Topswara.com -- Publik kembali dihebohkan dengan kasus kekerasan oleh seorang mahasiswa Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau. Bagaimana tidak, aksi penganiayaan yang berujung kekerasan tersebut hampir menghilangkan nyawa karena dilakukan menggunakan senjata tajam (kapak).
Peristiwa ini terjadi pada Kamis pagi, 26 Februari 2026, dengan korban FAP (23) yang sedang menunggu giliran sidang seminar proposal skripsi diserang secara tiba-tiba oleh seorang rekan kampusnya berinisial RM (21) menggunakan senjata tajam berupa kapak yang sudah dipersiapkan dari rumah. Penyerangan ini menyebabkan luka serius di bagian kepala dan lengan korban (metrotvnews.com, 2/3/2026).
Berdasarkan investigasi, Kabid Humas Polda Riau, Kombes Zahwani Pandra Arsyad, menyampaikan bahwa korban dan terduga pelaku telah saling mengenal sebelumnya melalui acara KKN Kampus. Pelaku merasa sakit hati kepada korban karena merasa cintanya tidak terbalas.
Dari penelusuran di media sosial pelaku, ternyata keduanya memang memiliki hubungan asmara dan sudah melakukan hal-hal yang menjurus ke arah pergaulan bebas, seperti jalan berdua dan berciuman. Akibat ulahnya ini, pelaku dikenakan sanksi pasal penganiayaan dengan ancaman hukuman hingga 12 tahun penjara (liputan6.com, 28/2/2026).
Sekularisme Legalkan Gaul Bebas
Sekularisme adalah paham yang memisahkan agama dari kehidupan publik, termasuk dalam sistem pergaulan. Nilai benar dan salah tidak lagi disandarkan pada norma agama, tetapi pada kebebasan individu.
Sekularisme menjadikan interaksi laki-laki dan perempuan dipandang sebagai urusan privat selama ada persetujuan kedua belah pihak, sementara aturan agama tidak lagi menjadi rujukan utama.
Ketika prinsip ini menguat dalam suatu masyarakat, standar moral cenderung menjadi relatif, perilaku dinilai berdasarkan kesepakatan atau tren.
Oleh karena itu, pacaran (yang notabenenya dilarang oleh agama) banyak dilakukan oleh remaja saat ini karena hal tersebut sudah dianggap sebuah kewajaran di masyarakat.
Maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja memang disebabkan oleh banyak faktor yang awalnya dipicu oleh paham sekuler ini. Dari segi individu dan keluarga seperti kurangnya literasi agama dan lemahnya pengawasan keluarga.
Dari segi masyarakat dan lingkungan seperti, tekanan teman sebaya, pergaulan yang menormalisasikan nilai nilai kebebasan dan mewajarkan pacaran.
Serta dari segi aturan negara yang sifatnya lebih sistemis seperti kegagalan sistem pendidikan untuk mencetak generasi mulia, kontrol media yang memberikan kebebasan akses tanpa filter, dan aturan sistem pergaulan yang tidak menyentuh ranah interaksi lawan jenis.
Islam Solusi Gaul Bebas
Islam memberikan solusi terhadap masalah pergaulan bebas dengan menetapkan batasan yang jelas antara laki-laki dan perempuan. Dalam Islam, pergaulan harus dijaga dengan aturan seperti menutup aurat, menjaga pandangan, dan tidak berduaan di tempat sepi.
Hal ini bukan untuk membatasi kebebasan, tetapi untuk melindungi kehormatan dan mencegah terjadinya hal-hal yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Selain itu, Islam menguatkan remaja dari dalam melalui penanaman iman dan rasa takut kepada Allah SWT melalui sistem pendidikan yang komprehensif. Upaya pembinaan ini akan mewujudkan generasi yang menyadari bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan, ia akan lebih berhati-hati dalam bersikap.
Nilai seperti malu, menjaga diri, dan menghormati lawan jenis diajarkan sejak dini baik di lingkungan keluarga maupun pendidikan formal agar menjadi karakter yang kuat dalam kehidupan sehari-hari.
Aturan Islam juga memberikan jalan yang halal dan terhormat untuk menyalurkan perasaan, yaitu melalui pernikahan bukan pacaran. Jika belum mampu menikah, maka dianjurkan untuk menjaga diri, memperbanyak ibadah, dan memilih lingkungan pertemanan yang baik.
Dengan aturan yang jelas, mulai dari pembinaan ketakwaan individu, aturan tegas di masyarakat serta aturan praktis oleh negara, Islam hadir sebagai sistem yang menjaga kehormatan individu sekaligus kebaikan masyarakat. []
Oleh: Rizky Dewi Iswari
(Aktivis Muslimah)

0 Komentar