Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Manusia Akan Pergi, Dakwah dan Karya yang Tetap Menemani


Topswara.com -- Ada satu fase dalam hidup yang sering tidak kita sadari datangnya. Fase ketika dunia perlahan berubah. Rumah yang dulu ramai mulai sunyi. 

Anak-anak yang dulu berlarian di ruang tamu kini sibuk dengan kehidupan mereka sendiri. Teman-teman yang dulu sering bercanda mulai jarang terlihat, karena masing-masing sedang menghadapi ujian hidupnya.

Ada yang sibuk dengan anak dan cucunya. Ada yang sibuk dengan pekerjaannya. Ada pula yang mulai sibuk dengan penyakitnya.
Di titik itu kita mulai menyadari satu kenyataan bahwa dunia ini tidak pernah benar-benar milik kita.

Pasangan yang dulu selalu ada di samping kita, suatu saat bisa pergi lebih dulu. Teman-teman yang dulu terasa begitu dekat, perlahan menjauh karena jarak, kesibukan, atau takdir yang berbeda.

Jika hidup kita hanya diisi oleh manusia, maka ketika manusia itu pergi, yang tersisa hanyalah rasa sepi. Karena itu suatu hari aku berkata pada diri sendiri, "Kalau hidup hanya diisi oleh manusia, maka kesepian adalah sesuatu yang pasti. Tapi kalau hidup diisi dengan dakwah dan karya, maka kesepian tidak akan pernah benar-benar ada."

Dakwah dan karya adalah dua hal yang tidak pernah meninggalkan kita. Bahkan ketika manusia tidak lagi berada di sekitar kita, dua hal ini tetap setia menemani.

Tulisan yang kita buat hari ini bisa dibaca orang bertahun-tahun kemudian. Ilmu yang kita bagikan bisa menjadi manfaat bagi orang yang bahkan tidak pernah kita temui.

Inilah yang sering dilupakan oleh banyak orang. Mereka sibuk mengejar kesenangan dunia, tetapi lupa membangun sesuatu yang melampaui dunia.

Imam Hasan Al-Bashri pernah berkata, "Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka sebagian dari dirimu ikut pergi."

Kalimat ini sederhana, tetapi sangat dalam maknanya. Setiap hari yang kita jalani sebenarnya adalah bagian dari umur yang sedang berkurang. Lalu pertanyaannya menjadi sangat penting,

Apa yang kita tinggalkan dari umur itu? Apakah hanya cerita dunia? Ataukah ada amal yang terus hidup setelah kita tidak ada?

Rasulullah SAW bersabda, "Jika manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya" (HR. Muslim).

Perhatikan satu hal yang sangat indah dari hadis ini. Salah satu amal yang tidak terputus adalah ilmu yang bermanfaat. Itulah dakwah. Itulah karya.

Tulisan, nasihat, ilmu, atau bahkan satu kalimat yang membuat orang kembali kepada Allah bisa menjadi amal yang terus mengalir pahalanya, bahkan ketika kita sudah berada di alam yang berbeda.

Syaikh Ibnu Atha’illah As-Sakandari dalam Al-Hikam pernah mengingatkan, "Janganlah engkau merasa sepi karena sedikitnya teman. Cukuplah Allah sebagai temanmu."

Kalimat ini seperti menenangkan hati kita. Kesepian bukanlah masalah jika hati kita dekat dengan Allah dan hidup kita dipenuhi oleh amal yang bermakna.
Karena sejatinya, manusia memang diciptakan untuk datang dan pergi. Tetapi amal kebaikan bisa terus tinggal.

Aku sering berkata dalam hati, "Kalau suatu hari nanti semua manusia sibuk dengan kehidupannya masing-masing, setidaknya dakwah dan karya akan tetap menemani perjalanan hidupku."

Bayangkan betapa indahnya jika suatu hari kita sudah tidak lagi berada di dunia ini, tetapi tulisan kita masih dibaca. Nasihat kita masih menguatkan orang lain. Dakwah kita masih menjadi jalan seseorang mengenal Allah. Itulah kehidupan yang tidak benar-benar berakhir.

Imam Ibnul Qayyim pernah mengatakan bahwa orang yang paling merugi adalah mereka yang hidupnya habis hanya untuk dunia, sementara dunia sendiri tidak pernah benar-benar tinggal bersamanya.

Karena itu jangan biarkan hidup kita kosong. Jangan biarkan waktu luang hanya diisi oleh hal-hal yang tidak memberi makna.

Isi hari-hari dengan dakwah. Isi umur dengan karya. Bukan untuk terkenal.
Bukan untuk dipuji. Tetapi agar ketika manusia mulai menjauh satu per satu, kita tetap memiliki sesuatu yang setia menemani, yaitu amal yang tidak pernah meninggalkan kita.

Karena pada akhirnya, dunia memang tidak selamanya ada. Pasangan tidak selamanya di samping kita. Teman tidak selamanya bersama kita. Tetapi amal yang lahir dari dakwah dan karya akan tetap berjalan, bahkan ketika kita sudah berada di alam yang berbeda.

Dan di sanalah kita akan memahami satu kebenaran yang menenangkan hati bahwa hidup yang paling tidak sepi adalah hidup yang diisi dengan kebaikan. []


Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis) 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar