Topswara.com -- Penghujung sebuah perjalanan sering kali menentukan nilainya. Demikian pula Ramadhan. Bulan yang penuh keberkahan ini tidak hanya dinilai dari bagaimana kita memulainya, tetapi juga dari bagaimana kita menutupnya.
Kini Ramadhan hampir sampai di ujungnya. Namun pemandangan yang terlihat di sekitar kita justru menunjukkan kesibukan yang berbeda. Pasar semakin ramai, pusat perbelanjaan dipenuhi pengunjung, dan rumah-rumah mulai sibuk menyiapkan berbagai kebutuhan menjelang Idul Fitri.
Menu khas lebaran pun mulai dipikirkan: ketupat, opor ayam, rendang, hingga aneka kue kering yang akan menghiasi meja tamu.
Memang, Idul Fitri adalah hari kemenangan yang layak disambut dengan kegembiraan. Namun jika kita menengok kehidupan Rasulullah ï·º dan keluarganya, kita akan menemukan suasana yang sangat berbeda pada hari-hari terakhir Ramadhan.
Bagi Rasulullah SAW, sepuluh hari terakhir Ramadhan justru menjadi saat ketika kesungguhan ibadah mencapai puncaknya.
Keistimewaan sepuluh malam terakhir Ramadhan terletak pada keberadaan Lailatul Qadar. Allah menyebutkan dalam Al-Qur’an bahwa malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan. Artinya, amal yang dilakukan pada malam itu memiliki nilai yang melampaui ibadah selama puluhan tahun.
Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, Rasulullah SAW “mengencangkan kainnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ungkapan “mengencangkan kainnya” dipahami oleh para ulama sebagai simbol kesungguhan yang lebih besar dalam beribadah. Malam-malam beliau dipenuhi dengan shalat, tilawah Al-Qur’an, zikir, doa, dan istigfar.
Aisyah juga menuturkan bahwa Rasulullah SAW selalu beritikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga beliau wafat. Setelah itu amalan tersebut terus dilanjutkan oleh istri-istri beliau (HR. Bukhari dan Muslim).
Selama i’tikaf, meski hampir seluruh waktu diisi dengan berbagai bentuk ketaatan individu, namun menariknya, kesungguhan ibadah Rasulullah ï·º tidak menjadikan beliau terputus dari urusan Islam dan kaum muslimin.
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa pada tahun ke-9 Hijriyah Rasulullah SAW tetap menerima berbagai delegasi dari kabilah-kabilah Arab meskipun beliau sedang beritikaf. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kedekatan dengan Allah justru menjadikan seseorang semakin bersemangat berjuang untuk Islam dan umatnya.
Jelaslah, ibadah dalam Islam tidak berhenti pada dimensi individu. Justru dari ibadah itulah lahir kekuatan untuk memperbaiki kehidupan umat Islam.
Karena itu, di tengah berbagai persoalan yang dihadapi dunia Islam hari ini, mulai dari konflik, ketidakadilan, hingga berbagai krisis kemanusiaan, doa-doa pada malam-malam terakhir Ramadhan seharusnya tidak hanya dipanjatkan untuk kepentingan pribadi. Ia juga menjadi doa bagi keselamatan dan kebangkitan umat.
Hubungan yang intens dengan Allah adalah sumber kekuatan untuk memperbaiki kehidupan, baik pada tingkat individu, masyarakat, maupun negara.
Demikianlah teladan Rasulullah SAW pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Beliau menunjukkan bahwa penghujung Ramadhan bukanlah waktu untuk mengendurkan ibadah, tetapi justru saat ketika kesungguhan harus mencapai puncaknya.
Maka pertanyaannya kembali kepada kita: sudahkah kita benar-benar menghidupkan malam-malam terakhir Ramadhan?
Jika semangat ini mampu dihidupkan kembali, Ramadhan tidak sekadar menjadi bulan ritual yang datang dan pergi setiap tahun. Ia akan menjadi momentum perubahan bagi diri seorang muslim dan masa depan umat Islam. []
Oleh: Dewi Masitho, M.Si.
(Aktivis Dakwah)

0 Komentar