuk tidak memperbesar hal yang tidak penting.
Aku sering berkata dalam hati, “Aku tahu itu menyakitkan, tapi aku tidak harus menanggapinya.” Inilah taghaful.
Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Sembilan persepuluh akhlak baik ada pada sikap taghaful.”
Bayangkan, 90 persen akhlak itu bukan pada seberapa hebat kita membalas, tapi pada seberapa mampu kita mengabaikan.
Hari ini, banyak orang merasa harus merespons semuanya. Harus menjawab semua pertanyaan. Harus membalas setiap sindiran. Padahal tidak.
Tidak semua orang layak mendapatkan respon kita. Tidak semua ucapan pantas mendapatkan perhatian kita.
Ada orang yang bertanya bukan karena peduli, tapi karena ingin tahu. Ada yang menyinggung bukan karena benar, tapi karena terbiasa (sudah wataknya begitu). Kalau semua itu kita tanggapi, yang lelah bukan mereka, tapi kita.
Aku pernah menenangkan diriku sendiri dengan satu kalimat, “Tidak semua yang sampai ke telinga harus sampai ke hati. Karena kalau semua kita masukkan, maka
hati ini tidak akan pernah tenang.
Rasulullah SAW bersabda, “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)
Artinya, tidak semua harus kita urus. Tidak semua harus kita pikirkan. Kadang kita terlalu sibuk merespon manusia sampai lupa menjaga hati kita sendiri.
Padahal ketenangan itu bukan datang dari memenangkan argumen, tapi dari hati yang tidak mudah terusik.
Belajar taghaful bukan berarti kita tidak punya perasaan. Bukan berarti kita lemah. Justru sebaliknya. Itu tanda kita cukup kuat untuk tidak reaktif. Cukup dewasa untuk tidak terbawa suasana. Cukup bijak untuk memilih mana yang layak ditanggapi dan mana yang cukup dilewati.
Aku sering berkata pada diriku sendiri, “Aku tidak harus menjelaskan semuanya untuk tetap menjadi orang baik.” Karena semakin kita belajar mengabaikan hal yang tidak penting, semakin ringan hidup ini terasa.
Tidak semua harus dijelaskan. Tidak semua harus dipertahankan. Dan tidak semua harus dimenangkan.
Ada saatnya kita cukup tersenyum dan berkata dalam hati, “Aku memilih tenang daripada sibuk melayani hal yang tidak perlu.”
Karena pada akhirnya yang membuat kita lelah bukan masalahnya, tapi cara kita menanggapi semuanya dan sering kali, kedewasaan itu bukan tentang berbicara lebih banyak, tapi tentang memilih diam pada hal yang memang tidak perlu ditanggapi. []
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar