Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Rapuhnya Kesehatan Jiwa Disistem Kapitalisme


Topswara.com -- Kesehatan jiwa anak semakin rapuh ditengah kehidupan sekuler, yakni kehidupan yang memisahkan aturan agama dengan aturan hidup manusia. 

Banyak remaja yang mengalami depresi bahkan bunuh diri karena berbagai tekanan yang dialaminya. Sementara itu pemerintah mengambil langkah-langkah untuk menyelesaikan krisis tersebut dengan menggandeng beberapa kementrian dan lembaga kemasyarakatan untuk menyelesaikan persolan ini.

Pemerintah mengambil langkah tegas dalam menangani krisis kesehatan jiwa anak di Indonesia. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, bersama delapan pimpinan Kementerian/Lembaga (K/L) lainnya resmi menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak, dikutip dari kemenpppa.go.id (5/3).

Apakah keputusan bersama yang ditempuh beberapa kementrian maupun lembaga tersebut ampuh untuk menyelesaikan krisis kesehatan jiwa remaja?

Sangat miris jika melihat data yang menunjukkan bahwa pemicu anak untuk mengakhiri hidup ternyata sangat tinggi. Konflik keluarga misalnya menyebabkan anak bundir mencapai 24-26 persen, psikologis 8-26 persen, perundungan 14-18 persen, tekanan akademik 7-16 persen, dikutip dari data KPAI.

Jadi jika melihat data tersebut masalahnya sangat kompleks yang menyebabkan rapuhnya Kesehatan jiwa remaja. Untuk itu solusinya juga harus kompleks. Dari masalah keluarga, sistem sosial hingga sistem pendidikan harus dibenahi.

Memang sistem saat ini yaitu sekuler tidak memberikan jaminan kesehatan jiwa dikarenakan tidak diaturnya kehidupan ini dengan nilai agama, akhirnya remaja saat ini terjerumus dalam hedonisme dunia. Boro-boro memikirkan akhirat, berakhlak bertutur kata yang baik, berperilaku yang sopan saja tidak banyak yang paham.

Mereka berlomba-lomba mengejar materi menjadikan dirinya sukses tapi dengan standar Barat. Kejujuran dikesampingkan, ketakwaan kepada Allah SWT diabaikan, hingga tidak tahu arah tujuan hidup yang benar.

Di bidang pendidikan misalnya, nilai bagus menjadi penentu syarat kelulusan, ini akan menjadi problem di pendidikan kita. Asalkan nilai bagus apapun itu dilakukan, gas pol terus walau perbuatan itu curang. 

Karena sistem kita seperti ini terus mental yang terbentuk pada generasi muda sangatlah lemah, karena orientasi hidup terlalu rendah. Tidak merasa di awasi Allah SWT ketika melakukan aktivitas dunia.

Sedikit sekali sistem pendidikan mengajar kepemimpinan, keberanian untuk menyuarakan kebenaran, melatih menjadi pribadi yang tangguh ketika menghadapi kesulitan hidup. 

Sehingga ketika anak remaja mendapatkan masalah baik dalam lingkungan keluarga, pertemanan, atau pun dalam bidang akademik mereka tidak kuat menghadapi realita yang ada.

Pada akhirnya mereka memilih jalan pintas untuk keluar dari masalah tersebut, yaitu dengan mengakhiri hidupnya. Melakukan pelanggaran syariat hingga merugikan dirinya sendiri. Tidak ada lagi pikiran dosa yang akan ditanggung ketika kelak dihisab di akhirat. 

Sehingga sangat mudah sekali remaja melakukan bunuh diri karena susah mentok tidak punya solusi.

Hal ini menunjukkan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat semakin tergerus oleh nilai-nilai sekuler liberal dengan hegemoni media kapitalisme global. Mereka menetapkan kesuksesan itu dengan banyaknya materi. Bukan berdasarkan ketaatan pada syariat Allah subhanahu wa ta'ala. 

Maka wajar halal haram mereka abaikan yang penting senang di dunia di akhirat tidak dipikirkan. Pendidikan di keluarga, di sekolah dan di lingkungan masyarakat tidak berpijak pada aqidah dan syariat Islam. Maka tidak dipungkiri lagi banyak remaja yang terjerumus ke dalam permasalahan hidup yang mereka tidak tahu solusinya. 

Islam hadir untuk menyelamatkan manusia agar mereka bahagia di dunia dan di akhirat. Bagaimana manusia bisa bahagia tanpa tahu aturan dari sang pencipta Allah SWT. 

Maka dari itu pentingnya negara melakukan tanggung jawabnya sebagai pengurus dan pelindung. Melindungi anak dan keluarga dari kerusakan nilai liberal kapitalistik.

Paradigma politik dalam sistem pendidikan kesehatan dan sistem ekonomi harus terintegrasi diatur berdasarkan syariat Islam. 

Tentunya dengan menerapkan syariah Islam kaffah semua itu akan berjalan dengan mudah karena sistem yang terbentuk sudah mengatur sesuai dengan kehidupan Islam. Krisis kesehatan jiwa remaja bisa ditangani dengan sistem Islam yang diterapkan secara sempurna.


Oleh: Munamah
Aktivis Muslimah
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar