Topswara.com -- Mudik, tradisi tahunan saat lebaran, seolah menjadi moment tahunan yang di lakukan masyarakat di perantauan untuk kembali ke kampung halaman, silaturahmi bersama keluarga, sanak saudara, saling mengunjungi dan saling melepas rindu.
Namun ada fenomena yang selalu terjadi setiap tahunnya dan seakan terus berulang, apa itu? Macet dan banyaknya kasus kecelakaan. Bagaimana ini bisa terjadi?
Seperti yang terjadi di jalur selatan Nagreg, mengalami peningkatan signifikan menjelang hari raya Idulfitri 2026, dan juga arus balik terpantau kemacetan panjang di sejumlah titik, terutama di kawasan Cicalengka dengan antrean kendaraan yang mengular hingga lima kilometer.
Lonjakan volume kendaraan pemudik menjadi penyebab utama, ditambah adanya penyempitan jalur di beberapa titik krusial. Selain itu juga banyaknya persimpangan menuju pemukiman warga serta aktivitas keluar masuk kendaraan di rest area turut membuat arus lalulintas tersendat.
Menurut data Dishub Kabupaten Bandung lebih dari 190 ribu kendaraan telah melintasi jalur selatan Nagreg pada puncak arus mudik tahun ini. Baik itu kendaraan pribadi maupun kendaraan umum juga sepeda motor dari arah Bandung dan Jakarta yang mendominasi jalur menuju Jawa Barat selatan hingga ke Jawa Tengah.
Kecelakaan dan kemacetan parah selalu mewarnai arus mudik dan juga arus balik, permasalahan ini selalu berulang setiap tahunnya, bahkan akibat dari kemacetan dan lakalantas memakan korban jiwa yang tidak sedikit. Dan ini harus menjadi bahan evaluasi pemerintah baik pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat. (Metrotvnews.com 19/03/2926).
Masalah kemacetan dan lakalantas saat mudik dari tahun ke tahun terus terjadi, dan pemerintah sendiri tidak ada upaya serius untuk mengatasinya.
Padahal setiap tahun volume kendaraan pemudik terus meningkat dan seharusnya ada upaya meningkatkan pelayanan dari pemerintah kepada masyarakat, dari mulai perluasan jalan, perbaikan jalan rusak dan lain-lain.
Selain itu juga permasalahan mudik erat kaitannya dengan minimnya layanan transportasi massal yang nyaman dan murah, sehingga jumlah kendaraan pribadi melampaui pertumbuhan panjang jalan.
Keinginan masyarakat terkait dengan mudik aman adalah negara hadir dalam mengatasi permasalahan kemacetan, dan lakalantas pada saat mudik ataupun bukan mudik, namun negara dalam sistem kapitalisme tidak mewujudkan fungsi raa'in yang mengurusi urusan rakyat. Dan negara justru abai menjamin keselamatan rakyat.
Berbeda halnya dengan Islam, Islam dengan sistem pemerintahannya yang menggunakan aturan dari sang Maha pencipta Allah SWT, yaitu sistem khilafah 'alaa minhajjin nubuwwah yang akan berfungsi sebagai raa'in yang mengurusi rakyat dan menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Apalagi terkait dengan masalah kemacetan dan lakalantas saat mudik.
Negara juga menyediakan layanan transportasi massal yang aman, nyaman dan murah dalam jumlah yang mencukupi, negara juga menyediakan jalan yang cukup, dan memperbaiki jalan yang rusak sehingga aman bagi pengguna jalan. Dan semua itu bisa terwujud hanya dengan diterapkannya aturan Islam secara menyeluruh dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiah.
Wallahualam Bishawab.
Oleh: Ade Siti Rohmah
Aktivis Muslimah

0 Komentar