Topswara.com -- Setiapkali Gaza dibom, yang dibahas pertama bukan siapa pelakunya, tetapi gencatan senjata. Seolah itu obat mujarab.
Padahal kejadian yang sama terus berulang. Gencatan diumumkan, dunia lega, lalu beberapa hari kemudian bom jatuh lagi. Polanya itu terus. Tidak berubah.
Dan itu bukan asumsi. Itu kejadian. Bahkan media sendiri mencatat, CNN Indonesia, 5 Februari 2026, Israel melanggar gencatan senjata dan kembali membombardir Gaza sampai menewaskan puluhan warga.
Tetapi setelah itu, ya sudah. Dunia lanjut hidup. Berita berganti. Timeline bergeser.
Ini yang bikin aneh. Semua tahu Israel sering melanggar. Tetapi tetap saja gencatan senjata dijual lagi dan lagi. AS tampil sebagai penengah, pembawa damai.
Padahal dia juga yang berdiri paling depan melindungi Israel. Jadi sebenarnya siapa yang sedang menipu siapa. Atau jangan-jangan semua sudah tahu, tetapi memilih diam.
Gencatan senjata itu terdengar pintar. Kedengarannya dewasa. Seperti jalan tengah. Tetapi di lapangan, itu cuma jeda. Jeda sebelum serangan berikutnya. Bukan perdamaian. Kalau memang perdamaian, harusnya pelanggaran dihentikan, bukan dimaklumi, bukan dimaafkan berulang kali.
Yang bikin tambah sesak, penguasa negeri-negeri Muslim malah ikut masuk ke logika itu. Alasannya klasik. Demi keamanan kawasan. Demi mencegah perang meluas.
Tetapi perang sudah meluas sejak lama, hanya saja korbannya Palestina, jadi dianggap wajar. Ada yang diam, ada yang pura-pura netral, ada juga yang sibuk menjaga hubungan baik.
Di sini umat sering disuruh sabar. Disuruh percaya proses. Disuruh tunggu hasil diplomasi. Tetapi yang ditunggu selalu sama. Bom berikutnya. Korban berikutnya. Lalu pernyataan berikutnya.
Kalau setiap pelanggaran hanya dibalas dengan pernyataan, ya jelas pesan yang sampai ke penjajah, lanjutkan saja. Tidak ada harga yang harus dibayar. Tidak ada konsekuensi yang nyata.
Karena itu sikap umat sebenarnya harus jelas. Bukan setengah-setengah. Bukan sekadar prihatin. Zero toleran terhadap narasi perdamaian yang datang dari pihak yang berulang kali mengingkari janji. Kalau pelanggaran dianggap normal, maka gencatan senjata itu cuma formalitas, bukan solusi.
Masalah lain yang tidak bisa dihindari, umat ini terpecah. Negara jalan sendiri, ada kepentingan sendiri, penguasa sibuk jaga posisi. Sementara penjajah rapi. Satu arah. Satu kepentingan. Ini bukan soal kuat atau lemah, tetapi soal bersatu atau tidak.
Karena itu isu kesatuan umat dalam politik dan kepemimpinan selalu muncul. Bukan karena romantisme masa lalu, tetapi karena kondisi sekarang gagal melindungi umat. Gaza jadi bukti paling nyata. Tanpa kesatuan arah, tekanan dari AS dan sekutunya selalu efektif. Penguasa lebih takut sanksi daripada murka rakyatnya sendiri.
Soal jihad, soal khilafah, sering langsung dipelintir. Langsung dicap macam-macam. Padahal yang dibicarakan intinya tanggung jawab, keberpihakan, dan arah kepemimpinan. Membela yang tertindas itu bukan gagasan aneh dalam Islam. Yang aneh justru ketika penguasa Muslim lebih nyaman berdiri netral di hadapan penjajahan.
Selama umat tidak dipahamkan bahwa akar masalahnya bukan lagi gencatan senjata, tetapi adanya penjajahan, semua akan berputar di lingkar yang sama. Tidak ke mana-mana. Hari ini damai. Besok dilanggar. Lusa dikutuk. Minggu depan lupa. Dan Gaza, lagi-lagi, yang membayar semuanya.
Wallahu'lam bishawab.
Oleh: Nilam Astriati
Aktivis Muslimah

0 Komentar