Topswara.com -- Demokrasi yang diterapkan dalam kehidupan umat Islam dapat menghalangi diraihnya predikat takwa. Karenanya demokrasi harus segera dibuang agar predikat takwa dapat diraih.
Secara akidah, demokrasi dan predikat takwa sangat bertolak belakang.
Demokrasi berlandaskan pada akidah sekulerisme sedangkan untuk meraih predikat takwa mengharuskan seseorang untuk berakidah Islam.
Akidah sekulerisme adalah sebuah akidah yang mengharuskan manusia untuk memisahkan agama dari kehidupan. Meskipun tidak menafikan adanya pencipta, namun sekulerisme menafikan peran pencipta dalam mengatur kehidupan.
Akidah sekulerisme ini tentunya bertolak belakang dengan Islam. Sebab, Islam meyakini adanya pencipta sekaligus mengharuskan umat manusia tunduk pada aturan dari pencipta.
Dengan berakidah pada sekulerisme, mau tidak mau demokrasi akan mendorong para penganutnya mengesampingkan peran agama dalam kehidupan publik. Tidak heran dalam kehidupan politik demokrasi sering terdengar pernyataan untuk tidak membawa-bawa agama dalam urusan politik.
Mengesampingkan peran agama ini sangat jauh dari sifat orang yang berpredikat takwa yang senantiasa memperhatikan ajaran Islam dalam menjalani kehidupannya.
Kebebasan yang dijamin dalam demokrasi berupa kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan berprilaku dan kebebasan berekonomi menambah rusaknya akidah, pemikiran dan perilaku umat Islam hingga makin jauh dari predikat takwa.
Kebebasan beragama bukan hanya menjauhkan umat Islam dari predikat takwa, bahkan lebih dari itu dapat menjauhkan umat Islam dari akidah Islam.
Dalam Islam, memegang teguh akidah Islam hingga akhir hayat adalah pilihan yang tidak bisa dibayar dengan apapun. Setiap muslim tidak bisa bebas berpindah agama (murtad) kecuali akan diganjar dengan hukuman mati.
Kebebasan berpendapat yang dijamin dalam sistem demokrasi telah merusak pemikiran umat Islam yang tentunya semakin menjauhkan umat Islam dari predikat takwa.
Dengan kebebasan berpendapat berkembanglah berbagai pemikiran rusak seperti sekulerisme, komunisme, sosialisme, liberalisme dan isme-isme lainnya yang bertentangan dengan pemikiran Islam yang berlandaskan pada akidah Islam.
Ketika seorang muslim memiliki pemikiran yang bertentangan dengan akidah Islam, maka mustahil baginya meraih predikat takwa.
Kebebasan berprilaku jelas berperan langsung dalam merusak pola sikap umat Islam. Alih-alih meraih predikat takwa, umat Islam justru dibuat menjadi ahli maksiat. Padahal, untuk menjadi orang yang bertakwa setiap muslim wajib mengikat dirinya baik pemikiran maupun perilakunya agar sesuai dengan Syari’at Islam.
Kebebasan berekonomi telah berhasil mengakomodir nafsu dari manusia-manusia tamak dan rakus, sekaligus menimbulakan berbagai kerusakan di muka bumi.
Makin lebarnya kesenjangan antara orang kaya dan miskin, juga merupakan andil dari kebebasan berekonomi yang dijamin oleh demokrasi. Pada akhirnya kebebasan berekonomi semakin menjauhkan umat Islam dari predikat takwa.
Belum lagi jargon demokrasi yang terkenal yaitu dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat tersirat prinsip yang mengesampingkan aturan Allah Subhanahu wa ta’ala. Pasalnya jargon dari rakyat yang berarti kedaulatan ada di tangan rakyat telah menjadikan rakyat yang notabenenya adalah manusia sebagai pembuat hukum.
Padahal dalam Islam, yang berhak membuat hukum adalah Allah Subhanahu wa ta’ala. Sementara predikat takwa hanya bisa diraih ketika hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diturunkan melalui wahyu kepada Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wasallam berupa alqur’an dan hadis dapat diterapkan secara keseluruhan.
Jelaslah bahwa demokrasi berperan langsung dalam merusak akidah, pemikiran dan perilaku umat Islam. Sehingga dapat dikatakan demokrasi merupakan salah satu penghalang bagi umat Islam dewasa ini untuk meraih predikat takwa.
Karena itu jika umat Islam benar-benar menginginkan predikat takwa sebagaimana tujuan dari ibadah puasa Ramadhan, maka harus membuang jauh-jauh sistem demokrasi dalam kehidupan dan menjadikan kehidupannya hanya mau diatur dengan aturan Allah secara keseluruhan.
Oleh: Muhammad Syafi'i
Aktivis Dakwah

0 Komentar