Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pemudi Lompat dari Flyover: Alarm Krisis Ketahanan Keluarga dalam Sistem Sekuler


Topswara.com -- Masyarakat dikejutkan oleh berita seorang pemudi yang diduga melompat dari flyover di Banjarmasin. Peristiwa ini menjadi sorotan karena terjadi di ruang publik. Polisi menyebut adanya tekanan psikologis yang sangat berat karena persoalan keluarga (Media Detik.com, 2/03/2026).

Kasus ini bukan peristiwa tunggal. Data dari World Health Organization menunjukkan bahwa kasus bunuh diri masih menjadi persoalan serius di berbagai negara, termasuk Indonesia, dengan angka sekitar 3–4 kasus per 100.000 penduduk per tahun. 

Berbagai laporan juga menunjukkan bahwa konflik keluarga, tekanan ekonomi, dan masalah psikologis sering menjadi faktor yang berkaitan dengan tindakan tersebut.

Respons publik terhadap peristiwa seperti ini sering berhenti pada sisi sensasional, seperti kronologi kejadian atau dugaan penyebab personal. Padahal, tindakan ekstrem di ruang publik menunjukkan seseorang berada pada titik keputusasaan yang sangat berat. Karena itu, fenomena ini tidak cukup dipahami sebagai persoalan individu semata.

Fenomena percobaan bunuh diri juga berkaitan dengan cara sistem kehidupan memandang manusia dan keluarga. Dalam sistem sekuler, keluarga diposisikan sebagai urusan privat. Negara biasanya baru hadir ketika terjadi pelanggaran hukum, sementara konflik emosional dan tekanan batin dalam keluarga jarang disentuh kebijakan preventif.

Pendidikan pun lebih berorientasi pada pencapaian akademik dan kompetensi kerja, sementara pembinaan moral dan spiritual sering dianggap tanggung jawab individu. Akibatnya, ketika konflik keluarga terjadi, banyak remaja menghadapi tekanan tanpa sistem dukungan yang kuat.

Budaya sekuler juga mendorong pola hidup individualistik. Standar kesuksesan sering diukur dari capaian material, prestasi, dan citra sosial. Media sosial memperkuat standar ini dengan menampilkan kehidupan yang tampak sempurna. Ketika realitas hidup tidak sesuai ekspektasi—ditambah konflik keluarga—sebagian remaja merasa sendirian dan kehilangan tempat aman untuk berbagi.

Faktor ekonomi turut memperburuk kondisi tersebut. Tekanan hidup dan ketimpangan sosial kerap memicu konflik dalam rumah tangga yang kemudian berdampak pada kondisi psikologis anggota keluarga.

Karena itu, percobaan bunuh diri tidak sekadar persoalan psikologis individual. Ia mencerminkan krisis yang lebih luas: krisis makna hidup, melemahnya ikatan keluarga, serta hilangnya nilai agama sebagai sandaran kehidupan. Ketika hidup hanya diukur dengan standar duniawi, kegagalan dapat terasa seperti akhir segalanya.

Islam menawarkan pendekatan yang menyeluruh dalam membangun ketahanan individu, keluarga, dan masyarakat. Fondasi utamanya adalah penguatan akidah. Negara menjadikan keimanan sebagai basis pendidikan dan arah kehidupan. 

Sejak dini, generasi dididik untuk memahami bahwa hidup bukan sekadar mengejar keberhasilan duniawi, tetapi bagian dari ibadah kepada Allah dengan tujuan akhirat. Nilai tawakal, sabar, dan ridha ditanamkan sebagai sikap hidup ketika menghadapi ujian. Dengan fondasi ini, seseorang memiliki kepribadian yang kokoh untuk menghadapi kesulitan tanpa mudah terjerumus pada keputusasaan.

Sistem pendidikan dalam Islam juga tidak hanya mengejar prestasi akademik atau keterampilan kerja. Pendidikan diarahkan pada pembinaan kepribadian Islam. Remaja dibekali pemahaman tentang makna hidup, tanggung jawab sebagai hamba Allah, serta kemampuan mengelola emosi dan menghadapi masalah dengan perspektif iman. 

Dengan pembinaan seperti ini, ketahanan mental tidak hanya dibangun melalui teori, tetapi melalui pembentukan cara berpikir dan cara memandang kehidupan.

Di sisi lain, Islam menempatkan negara sebagai pihak yang bertanggung jawab memastikan kebutuhan dasar rakyat terpenuhi. Ketika kebutuhan hidup seperti pangan, sandang, papan, pendidikan, dan kesehatan terjamin, tekanan ekonomi yang sering memicu konflik keluarga dapat diminimalkan. 

Stabilitas ekonomi keluarga menjadi faktor penting dalam menjaga keharmonisan rumah tangga dan kesehatan mental anggota keluarga.

Selain itu, Islam membangun sistem dukungan sosial yang kuat di tengah masyarakat. Budaya amar makruf nahi mungkar menjadikan masyarakat tidak bersikap individualistik. Setiap orang didorong untuk peduli terhadap kondisi orang lain, termasuk tetangga dan lingkungan sekitar. 

Dengan adanya kepedulian sosial, individu yang sedang menghadapi masalah tidak dibiarkan sendirian menghadapi tekanan hidup.

Karena itu, peristiwa pemudi yang melompat dari flyover tidak hanya menjadi tragedi individual, tetapi juga pengingat tentang pentingnya membangun sistem kehidupan yang mampu menjaga ketahanan mental dan keluarga. 

Dalam negara Khilafah, pencegahan tidak dilakukan secara parsial, tetapi melalui integrasi antara penguatan akidah, sistem pendidikan yang membina kepribadian, jaminan ekonomi bagi rakyat, serta kontrol sosial yang hidup di tengah masyarakat. 

Dengan pendekatan menyeluruh ini, masyarakat memiliki fondasi spiritual, sosial, dan ekonomi yang kuat untuk menghadapi berbagai ujian kehidupan. []


Oleh: Zahida Ar-Rosyida
(Aktivis Muslimah Banua)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar