Topswara.com -- A. Luka Bukan Akhir, Tetapi Awal Pembersihan
Tidak ada jiwa yang dewasa tanpa ujian. Tidak ada hati yang bercahaya tanpa pernah retak. Luka bukan tanda Allah membenci, tetapi tanda Allah sedang mendidik.
Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam konsep tazkiyatun nafs, hati manusia itu seperti cermin. Ia bisa tertutup debu ambisi, cinta dunia, dan ketergantungan pada makhluk. Ujian adalah proses pengelapan cermin itu.
Seringkali yang membuat kita sulit move on bukan peristiwanya, tetapi ego yang terluka. Kita tidak kehilangan orangnya kita kehilangan harapan yang kita bangun sendiri. Padahal Allah sedang menggeser arah hidup kita.
B. Vision: Mengganti Tujuan Dunia dengan Orientasi Akhirat
Move on sejati dimulai dari koreksi visi.
Selama visi hidup masih berporos pada manusia, maka kecewa akan terus berulang. Tetapi ketika visi diarahkan pada ridha Allah, maka semua peristiwa menjadi jalan.
Ibn Qayyim al-Jawziyya menegaskan bahwa hati tidak akan pernah tenang kecuali ketika kembali kepada Allah. Maka orientasi hidup seorang mukmin adalah:
Bukan sekadar sukses, tetapi berkah. Bukan sekadar dicintai manusia, tetapi dicintai Allah. Bukan sekadar berhasil, tetapi diridhai
Allah berfirman dalam QS. Al-Insyirah:
"Fa inna ma'al 'usri yusra" sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Ayat ini bukan sekadar hiburan. Ia adalah ideologi optimisme tauhid.
C. Action: Amal sebagai Terapi Jiwa
Kesedihan yang dibiarkan tanpa amal akan berubah menjadi keputusasaan. Maka bergerak adalah kewajiban spiritual.
Hasan al-Basri pernah berkata:
"Iman itu bukan angan-angan, tetapi apa yang tertanam di hati dan dibuktikan dengan amal."
Action dalam perspektif hijrah ruhani adalah: pertama, memperbaiki kualitas shalat. Kedua, menghidupkan tahajud. Ketiga, memperbanyak tilawah. Keempat, menambah sedekah. Kelima, menguatkan silaturahim.
Gerakan amal akan menggeser fokus hati dari kehilangan menuju pengabdian. Diam terlalu lama dalam luka adalah bentuk ketidakpercayaan pada takdir Allah.
D. Passion: Mengubah Luka Menjadi Energi Dakwah
Banyak tokoh besar lahir dari kepedihan.
Ibn Taymiyyah menulis karya-karya monumental justru dalam penjara.
Jalaluddin Rumi melahirkan syair-syair agung setelah perpisahan dengan gurunya.
Luka bisa menjadi bahan bakar. Passion ruhani adalah ketika kita berkata:
“Jika Allah mengujiku, pasti Dia sedang menyiapkanku.”
Ubah kesedihan menjadi karya.
Ubah kekecewaan menjadi kontribusi.
Ubah kehilangan menjadi kedalaman.
E. Collaboration: Bangkit Bersama Jamaah Shalih
Setan paling mudah menyerang hati yang sendirian. Maka move on juga berarti berpindah lingkungan. Dari lingkungan yang mengingatkan luka, menuju lingkungan yang mengingatkan Allah.
Carilah: Majelis ilmu, lingkaran tahfizh, komunitas dakwah, sahabat yang menguatkan iman, lingkungan adalah rahim peradaban jiwa.
F. Hakikat Move On: Ridha atas Qadha dan Qadar
Move on bukan melupakan. Move on adalah menerima. Move on bukan meniadakan memori. Move on adalah mengikhlaskan takdir.
Rabi'ah al-Adawiyah mengajarkan cinta yang murni kepada Allah cinta yang tidak bergantung pada keadaan. Jika cinta kepada Allah lebih besar daripada cinta kepada makhluk, maka kehilangan tidak lagi menghancurkan.
Penutup Bab: Bangkit dengan Tauhid
Hidup ini bukan tentang siapa yang tinggal dan siapa yang pergi.
Hidup ini tentang apakah iman kita bertambah atau berkurang.
Bangkitlah.
Karena Allah tidak pernah salah dalam menetapkan.
Bangkitlah.
Karena setiap ujian adalah seleksi kenaikan derajat.
Bangkitlah.
Karena masa depan seorang mukmin selalu lebih baik selama ia bersama Allah.
Move on adalah hijrah.
Hijrah adalah perubahan.
Dan perubahan adalah tanda kehidupan.
Oleh: Dr. Nasrul Syarif M.Si.
Penulis. Akademisi. Konsultan Pendidikan dan SDM

0 Komentar