Topswara.com -- Berbagai harapan tersematkan pada generasi muda, apalagi bagi bangsa Indonesia yang akan mengalami ledakan populasi usia muda yang disebut dengan bonus demografi.
Besar harapan akan bangkitnya negeri tercinta dengan segala potensi generasi muda. Namun apadaya, fenomena meningkatnya gangguan kesehatan jiwa generasi muda kini menjadi perhatian serius di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Generasi harapan bangsa justru banyak menghadapi kecemasan, depresi, krisis identitas, hingga perilaku menyimpang.
Kondisi kehidupan generasi muda sering menjadi pemicu lemahnya mental bahkan hingga memutuskan mengakhiri hidupnya. Data Kementerian Kesehatan yang merujuk pada laporan layanan kesehatan mental Healing119.id dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa terdapat empat faktor utama yang memicu keinginan anak untuk mengakhiri hidup.
Faktor terbesar adalah konflik keluarga atau masalah pengasuhan yang mencapai 24–46 persen, disusul masalah psikologis (8–26 persen), perundungan atau bullying (14–18 persen), serta tekanan akademik (7–16 persen) (BBSNews.id (8/3))
Data ini tentu membuat kita merasa miris.
Namun jika ditelaah lagi, kondisi yang disebutkan itu hanyalah pemicu semata. Persoalan sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari sistem kehidupan yang mendominasi masyarakat saat ini, yakni tatanan kehidupan yang diwarnai dengan sekuler-liberal.
Kehidupan sekuler liberal memisahkan agama dari pengaturan kehidupan publik dan menjadikan kebebasan individu sebagai nilai utama. Keberhasilan manusia lebih diukur dari pencapaian materi: kekayaan, popularitas, jabatan, dan prestasi duniawi.
Paradigma ini perlahan membentuk cara pandang masyarakat terhadap makna kesuksesan. Anak-anak sejak dini didorong mengejar prestasi akademik, masuk sekolah terbaik, dan memperoleh pekerjaan dengan penghasilan tinggi. Ukuran kebahagiaan pun direduksi hanya pada keberhasilan materi.
Akibatnya, generasi muda tumbuh dalam tekanan yang besar. Mereka merasa harus selalu tampil berhasil di mata lingkungan. Ketika tidak mampu mencapai standar tersebut, perasaan gagal, rendah diri, dan kecemasan mudah muncul.
Orientasi hidup yang semata bersifat material juga berpotensi menimbulkan kekosongan makna hidup.Kondisi inilah yang menjadi salah satu faktor meningkatnya krisis kesehatan jiwa di kalangan generasi muda.
Di sisi lain, dengan adanya hegemoni media global yang dikuasai oleh kepentingan pemodal kapitalisme, media tidak hanya menyajikan informasi, tetapi juga membentuk cara pandang, gaya hidup, serta standar nilai dalam masyarakat.
Melalui berbagai konten hiburan, film, musik, dan media sosial, masyarakat terus disuguhi narasi yang menonjolkan gaya hidup hedonistik, individualistik, dan konsumtif.
Kondisi ini diperparah oleh sistem pendidikan yang belum sepenuhnya berpijak pada akidah dan syariat Islam. Kurikulum dirancang untuk menghasilkan individu yang unggul secara akademik dan profesional, namun belum tentu memiliki kepribadian yang kokoh secara spiritual.
Padahal, dalam pandangan Islam, pendidikan diarahkan untuk menjadikan manusia sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi, dengan akidah kokoh, akhlak mulia, dan tanggung jawab untuk mengelola sumberdaya di bumi dengan baik sesuai aturan Sang Maha Pencipta.
Ramadhan seharusnya menjadi momentum penting untuk melakukan refleksi dan perubahan. Bulan suci ini juga bisa dijadikan momen untuk membangkitkan revolusi mental dalam diri umat, khususnya generasi muda. Ramadhan mengajarkan pengendalian diri, kesabaran, empati sosial, serta kedekatan spiritual dengan Allah.
Keluarga memiliki peran utama dalam proses ini. Ramadhan menjadi sarana keluarga untuk memperkuat ikatan spiritual melalui ibadah bersama, tilawah Al-Qur’an, serta diskusi tentang nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat menanamkan pemahaman tentang tujuan hidup yang hakiki.
Masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang saling mengingatkan dalam kebaikan. Kegiatan Ramadhan, seperti kajian, kegiatan sosial, dan kebersamaan dalam ibadah, bisa menjadi sarana memperkuat keimanan di tengah kehidupan materialistik.
Lebih dari itu, negara juga memiliki peran strategis dalam membentuk arah kehidupan masyarakat. Kebijakan yang diambil seharusnya mendukung terwujudnya sistem pendidikan, media, dan lingkungan sosial yang selaras dengan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Dengan demikian, Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk membangun kesadaran kolektif bahwa untuk mewujudkan revolusi kesehatan jiwa generasi muda dibutuhkan perubahan paradigma yang lebih mendasar, mengembalikan nilai Islam sebagai fondasi kehidupan individu, keluarga, masyarakat, dan negara.
Dengan fondasi tersebut, generasi muda tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan stabil secara mental dalam menghadapi tantangan kehidupan.
Oleh: Muthi' Ekawati Rahayu
Founder Komunitas Baiti Jannati Malang

0 Komentar