Topswara.com -- Berkah itu makhluk unik. Ia tidak selalu datang membawa angka besar, saldo tebal, atau penghasilan fantastis. Kadang ia hadir dalam bentuk yang sangat sederhana, seperti rasa cukup.
Aneh tapi nyata, ketika hidup diberkahi, gaji segitu-segitu saja terasa lapang, kebutuhan kok ya bisa terpenuhi, masalah silih berganti tapi hati tetap tenang. Sebaliknya, tanpa berkah, uang banyak pun rasanya selalu kurang, hidup tampak mewah tapi batin tetap gelisah.
Itulah keajaiban berkah. Ia tidak menambah jumlah, tetapi menambah ketenangan. Ia tidak memperbesar angka, tapi memperluas rasa syukur.
Coba kita jujur sebentar. Pernah kan melihat orang yang penghasilannya biasa saja, tetapi hidupnya adem, anak-anaknya sehat, rumah tangganya hangat, dan wajahnya selalu tenang?
Sebaliknya, ada pula yang penghasilannya fantastis, tetapi hidupnya ribut, penuh drama, cemas berlebih, sakit-sakitan, muka kusut, pandangan mata kosong walaupun ditempat ramai dan tak pernah puas.
Di sinilah kita belajar, yang mahal dalam hidup bukan banyaknya harta, tetapi hadirnya berkah.
Syaikh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari berkata dalam Al-Hikam, “Jangan heran jika Allah memberi rezeki yang sedikit namun mencukupi, dan jangan kagum jika Dia memberi rezeki yang banyak namun tidak menenangkan.”
Kalimat ini seperti tamparan lembut. Sebab sering kali kita sibuk mengejar jumlah, lupa mencari berkah. Kita sibuk menghitung rupiah, tapi lalai menghitung rasa syukur.
Berkah itu bekerja diam-diam. Ia menyelinap ke dalam waktu, membuat hari yang sempit terasa cukup. Pekerjaan menumpuk, deadline mepet, tenaga pas-pasan, tetapi entah bagaimana semuanya selesai tepat waktu. Kepala tetap waras, hati tetap damai. Ini bukan soal manajemen waktu semata, tapi soal sentuhan berkah.
Ada orang yang seharian sibuk tetapi hasilnya nihil. Ada pula yang waktunya terbatas, tetapi produktivitasnya luar biasa. Yang satu kelelahan tanpa makna, yang lain letih tapi penuh keberkahan.
Syaikh Ibnu ‘Atha’illah juga mengingatkan, “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagimu, Dia akan membukakan bagimu pintu amal, lalu Dia jadikan amal itu diterima.”
Artinya, bukan banyaknya aktivitas yang menentukan nilai hidup, tetapi diterima atau tidaknya amal kita di sisi Allah. Dan diterimanya amal inilah yang melahirkan berkah.
Berkah juga bekerja di ranah emosi. Hidup tidak selalu mulus. Masalah tetap datang, ujian tetap menghampiri, luka tetap terasa. Namun hati tidak gampang rapuh. Kita tetap bisa tersenyum, tetap bisa bangkit, tetap bisa waras. Itu pun berkah.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati yang dipenuhi syukur akan merasakan kenikmatan meski dalam keterbatasan. Sebaliknya, hati yang dipenuhi ambisi akan selalu merasa kurang meski berlimpah. Maka, berkah sangat erat kaitannya dengan kondisi batin.
Kadang Allah tidak menambah hartamu, karena jika hartamu ditambah, bisa jadi imanmu berkurang. Kadang Allah tidak memperluas bisnismu, karena jika bisnismu melebar, bisa jadi waktumu untuk-Nya menyempit. Allah Maha Tahu mana yang paling aman untuk iman kita.
Berkah juga terasa dalam relasi. Ada rumah tangga yang sederhana, tetapi hangat dan penuh cinta. Ada pula yang bergelimang materi, tetapi dingin dan penuh luka. Lagi-lagi, bukan soal fasilitas, tetapi soal berkah.
Syaikh Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa keberkahan hidup lahir dari ketaatan dan kebersihan hati. Ketika hati bersih dari dengki, iri, dan rakus, Allah turunkan ketenangan. Dan ketenangan itulah inti berkah.
Makanya, jangan heran kalau ada orang yang hidupnya tampak biasa, tetapi wajahnya selalu cerah. Rezekinya tidak meledak-ledak, tetapi senyumnya tulus. Itu tanda hidupnya disentuh berkah.
Berkah juga mengajarkan kita tentang makna cukup. Cukup bukan berarti berhenti berusaha, tapi berhenti mengeluh. Cukup bukan berarti malas, tapi tidak serakah. Cukup adalah ketika hati berkata, “Ya Allah, terima kasih. Ini sudah lebih dari cukup bagiku.”
Di zaman flexing seperti sekarang, berkah terasa semakin langka. Orang berlomba memamerkan jumlah, lupa merawat rasa. Pamer saldo, pamer liburan, pamer gaya hidup, tetapi lupa memamerkan syukur. Padahal, hidup yang tenang jauh lebih mahal daripada hidup yang terlihat mewah.
Syaikh Ibnu ‘Atha’illah berkata lagi,
“Tenangnya hati bukan karena menguasai keadaan, tetapi karena menyerahkan diri kepada Allah.”
Inilah rahasia besar berkah, tawakal. Ketika kita bersandar penuh kepada Allah, hati menjadi ringan. Kita bekerja, berusaha, berkarya, tetapi tidak menggantungkan hasil pada manusia. Hasil diserahkan kepada Allah. Dari sinilah lahir ketenangan, dan dari ketenangan lahir berkah.
Berkah membuat hidup terasa pas. Tidak berlebihan, tidak kekurangan. Semua berjalan sesuai porsinya. Ada lelah, tetapi tidak putus asa. Ada masalah, tapi tidak tenggelam. Ada keterbatasan, tapi tetap bersyukur.
Maka, jika hari ini hidupmu terasa sederhana tapi hatimu tenang, jangan minder. Bisa jadi engkau sedang hidup dalam pelukan berkah dan itu jauh lebih mahal daripada sekadar angka di rekening.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa damai kita menjalaninya dan di situlah letak keindahan berkah, yaitu tidak menambah jumlah, tetapi menambah rasa cukup. []
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar