Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Krisis Kesehatan Jiwa Anak dan Kegagalan Sistem Sekuler Liberal


Topswara.com -- Belakangan ini pemerintah bersama sembilan kementerian dan lembaga menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang penanganan kesehatan jiwa anak. 

Kebijakan ini lahir sebagai respons terhadap meningkatnya kasus gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja, termasuk fenomena keinginan mengakhiri hidup.

Data yang dihimpun menunjukkan bahwa beberapa faktor utama yang mendorong anak mengalami tekanan mental adalah konflik keluarga, masalah psikologis, perundungan, dan tekanan akademik. 

Fenomena ini tentu sangat memprihatinkan karena anak-anak seharusnya tumbuh dalam lingkungan yang aman, penuh kasih sayang, dan memberikan harapan masa depan.

Namun meningkatnya krisis kesehatan mental anak bukan sekadar persoalan individu. Masalah ini sebenarnya merupakan gejala dari krisis sistem kehidupan yang sedang melanda masyarakat.

Dampak Sistem Sekuler Liberal

Hari ini dunia hidup dalam sistem sekuler liberal yang memisahkan agama dari kehidupan. Dalam sistem ini, nilai agama tidak lagi menjadi landasan utama dalam mengatur kehidupan manusia. Akibatnya, standar kebahagiaan dan kesuksesan diukur hanya dari pencapaian materi.

Anak-anak sejak kecil didorong untuk mengejar prestasi akademik, status sosial, dan keberhasilan ekonomi. Tekanan untuk menjadi “sukses” sering kali membuat anak merasa gagal ketika tidak mampu memenuhi standar tersebut.

Selain itu, sistem liberal juga membuka ruang yang sangat luas bagi pengaruh media dan budaya global yang tidak selalu sejalan dengan nilai moral. Media sosial, film, dan berbagai konten digital sering menampilkan gaya hidup hedonis, individualis, dan bebas nilai.

Akibatnya banyak anak kehilangan pegangan nilai dalam menjalani kehidupan.

Padahal Islam telah mengingatkan bahwa manusia membutuhkan petunjuk hidup agar tidak tersesat.

Allah SWT berfirman:
"Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku maka baginya kehidupan yang sempit."
(QS Thaha: 124)

Ayat ini menunjukkan bahwa menjauh dari petunjuk Allah akan membuat kehidupan manusia menjadi sempit, penuh tekanan, dan kehilangan makna.

Lemahnya Ketahanan Keluarga

Faktor konflik keluarga yang menjadi penyebab utama gangguan mental anak juga tidak bisa dilepaskan dari dampak sistem kehidupan sekuler.

Banyak keluarga hari ini menghadapi tekanan ekonomi, tuntutan pekerjaan, serta gaya hidup individualis yang mengikis kebersamaan. Hubungan antara orang tua dan anak sering kali menjadi renggang karena kurangnya waktu dan perhatian.

Padahal dalam Islam keluarga merupakan institusi penting dalam membentuk kepribadian anak.

Rasulullah SAW bersabda:
"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya."
(HR Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga dan mendidik anak. Pendidikan anak tidak hanya berkaitan dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan akidah, akhlak, dan ketahanan mental.

Ketika nilai-nilai Islam tidak lagi menjadi fondasi keluarga, anak akan kehilangan arah dalam menghadapi berbagai tekanan hidup.

Pendidikan Tanpa Landasan Akidah

Salah satu faktor yang juga memicu tekanan mental anak adalah sistem pendidikan yang tidak berpijak pada akidah Islam.

Sistem pendidikan saat ini cenderung menilai keberhasilan anak hanya dari prestasi akademik. Kompetisi yang sangat ketat membuat banyak anak merasa tertekan karena takut gagal.

Padahal dalam Islam pendidikan memiliki tujuan yang jauh lebih luas, yaitu membentuk kepribadian Islam yang kuat.

Pendidikan dalam Islam tidak hanya menekankan kecerdasan intelektual, tetapi juga pembentukan keimanan, ketakwaan, dan akhlak yang mulia. Dengan dasar keimanan yang kuat, anak akan memiliki ketahanan mental yang lebih baik dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS At-Tahrim: 6)

Ayat ini menunjukkan bahwa pendidikan keluarga dan masyarakat harus berorientasi pada pembentukan keimanan, bukan sekadar pencapaian duniawi.

Peran Negara dalam Islam

Dalam Islam, negara memiliki tanggung jawab besar untuk melindungi masyarakat dari kerusakan moral dan sosial. Negara tidak hanya berfungsi sebagai pengatur administrasi, tetapi juga sebagai pelindung umat.

Rasulullah SAW bersabda:
"Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya."
(HR Bukhari)

Hadis ini menegaskan bahwa negara harus menjadi penjaga bagi masyarakat, termasuk dalam melindungi anak-anak dari berbagai ancaman yang merusak.

Negara dalam sistem Islam akan memastikan bahwa pendidikan, media, ekonomi, dan sistem sosial berjalan sesuai dengan syariat Islam. Dengan demikian lingkungan masyarakat akan mendukung terbentuknya generasi yang sehat secara fisik maupun mental.

Media tidak akan dibiarkan menyebarkan konten yang merusak moral. Sistem pendidikan akan menanamkan akidah Islam sebagai fondasi utama. Sistem ekonomi juga akan mengurangi tekanan hidup masyarakat dengan memastikan distribusi kekayaan yang adil.

Semua kebijakan tersebut akan menciptakan lingkungan sosial yang sehat bagi pertumbuhan anak.

Solusi Sistem Islam

Krisis kesehatan mental anak yang terjadi hari ini menunjukkan bahwa pendekatan parsial tidak cukup untuk menyelesaikan masalah. Kebijakan administratif seperti SKB memang dapat menjadi langkah awal, tetapi tidak menyentuh akar persoalan.

Akar masalahnya adalah sistem kehidupan yang tidak berlandaskan pada wahyu Allah. Islam menawarkan solusi yang menyeluruh melalui sistem kehidupan yang menjadikan akidah sebagai landasan dalam mengatur seluruh aspek kehidupan. 

Dalam sistem Islam, keluarga, masyarakat, dan negara bekerja bersama untuk menciptakan lingkungan yang mendukung terbentuknya generasi yang kuat secara iman dan mental.

Dengan penerapan syariat Islam secara menyeluruh, nilai-nilai moral akan kembali menjadi fondasi kehidupan masyarakat.

Inilah yang akan menjadi benteng utama bagi anak-anak dalam menghadapi berbagai tekanan hidup di era modern. 

Wallahu a'lam bishshawab.


Oleh: Ema Darmawaty 
Praktisi Pendidikan
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar