Topswara.com -- Genap sudah, dua bulan kita menjalani tahun 2026 dengan berbagai cerita dan fenomena yang banyak menyesakkan dada. Terlebih lagi, saat ini kita sedang memasuki bulan suci Ramadan yang semestinya dijalani dengan sukacita dan totalitas dalam beribadah dan mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa.
Namun, kita disuguhkan dengan ujian yang sangat berat sebagai bagian dari kaum muslim yang hidup menjadi WNI. Ujian bertubi-tubi datang dari berbagai kebijakan penguasa yang zalim dan tidak berpihak pada rakyat.
Di tengah kemelut dalam negeri mulai dari program MBG yang menelan pos anggaran lain yang lebih penting, saudara kita di Aceh dan Sumatera masih berkubang dalam penderitaan bencana. Saudara kita yang lain harus menerima pil pahit dari pemerintah dengan kebijakan penonaktifan sebelas juta peserta BPJS PBI secara tiba-tiba.
Kebijakan lain yang tidak kalah menyakitkan adalah keterlibatan Indonesia dalam BOP bentukan Trump. Sebuah aliansi menjijikan yang membuat Indonesia duduk berdampingan dengan pelaku genosida Israel dan Amerika, dan dengan pongahnya mengatasnamakan kemanusiaan dan perdamaian untuk Palestina.
Keterlibatan ini melahirkan konsekuensi logis yang membuat bangsa ini melakukan normalisasi diplomatik dengan Israel. Walaupun pemerintah kerap kali membantah isu ini, namun lucunya tindak tanduk penguasa justru mensugesti ke arah normalisasi.
Statement Presiden Parabowo yang harus menjaga stabilitas keamanan adalah jejak digital yang menunjukkan haluan yang dipilih.
Namun, itu pilihan personal penguasanya saja. Karena mayoritas rakyat Indonesia jelas tidak akan pernah berpihak pada penjajah dan pelaku genosida yang bisa menghanguskan manusia dalam satu ledakan bom yang bersuhu 3500 derajat celcius.
Rakyat Indonesia berlepas diri dari kezaliman kebijakan penguasa yang mengatasnamakan bangsa. Karena kebijakan apapun yang saat ini berlangsung hingga detik ini tidak mencerminkan aspirasi rakyat.
Terlebih lagi, rakyat Indonesia yang masih memiliki iman dan hati nurani tidak akan sanggup mengkhianati saudaranya di Aceh, Sumatera, bahkan Palestina yang menderita untuk mendukung kebijakan problematik yang melukai mereka.
Rakyat sudah terlalu lelah dengan drama yang diciptakan para penguasa yang tidak bertanggungjawab. Dan rakyat juga sudah kehabisan tenaga untuk bertahan di tengah ketidakpastian hidup mulai dari ekonomi, pendidikan, kesehatan, kemanan dan perlindungan.
Namun, bagaimanapun kebenaran akan mencari jalannya. Di tengah gempuran kebijakan yang zalim, masih ada segelintir orang yang tetap bersuara, mewaraskan pemikiran, meluruskan pemahaman, dan membawa visi harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Mereka adalah bagian dari rakyat yang sama-sama merasakan kegetiran hidup dibawah kezaliman penguasa.
Hanya saja yang membedakan, mereka bukan rakyat biasa, mereka rakyat yang berani melakukan perubahan dengan menyampaikan kebenaran. Bukankah Rasulullah Saw pernah bersabda :
“jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” (HR Abu Dawud, At Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Hadis diatas menunjukkan urgensitas melawan kezaliman yang dilakukan penguasa. Karena keputusan penguasa akan mempengaruhi hajat hidup orang banyak.
Dalam Islam, penguasa berfungsi sebagai junnah atau perisai yang melindungi rakyat dibelakangnya. Dan kita semua bisa menyimpulkan sendiri apakah penguasa saat ini seperti perisai atau malah menjadi bumerang.
Sungguh, Ramadan tahun ini hampir-hampir menumbangkan setengah kewarasan kita, yang mestinya diliputi dengan suasana takwa. Semoga, ini menjadi Ramadan terakhir kita melihat rakyat menderita, digantikan dengan cahaya peradaban Islam yang akan mengulurkan kebaikan untuk semua manusia dimanapun berada.
Semoga Allah menyegerakan pertolongan dan janji kemenanganNya, agar tidak ada lagi luka dan duka yang diakibatkan penguasa zalim. Aamiin yaa rabbal alamiin.
Oleh: Sheila Nurazizah
Aktivis Muslimah

0 Komentar