Topswara.com -- Dalam perjalanan hidup seorang mukmin, ada satu jalan yang mulia namun tidak selalu mudah untuk ditempuh: jalan dakwah. Jalan ini bukan sekadar aktivitas berbicara tentang agama, tetapi sebuah jalan pengabdian kepada Allah, jalan menuntun manusia menuju cahaya kebenaran, dan jalan memperjuangkan nilai-nilai ilahi di tengah kehidupan.
Dakwah sejatinya bukan hanya tugas para ulama, tetapi merupakan amanah seluruh umat Islam sesuai kemampuan masing-masing. Allah SWT berfirman:
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung."
(QS. Ali Imran: 104)
Ayat ini menegaskan bahwa dakwah bukan sekadar pilihan, melainkan jalan kemuliaan bagi orang-orang yang ingin mendapatkan keberuntungan sejati.
Dakwah: Jalan Para Nabi dan Orang-Orang Shalih
Sejak awal sejarah manusia, para nabi diutus dengan satu misi besar: dakwah kepada tauhid. Mereka mengorbankan waktu, tenaga, bahkan keselamatan demi menyampaikan risalah Allah.
Nabi Nuh berdakwah ratusan tahun dengan kesabaran luar biasa. Nabi Ibrahim menghadapi penguasa tiran. Nabi Musa berhadapan dengan Fir’aun. Dan Nabi Muhammad SAW menghadapi penolakan, pengusiran, bahkan peperangan. Namun semua itu tidak menghentikan langkah mereka.
Rasulullah SAW bersabda: "Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat."
(HR. Bukhari)
Hadis ini mengandung pesan besar: dakwah adalah jalan hidup, bukan hanya kegiatan sesaat.
Menjadikan Dakwah sebagai Poros Kehidupan
Orang yang menjadikan dakwah sebagai poros hidupnya akan memandang seluruh aktivitas dunia sebagai ladang amal untuk menyebarkan kebaikan.
Ia bekerja, tetapi pekerjaannya menjadi sarana dakwah. Ia menulis, tetapi tulisannya menjadi cahaya bagi umat.
Ia berbicara, tetapi lisannya menjadi pengingat bagi manusia.
Inilah makna firman Allah: "Katakanlah: Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan penuh kesadaran."
(QS. Yusuf: 108)
Dakwah bukan sekadar retorika, melainkan jalan hidup yang penuh kesadaran spiritual.
Istiqamah: Kunci Keberhasilan Dakwah
Dalam perjalanan dakwah, tantangan pasti akan datang. Kadang dakwah ditolak, disalahpahami, bahkan dicemooh. Tetapi justru di situlah nilai istiqomah diuji.
Allah berfirman: "Maka tetaplah engkau (Muhammad) pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan."
(QS. Hud: 112)
Istiqamah berarti tetap berjalan di jalan Allah meskipun dunia tidak selalu mendukung. Orang yang istiamah dalam dakwah akan menyadari bahwa: Keberhasilan dakwah bukan diukur dari banyaknya pengikut. Keberhasilan dakwah adalah kesetiaan dalam menyampaikan kebenaran.
Sebagaimana firman Allah: "Tidaklah kewajiban Rasul kecuali menyampaikan."
(QS. Al-Ma'idah: 99)
Dakwah sebagai Jalan Kemuliaan Ruhani
Dalam perspektif sufistik, dakwah bukan hanya aktivitas sosial, tetapi juga proses penyucian jiwa.
Ketika seseorang menyeru manusia kepada Allah, sesungguhnya ia sedang mengingatkan dirinya sendiri. Ketika ia menasehati orang lain tentang keikhlasan, ia sedang belajar menjadi ikhlas. Ketika ia mengajak manusia bertakwa, ia sedang meneguhkan takwanya sendiri.
Para ulama mengatakan: Orang yang berdakwah kepada Allah sejatinya sedang menapaki jalan menuju Allah. Dakwah adalah jalan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa).
Dakwah: Amal yang Pahalanya Mengalir
Salah satu keutamaan dakwah adalah pahalanya terus mengalir selama kebaikan itu diamalkan oleh orang lain.
Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya."
(HR. Muslim)
Bayangkan jika satu kalimat dakwah kita membuat seseorang: mulai shalat, menutup aurat, membaca Al-Qur'an, atau kembali kepada Allah. Maka pahala itu akan terus mengalir, bahkan setelah kita meninggal dunia.
Jangan Lelah di Jalan Dakwah
Jalan dakwah memang panjang. Kadang terasa sunyi. Kadang terasa berat. Namun ingatlah satu hal: Allah tidak pernah menyia-nyiakan langkah orang-orang yang berjalan di jalan-Nya.
Allah berfirman: "Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, beramal shalih, dan berkata: sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim." (QS. Fussilat: 33). Ayat ini adalah penghormatan Allah kepada para pejuang dakwah.
Penutup: Dakwah sebagai Jalan Hidup
Wahai para pejuang dakwah, teruslah melangkah. Jika dunia tidak memahami perjuanganmu, ketahuilah bahwa Allah memahami niatmu. Jika manusia tidak menghargai usahamu, ketahuilah bahwa Allah mencatat setiap amalmu. Jadikan dakwah bukan sekadar aktivitas, tetapi nafas kehidupan.
Karena orang yang hidup untuk dakwah sejatinya sedang hidup untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi. Dan ketika kelak kita kembali kepada-Nya, semoga kita termasuk orang yang dipanggil dengan penuh kemuliaan: "Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah."
Itulah panggilan kehormatan bagi para da'i yang istiqamah.
Oleh: Dr. Nasrul Syarif M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa

0 Komentar