Topswara.com -- Remaja adalah masa transisi dari anak-anak menuju dewasa, dimana pemikiran, akal, dan taklif kewajiban baru sampai kepadanya ketika mereka mengalami tanda-tanda baligh.
Pada masa itu peran orang tua sangatlah penting memberikan edukasi kepada remaja tersebut, karena secara emosional mereka masih belum bisa mengendalikan, namun secara taklif (mukallaf) mereka sudah memiliki tanggungjawab terhadap dirinya, dan Tuhannya.
Mereka mempunyai kewajiban dan mempunyai catatan amal perbuatan yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Namun bagaimana perkembangan remaja dalam sistem kapitalisme sekularisme saat ini? Dimana remaja identik dengan kekerasan dan pergaulan bebas tanpa batas. Bagaimana ini bisa terjadi?
Miris, terjadinya kasus pembacokan di Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Riau, saat mahasiswi sedang menunggu sidang proposal. Peristiwa penganiayaan terjadi di lantai dua Fakultas Syari'ah dan Ilmu Hukum, mahasiswi bernama Faradilla Ayu di bacok mahasiswa berinisial RM.
Korban mengalami luka dibagian kepala dan tangan. Petugas keamanan kampus berhasil menangkap pelaku dan menyerahkan ke polsek Bina Widya, kota Pekanbaru, dan korban di larikan ke Rumah sakit. Kasus ini di latarbelakangi motif hubungan pribadi. (26/02/2026. Metrotvnews.com).
Tidak di pungkiri, prilaku pemuda saat ini kerap kali dekat dengan aksi kekerasan, pembunuhan, dan gaul bebas, terjerat narkoba, pinjol, dan judi online. Ini semua menunjukkan kegagalan sistem pendidikan sekular dalam membentuk generasi berkepribadian mulia.
Orang tua yang bertanggungjawab dalam pembentukan generasi dianggap gagal dalam mendidik, padahal bukan hanya tanggungjawab orang tua, ataupun individu, ini adalah tanggungjawab negara dalam memberikan pendidikan karakter kepada generasi muda.
Selain itu dalam diri remaja, sekularisme juga membentuk standar kebebasan dan bertindak semaunya, tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain, normalisasi nilai-nilai liberalisme menjadi bumbu pelengkap, khususnya pergaulan bebas, seperti pacaran, perselingkuhan dan lain-lain.
Pelaku remaja akan merasa puas jika keinginan dari hawa nafsunya tersalurkan, walaupun pada akhirnya akan berakhir dengan pelanggaran hukum dan terancam masuk penjara.
Inilah negara dengan sistem kapitalisme sekularisme, dinilai kurang memprioritaskan pembinaan generasi, sehingga generasi sering dipandang hanya sebagai faktor ekonomi yang bernilai produktif dan berorientasi pada materi, bukan pada pembentukan atau persiapan generasi muda sebagai tonggak peradaban.
Berbeda halnya dengan Islam, Islam membangun sistem pendidikan atas dasar akidah Islam. Dengan tujuan membentuk keperibadian Islam yaitu pola pikir dan pola sikap Islam yang sesuai dengan nilai syari'at.
Generasi diberikan pendidikan untuk memiliki kesadaran taat kepada syari'at, halal haram, tanggungjawab dan ketakwaan, bukan hanya fokus capaian akademik saja atau keterampilan, namun pada pengenalan tujuan hidup, makna hidup, hingga siapnya memimpin dunia dengan peradaban Islam yang mulia.
Tidak hanya itu, dalam Islam, masyarakat saling mengingatkan dalam kebaikan menentang kemaksiatan, sehingga tercapai suasana yang saling mendukung ketaatan dan menjauhkan dari prilaku menyimpang.
Negara dalam Islam (khilafah) menerapkan aturan dan sanksi sesuai hukum Islam untuk memberi efek jera, menjaga keamanan serta kehormatan masyarakat. Dan masyarakat akan merasakan nyaman, tentram dalam menjalankan aturan Allah SWT.
Wallahu alam bishawab.
Oleh: Ade Siti Rohmah
Aktivis Muslimah

0 Komentar