Topswara.com -- Maraknya remaja mengidap penyakit mental menunjukkan fakta lemahnya mentalitas generasi. Buktinya remaja di Indonesia menderita kesehatan mental.
Masalah kesehatan mental salah satu penyebabnya adalah media sosial. Sebut saja kecanduannya digital, cyber bullying, serta paparan terhadap standar kecantikan yang tak realistis menjadi pengaruh paling dominan.
Misalnya remaja yang mempunyai ketergantungan pada media sosial cenderung menutup diri serta terisolasi. Mereka kerap merasa cemas serta kurang percaya diri, sebab kepercayaan diri mereka ditentukan oleh standar media sosial.
Ini menunjukkan kegagalan dalam membina generasi. Sementara generasi adalah salah satu modal dasar dari pembangunan suatu negara. Artinya generasi emas 2045 nyaris mustahil terwujud apabila kondisi buruk itu terus dibiarkan tanpa penanganan yang tepat serta tuntas.
Memang benar pemerintah selaku pemangku kebijakan telah melakukan tindakan praktis untuk menangani permasalahan itu. Misalnya program Generasi Berencana yang difasilitasi Kementerian Kesehatan masih jauh dari realita bahwa faktanya remaja masih saja belum keluar dari persoalan kesehatan mental tersebut.
Sebenarnya, berbagai persoalan yang sekarang menyelimuti remaja bukanlah akar tetapi hanya cabang persoalan semata. Akar persoalan dari masalah yang selama ini menyelimuti tak hanya remaja bahkan seluruh kalangan merupakan penerapan sistem kapitalisme.
Kapitalisme adalah ideologi yang melandaskan aturannya pada sekularisme. Jadi, ideologi tersebut sama sekali tak melibatkan agama sebagai tolok ukur dalam hidupnya. Ide kebebasan yang diadopsi ideologi itu juga turut memberi pengaruh dalam tingkah laku remaja.
Tidak cukup sampai disini, materialisme yaitu menyandarkan segala sesuatu hal pada kesenangan duniawi turut andil memperkuat bertambahnya persoalan.
Sebagai contoh, ide kebebasan membawa remaja terjerumus pada perzinaan, pergaulan bebas, narkoba, sampai tawuran. Materialisme membuat mereka tak ada rasa puas sama sekali. Mereka akan mengusahakan apa yang mereka inginkan dapat terwujud contohnya healing ke tempat mahal, baju serta tas bermerek.
Seperti gaya hidup cenderung hedonis dikarenakan pemikiran materialisme. Apabila tak sanggup memenuhi, mereka akan melakukan segala macam cara. Bagi yang keadaan ekonomi keluarga tipis bukannya menerima justru yang mereka perbuat adalah menekan orang tua agar memenuhi seluruh permintaannya. Apalagi ada yang sampai terjerumus pada jurang prostitusi.
Berdasarkan uraian itu telah jelas bahwa semua itu ditangani bukanlah akar persoalan, tetapi hanya cabangnya saja. Karena itu solusi mendasar yang harus dilakukan adalah menyelesaikan akar masalahnya. Pemerintah harus berani melenyapkan akar persoalan kesehatan mental tersebut tidak sekadar cabang.
Penerapan Islam secara menyeluruh di semua lini mulai dari sistem pemerintahannya, pendidikan, ekonomi, sosial sampai sistem sanksi, akan melindungi manusia terutama remaja dari persoalan kesehatan mental. Yang dapat dilakukan seperti penerapan sistem pendidikan yang berasaskan aqidah Islam yang membuat remaja mempunyai pola pikir serta pola sikap Islam.
Negara juga harus menyiapkan orang tua serta masyarakat agar mendukung proses pembentukan generasi pembangunan peradaban Islam yang mulia serta bermental kuat.
Negara juga akan menetapkan kebijakan untuk menjauhkan remaja dari seluruh pemikiran yang bertentangan dengan Islam, sebab bisa menyebabkan remaja blunder dengan permasalahan hidupnya.
Dengan penjagaan seperti itu akan melahirkan remaja yang berkonsentrasi pada kewajibannya menuntut ilmu supaya berguna. Remaja akan terjaga mentalnya, apalagi negara menjamin seluruh keperluannya. Jadi, hanya Islam yang bisa mengeluarkan remaja dari persoalan kesehatan mental di masa kini. []
Oleh: Dwi Ariyani
(Aktivis Muslimah di Sedayu, Bantul)

0 Komentar