Topswara.com -- Subuh ini bukan sekadar dingin yang menusuk tulang, tetapi juga berita yang menusuk akal sehat.
Kampus hukum. Tempat yang katanya mencetak penjaga keadilan. Tempat lahirnya orang-orang yang kelak berdiri di depan, membawa nama “kebenaran”. Eh, yang muncul malah grup chat berisi pelecehan. Astaghfirullah.
Ini lagi belajar hukum, atau lagi menguji seberapa jauh bisa melanggar tanpa rasa bersalah? Lebih ironis lagi, pelakunya bukan anak kemarin sore. Bukan orang jalanan. Tetapi mahasiswa yang katanya intelektual.
Di sinilah kita harus jujur. Masalah ini bukan sekadar “oknum”. Kalau cuma satu dua orang, mungkin bisa dibilang menyimpang. Tapi kalau belasan bahkan lebih, itu bukan lagi kebetulan. Itu produk. Produk dari sistem yang memisahkan ilmu dari iman (agama). Produk dari kehidupan yang menjadikan kebebasan sebagai Tuhan baru.
Hari ini mereka tertawa di grup chat, merendahkan perempuan seolah itu hiburan. Besok? Bisa jadi mereka duduk di kursi kekuasaan, membuat kebijakan tanpa rasa takut kepada Allah. Dan di situlah tragedi sebenarnya dimulai. Karena masalahnya bukan sekadar pelecehan. Masalahnya adalah cara pandang.
Perempuan tidak lagi dilihat sebagai manusia mulia, tetapi sebagai objek yang bisa dibahas, dinilai, bahkan direndahkan. Padahal dalam Islam, kehormatan itu dijaga begitu tinggi.
Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap wanita.”
Kalimat ini sederhana, tapi berat. Karena ukuran “baik” dalam Islam bukan di depan publik, tapi saat tidak ada yang melihat.
Saat di grup chat. Saat di ruang privat. Saat tidak ada kamera. Di situlah akhlak asli terlihat. Dan hari ini, kita melihat wajah asli itu.
Menyedihkan? Iya. Mengejutkan? Tidak juga. Karena ketika sistem kehidupan dibangun di atas sekularisme
(memisahkan agama dari kehidupan), maka yang tersisa hanyalah standar manusia.
Dan standar manusia itu berubah-ubah.bHari ini salah, besok bisa jadi “cuma bercanda”. Hari ini haram, besok jadi “hak kebebasan berekspresi”. Lalu apa yang tersisa? Kerusakan yang dianggap normal.
Di sinilah relevan apa yang disampaikan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani bahwa kerusakan masyarakat bukan sekadar karena individu yang buruk, tetapi karena sistem kehidupan yang rusak dalam membentuk pola pikir dan pola sikap manusia.
Ketika akidah tidak dijadikan asas kehidupan, maka hukum Allah ditinggalkan, dan manusia akan membuat standar sendiri sesuai hawa nafsunya.
Beliau juga menjelaskan bahwa peradaban Barat yang sekuler melahirkan kebebasan tanpa batas, termasuk dalam interaksi laki-laki dan perempuan, sehingga kehormatan tidak lagi dijaga, melainkan dieksploitasi.
Dan kita sedang melihat buahnya hari ini. Inilah kenapa masalah seperti ini terus berulang. Bukan karena kurang sosialisasi. Bukan karena kurang aturan. Tetapi karena kehilangan akar. Islam tidak hanya mengatur tindakan, tetapi juga membentuk cara berpikir.
Menjaga pandangan. Menjaga lisan. Menjaga kehormatan. Bahkan sebelum pelanggaran itu terjadi. Bukan menunggu viral dulu baru sibuk klarifikasi.
Kalau dari awal sudah dibangun dengan iman, maka grup chat pun akan dijaga. Bukan diisi dengan hal-hal yang mengundang murka Allah. Dan di sinilah kita harus berani berkata solusi bukan tambal sulam. Bukan sekadar sanksi kampus. Bukan sekadar pernyataan maaf. Tetapi perubahan sistem. Sistem yang tidak hanya mencetak orang pintar, tapi juga orang yang takut kepada Allah.
Sistem yang menjadikan halal-haram sebagai standar, bukan suka-tidak suka. Sebagaimana ditegaskan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, bahwa kebangkitan umat hanya akan terjadi jika Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, bukan sekadar sebagai nilai moral individu.
Karena kalau tidak, maka kita hanya akan terus memproduksi generasi yang cerdas, tetapi kosong. Pintar berbicara tentang keadilan, tetapi gagal menjaga kehormatan.
Subuh ini harusnya jadi momen jujur. Bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Dan kalau kita masih menganggap ini “kasus biasa”… maka tunggu saja. Yang lebih besar akan datang, na'udzubillah. []
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar