Topswara.com -- Lebaran tinggal menghitung hari. Di tengah kekhusyukan beribadah, masyarakat dihadapkan pada kenaikan harga bahan pangan.
Salah satu bahan pangan yang mengalami kenaikan adalah cabai rawit merah. Di Madiun, cabai rawit merah masih berada di atas harga eceran tertinggi (HET). Komoditas tersebut dijual seharga Rp80.000 per kilogram, sementara HET yang ditetapkan berada pada harga Rp57.000 per kilogram.
Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Madiun, Harum Kusumawati mengatakan kalau kenaikan harga cabai disebabkan oleh faktor cuaca. Curah hujan yang tinggi menyebabkan hasil panen menurun sehingga pasokan dari daerah penghasil berkurang.
Namun, Harum mengingatkan agar masyarakat tidak perlu melakukan panic buying karena stok masih aman. Untuk menjaga stabilitas harga, Disdag rutin melakukan pemantauan harga dan ketersediaan stok di pasar. Operasi pasar murah juga sudah disiapkan menjelang lebaran. (radarmadiun.jawapos.com, 14-3-2026)
Kenaikan harga menjelang lebaran selalu terjadi sebagaimana ketika menjelang Ramadan atau pada momen tertentu lainnya seperti natal dan tahun baru. Seolah menjadi tradisi, kenaikan harga ini tak dapat dihindari.
Tingginya permintaan dan faktor cuaca kerap kali dituding sebagai penyebabnya. Kondisi ini sebenarnya dapat diprediksi karena terjadi setiap tahun. Pemerintah mestinya menjadikannya pengalaman untuk dapat mengalkulasi stok bahan pangan guna mencukupi kebutuhan masyarakat dan memastikan kelancaran distribusinya.
Namun, hal itu diabaikan karena faktanya kenaikan harga terus terjadi setiap tahun. Tidak ada upaya khusus untuk meningkatkan produksi bahan pangan guna menjamin ketersediaan stok ketika permintan masyarakat meningkat.
Indonesia justru lebih bergantung pada impor. Mulai dari beras, daging, susu, kedelai, telur, cabai, hingga bawang merah dan putih semuanya impor dari luar.
Ketergantungan pada impor ini membuat Indonesia tidak memiliki ketahanan pangan. Akibatnya, ketika permintaan naik, tidak ada stok yang siap digunakan sehingga kelangkaan terjadi dan harga pun naik.
Masalah lainnya ada pada distribusi barang. Meski stok dikatakan aman, tetapi distribusi yang tidak lancar menyulitkan masyarakat mengakses barang-barang di pasaran. Akibatnya, harga barang pun melonjak.
Maraknya praktik monopoli, penimbunan, dan mafia impor turut membuat pasar terganggu. Monopoli membuat distribusi dan penentuan harga dikuasai oleh segelintir pihak, penimbunan menciptakan kelangkaan semu, sedangkan mafia impor mengacaukan keseimbangan pasokan.
Kondisi ini berkaitan dengan prinsip dalam sistem ekonomi kapitalisme yang memandang bahwa peran negara harus dibatasi hanya sebagai regulator dan pengawas untuk mewujudkan mekanisme pasar.
Dalam sistem ini, negara tidak menjadi pengurus rakyat dan mencukupkan diri dengan solusi populis seperti operasi pasar murah serta imbauan stabilitas stok dan harga sebagai peredam gejolak keresahan masyarakat.
Dengan demikian, masalah kenaikan harga menjelang lebaran merupakan masalah sistemis. Menyolusikannya dalam kerangka kapitalisme tidak akan menemui keberhasilan. Untuk itu, dibutuhkan sistem lain yang mumpuni, yakni sistem Islam yang aturannya bersumber dari Allah SWT.
Sebagai agama yang sempurna, Islam tidak hanya mengurusi ibadah, tetapi juga mengatur dalam bermuamalah. Islam memiliki seperangkat aturan untuk mengatur seluruh urusan manusia, termasuk masalah harga.
Dalam sistem Islam, negara memiliki peran sebagai pelayan rakyat. Negara hadir untuk mengurusi rakyatnya dengan maksimal.
Berkenaan dengan harga barang, negara akan mengaturnya sesuai regulasi syariat. Negara melarang adanya praktik-praktik yang melanggar syariat seperti monopoli, penimbunan, kecurangan, permainan harga, dan mafia impor. Selain haram, praktik tersebut dapat merusak keseimbangan permintaan dan penawaran di pasar.
Dalam rangka menjamin ketersediaan bahan pangan di pasaran, negara akan meningkatkan produksi pangan lokal. Negara akan memberikan dukungan penuh kepada para petani yang bisa berupa lahan, bibit, pupuk, obat pembasmi hama, pengairan.
Negara juga akan memberi subsidi dan hibah kepada petani sehingga produksi pangan berjalan optimal. Semua bantuan tersebut terlaksana karena ada dukungan dari Baitulmal yang memiliki sumber pemasukan melimpah seperti sektor tambang dan SDA milik umum.
Dengan begitu, produksi pangan dapat mencukupi kebutuhan masyarakat sehari-hari serta stok untuk kondisi darurat. Ketahanan pangan pun dapat terwujud.
Pada momen-momen tertentu seperti Ramadan dan lebaran, pemerintah akan menyediakan suplai lebih banyak demi mengantisipasi kekurangan bahan pangan. Jika stok tidak mencukupi, negara boleh mengimpor secukupnya dan tidak menjadikannya sebagai ketergantungan.
Penerapan sistem ekonomi Islam mampu menjamin terpenuhinya kebutuhan rakyat atas pangan dengan harga murah dan akses yang mudah. Dengan aturan Islam kaffah, kehidupan rakyat akan terjamin di seluruh aspek secara berkualitas.
Oleh: Nurcahyani
Aktivis Muslimah

0 Komentar