Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Hati yang Tak Siap Menerima Takdir Akan Terus Terluka


Topswara.com -- Ada satu hal yang sering membuat manusia terus terluka, bukan karena ujian itu terlalu berat, tetapi karena hati tidak siap menerima takdir.

Kita ingin semuanya berjalan sesuai keinginan. Kita ingin orang yang kita cintai selalu setia. Kita ingin kebaikan dibalas dengan kebaikan. Kita ingin dunia bersikap adil kepada kita. Namun hidup tidak selalu seperti itu.

Ada pengkhianatan.
Ada kebohongan. Ada luka yang datang dari orang yang pernah kita percaya.

Di titik itulah banyak orang terjatuh. Bukan karena masalahnya terlalu besar, tetapi karena hatinya terlalu sibuk melawan takdir. Padahal dalam Islam, iman kepada takdir adalah salah satu pilar keimanan. 

Artinya, seorang mukmin tidak hanya percaya bahwa Allah menciptakan kehidupan, tetapi juga percaya bahwa setiap kejadian yang menimpa dirinya berada dalam ilmu dan hikmah Allah.

Masalahnya, manusia sering lebih sibuk mengingat manusia daripada mengingat Allah.

Padahal aku sering berkata dalam hati, "Ingatlah Allah, karena Dia obatnya. Jangan terlalu sibuk mengingat manusia, karena sering kali mereka hanya menjadi sumber lukanya."

Bukan berarti manusia selalu jahat. Tidak. Tetapi manusia adalah makhluk yang lemah. Ia bisa berubah, bisa salah, bisa mengecewakan. Karena itu menggantungkan ketenangan hati kepada manusia adalah keputusan yang berbahaya.

Syaikh Ibnu Atha’illah As-Sakandari dalam Al-Hikam pernah mengingatkan dengan kalimat yang sangat dalam, "Istirahatkan dirimu dari mengatur urusanmu sendiri, karena apa yang telah diatur oleh Allah untukmu tidak perlu lagi kamu sibukkan dengan pengaturanmu."

Kalimat ini sederhana, tetapi maknanya luas. Sering kali kita terluka bukan karena kejadian itu sendiri, tetapi karena kita terus memaksakan sesuatu yang tidak Allah tetapkan.

Kita memaksa hubungan yang sudah selesai. Kita memaksa orang yang sudah berubah. Kita memaksa keadaan yang sudah jelas bukan jalan kita. Padahal jika kita mau berdamai dengan takdir, hati justru menjadi lebih ringan.

Aku sering berkata pada diriku sendiri, "Lebih baik disakiti daripada menyakiti. Lebih baik dikhianati daripada mengkhianati. Lebih baik dibohongi daripada membohongi."

Kenapa? Karena dalam catatan Allah, semua akan dihitung. Segala “me” akan dihisab. Tetapi segala “di” bisa menjadi penghapus dosa.

Memukul orang akan dihisab. Tetapi dipukul dengan sabar bisa menjadi pahala. Mengkhianati orang akan dihisab. Tetapi dikhianati dengan sabar bisa menjadi pengangkat derajat. Membohongi orang akan dihisab. Tetapi dibohongi dengan hati yang tetap bersih bisa menjadi penggugur dosa.

Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, kesusahan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, kecuali Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, setiap luka yang kita tahan dengan sabar sebenarnya sedang bekerja membersihkan dosa-dosa kita. Namun sabar bukan berarti lemah. Sabar adalah kekuatan hati untuk tetap taat ketika emosi ingin membalas.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa sabar adalah kemampuan jiwa untuk menahan dorongan amarah dan hawa nafsu ketika keduanya ingin melampaui batas. Orang yang sabar bukan orang yang tidak punya emosi, tetapi orang yang mampu menundukkan emosinya kepada perintah Allah. Di sinilah letak keindahan iman.

Orang yang sabar tidak hidup untuk membalas manusia. Ia hidup untuk menjaga hubungannya dengan Allah. Maka ketika ada yang menyakitinya, ia tidak sibuk merancang balasan. Ia sibuk menjaga hatinya agar tetap bersih.

Karena ia tahu satu hal bahwa balasan manusia mungkin terbatas, tetapi balasan Allah tidak pernah salah alamat.

Ibnu Atha’illah juga berkata, "Janganlah keterlambatan pemberian Allah membuatmu putus asa, karena Allah menjamin untukmu pengabulan doa sesuai dengan pilihan-Nya, bukan pilihanmu."

Kadang Allah tidak langsung mengangkat luka kita. Bukan karena Dia tidak peduli, tetapi karena Dia sedang menaikkan derajat kita.

Ada luka yang datang untuk menghapus dosa.
Ada pengkhianatan yang datang untuk menguatkan iman.
Ada kekecewaan yang datang untuk mengingatkan kita agar kembali kepada Allah.

Maka berdamailah dengan takdir. Bukan berarti menyerah. Tetapi menerima bahwa tidak semua hal harus kita menangkan. Kadang kemenangan terbesar adalah ketika hati tetap bersih meski dunia memperlakukan kita tidak adil.

Karena pada akhirnya, hidup ini bukan tentang siapa yang paling banyak menang melawan manusia. Hidup ini tentang siapa yang paling bersih ketika berdiri di hadapan Allah. []


Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar