Topswara.com -- Belakangan ini, publik lagi-lagi disuguhkan kabar yang bikin dada sesak. Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, disebut menerima teror setelah bersurat ke UNICEF soal hak pendidikan, menyusul tragedi anak SD 10 tahun di NTT yang bunuh diri karena tak mampu membeli alat tulis Rp10 ribu. Di waktu berbeda, mahasiswa BEM UI juga mengalami teror menjelang pemilihan ketua, mulai dari doxing sampai kiriman paket misterius.
Belum lagi kasus penangkapan dan intimidasi terhadap aktivis mahasiswa di berbagai kampus. Bahkan muncul konsolidasi nasional dengan slogan keras: “Darurat Polisi Pembunuh”, “Stop Brutalitas Aparat”, “Reformasi Polri”. Pertanyaannya kenapa pola kekerasan aparat ini seperti terus berulang?
Sistem Sekuler dan Akar Masalahnya
Dalam sistem sekuler, agama dipisahkan dari kehidupan. Hukum dibuat berdasarkan kompromi politik dan kepentingan kekuasaan, bukan wahyu. Akibatnya, aparat negara termasuk polisi dibentuk lebih sebagai alat stabilitas kekuasaan ketimbang pelindung rakyat.
Kalau fondasinya bukan iman dan takwa, wajar kalau lahir aparat yang gampang arogan, represif, dan antikritik. Reformasi struktural tanpa mengganti sistem dasarnya cuma seperti ganti casing tapi mesin tetap sama. Mau rebranding segimana pun, kalau mindset-nya sekuler yang penting kekuasaan aman maka tindakan sewenang-wenang akan terus jadi potensi.
Islam sudah wanti-wanti soal kezaliman. Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)
Artinya, bahkan terhadap pihak yang kita tidak suka pun, keadilan tetap wajib ditegakkan. Apalagi terhadap rakyat sendiri.
Rasulullah ï·º juga bersabda: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena apabila orang terpandang mencuri mereka biarkan, tetapi apabila orang lemah mencuri mereka tegakkan hukuman atasnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini relate banget, hukum tak boleh tajam ke bawah, tumpul ke atas. Kalau ada korban tewas di tangan aparat tapi tak jelas keadilannya, itu alarm keras bahwa sistemnya bermasalah.
Islam Punya Konsep Aparat yang Bermartabat
Dalam kitab Ajhizah Daulah Al Khilafah, kepolisian berada di bawah Departemen Keamanan Dalam Negeri. Polisi adalah alat negara untuk menjaga keamanan, tapi semua tugasnya terikat hukum syara’, bukan pesanan penguasa.
Polisi dalam Islam bukan sekadar profesi, tapi amanah. Karakter yang wajib dimiliki bukan cuma fisik kuat, tapi juga syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam).
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” (QS. An-Nisa’: 58)
Amanah dan adil, dua kata kunci ini. Polisi harus ikhlas, tawadhu’, nggak arogan, penyayang, bijak, menjaga lisan, berani karena benar, bukan berani karena punya backing kekuasaan.
Rasulullah ï·º bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Polisi sadar betul bahwa setiap tindakan akan dihisab di hadapan Allah. Bukan cuma dinilai atasan atau publik.
Dalam praktiknya, pencegahan kejahatan dilakukan dengan edukasi, pengawasan, dan pembinaan. Kalau ada tindak kriminal, eksekusinya berdasarkan keputusan hakim yang independen, bukan emosi aparat di lapangan.
Soal Nyawa, Islam Nggak Main-Main
Kalau sampai ada pembunuhan, Islam punya mekanisme jelas. Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh…”
(QS. Al-Baqarah: 178)
Dalam kasus tertentu, keluarga korban bisa mendapatkan diyat (tebusan) sebesar 100 ekor unta nilai yang sangat besar di masa itu. Intinya, nyawa manusia itu mahal. Negara wajib hadir memastikan keadilan benar-benar ditegakkan, bukan ditutup-tutupi.
Bandingkan dengan realita sekarang: berapa banyak kasus kekerasan aparat yang menguap tanpa kejelasan? Ketika penguasa dalam sistem sekuler lebih sibuk menjaga citra institusi daripada membela korban, kepercayaan publik makin runtuh.
Aktivis, Jangan Cuma Teriak Reformasi
Anak muda hari ini kritis, dan itu keren. Tapi kalau cuma berhenti di slogan “reformasi” tanpa menyentuh akar sistemnya, perubahan bakal setengah-setengah. Sistem sekuler memang nggak dirancang untuk melahirkan aparat yang takut kepada Allah. Ia dirancang untuk menjaga stabilitas kekuasaan.
Islam menawarkan sesuatu yang lebih fundamental yaitu sistem yang menjadikan akidah sebagai fondasi negara. Ketika hukum Allah diterapkan secara kaffah, aparat bukan alat represi, tapi pelayan umat.
Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah).”
(QS. Al-Baqarah: 208)
Kaffah artinya total, nggak setengah-setengah. Termasuk dalam sistem hukum dan keamanan.
Kalau kita pengin aparat yang bermartabat, yang nggak gampang intimidatif, yang berdiri di sisi rakyat, maka yang perlu direvolusi bukan cuma institusinya tetapi sistemnya. Sudah saatnya aktivis dan generasi muda nggak cuma menuntut reformasi parsial, tapi berani menyuarakan penerapan Islam secara menyeluruh dalam kehidupan.
Karena pada akhirnya, aparat yang takut pada Allah akan lebih sulit untuk zalim pada manusia.
Wallahu a'lam bishshawab.
Oleh: Ema Darmawaty
Praktisi Pendidikan

0 Komentar