Topswara.com -- Idulfitri bukan sekadar perayaan berakhirnya bulan Ramadhan, tetapi merupakan simbol kemenangan bagi umat Islam setelah menjalani proses panjang pendidikan ruhiyah dan jasadiyah.
Ramadhan tidak hanya menjadi bulan untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga bulan perjuangan untuk melatih kesabaran, mengendalikan hawa nafsu, serta memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Namun, kemenangan yang dirayakan saat Idulfitri sejatinya tidak boleh dipahami sebatas kemenangan individual. Lebih dari itu, Idulfitri seharusnya menjadi momentum refleksi atas perjuangan kolektif umat Islam dalam mengembalikan kemuliaan dan kejayaannya.
Hingga hari ini, perjuangan tersebut belum mencapai hasil yang hakiki. Umat Islam masih menghadapi berbagai tantangan besar, mulai dari keterpecahan dalam banyak negara hingga adanya sebagian pihak yang justru bersekutu dengan kekuatan yang tidak berpihak pada kepentingan umat.
Dalam realitas saat ini, kesadaran umat Islam dalam memaknai Ramadhan sebagai bulan perjuangan masih belum menyentuh aspek ideologis. Banyak aktivitas keagamaan yang dilakukan, tetapi lebih bersifat praktis dan pragmatis, belum mengarah pada upaya membangun kesadaran politik Islam secara menyeluruh.
Padahal, Islam tidak hanya mengatur aspek ibadah personal, tetapi juga kehidupan sosial, politik, dan peradaban.
Di sisi lain, posisi politik umat Islam di dunia masih cenderung lemah, meskipun Allah SWT telah memberikan predikat sebagai khoiru ummah (sebaik-baik umat). Ini menjadi paradoks yang harus disadari bersama.
Umat Islam memiliki potensi besar baik dari segi sumber daya manusia, kekayaan alam, maupun letak geografis yang sangat strategis. Bahkan, Islam sebagai ideologi memiliki kemampuan untuk mengatur kehidupan secara komprehensif. Sayangnya, potensi tersebut belum terkelola dengan baik dalam satu kesatuan visi dan kepemimpinan.
Oleh karena itu, perjuangan untuk meraih kemenangan hakiki membutuhkan langkah yang lebih serius dan terarah. Salah satu upaya yang sering didiskusikan adalah pentingnya keberadaan gerakan atau wadah politik Islam yang berlandaskan ideologi yang sahih, yang mampu mengarahkan umat menuju perubahan mendasar, bukan sekadar perubahan permukaan.
Dalam konteks ini, dakwah memiliki peran yang sangat penting. Prioritas dakwah ke depan adalah membangun kesadaran umat tentang pentingnya memahami Islam secara kaffah (menyeluruh), termasuk dalam aspek politik dan kehidupan bermasyarakat. Kesadaran ini diharapkan mampu melahirkan semangat persatuan yang lebih kuat dan terarah.
Persatuan umat Islam menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Bukan sekadar persatuan simbolik, tetapi persatuan hakiki yang dilandasi oleh visi dan tujuan yang sama.
Upaya ini membutuhkan kesungguhan, kerja sama, dan komitmen dari berbagai pihak yang benar-benar tulus memperjuangkan kemuliaan Islam dan kaum muslimin, bukan kepentingan sempit yang justru menjauhkan umat dari kebangkitan yang sejati.
Ramadan dan Idul Fitri seharusnya menjadi titik awal (starting point) untuk mengonsolidasi kekuatan umat. Momentum ini dapat dimanfaatkan untuk memperkuat ukhuwah, menyatukan langkah, serta membangun kesadaran kolektif akan pentingnya perjuangan jangka panjang.
Kemenangan yang sejati bukan hanya diraih setelah sebulan berpuasa, tetapi ketika umat Islam mampu bangkit, bersatu, dan kembali memegang peran penting dalam peradaban dunia.
Dengan demikian, Idulfitri bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari langkah yang lebih besar. Sebuah pengingat bahwa kemenangan hakiki membutuhkan usaha yang terus-menerus, kesadaran yang mendalam, dan persatuan yang kokoh di antara umat Islam.
Oleh: Lia Julianti
Aktivis Dakwah Tamansari Bogor

0 Komentar